Soal Rasialisme, Eks Bek Timnas Inggris Terusik Julukan "Raja Bling"

Kompas.com - 09/06/2020, 20:35 WIB
Gelandang Bayern Muenchen, Franck Ribery (kanan), meringis kesakitan setelah berjibaku dengan bek Manchester City, Micah Richards, dalam laga fase Grup D di Etihad Stadium, Manchester, Rabu (2/10/2013). Bayern menang 3-1 dan Ribery mencetak gol pertama The Bavarian. AFP/ANDREW YATESGelandang Bayern Muenchen, Franck Ribery (kanan), meringis kesakitan setelah berjibaku dengan bek Manchester City, Micah Richards, dalam laga fase Grup D di Etihad Stadium, Manchester, Rabu (2/10/2013). Bayern menang 3-1 dan Ribery mencetak gol pertama The Bavarian.
|

KOMPAS.com - Mantan bek timnas Inggris, Micah Richards, mengatakan, dia pernah dicap tak adil karena memamerkan kekayaan dalam kariernya, terkait dengan rasnya.

Micah Richards, yang pernah membela Manchester City dan Aston Villa, mengatakan, dia dijuluki "Raja Bling" (terkait gaya atau sikap materialistis) oleh media karena membeli mobil mahal.

Richards mengatakan, penilaian tersebut pun "memaksa" dia untuk mengubah perilakunya.

"Saya mendapati diri saya harus bertindak dengan cara tertentu hanya untuk menyesuaikan diri sehingga orang tidak akan menilai saya," kata Richards, dikutip dari BBC Sports, Selasa (9/6/2020).

"(Saat itu) saya baru saja bermain untuk timnas Inggris, saya berkulit hitam, saya memiliki Audi dan Range Rover. Ada beberapa cerita yang beredar tentang saya dan saya diberi label 'Raja Bling'," ujarnya.

"Namun, setiap minggu, ada sebuah cerita tentang saya yang mengatakan saya tidak berkonsentrasi pada sepak bola dan saya butuh enam atau tujuh tahun untuk melepaskan 'anggapan' itu," tuturnya.

Baca juga: Lawan Rasialisme, Beri Kesempatan Orang Kulit Hitam untuk Melatih...

Aksi menentang atau melawan tindakan rasial kini tengah mengemuka seusai meninggalnya George Floyd.

George Floyd adalah pria etnis Afrika-Amerika yang meninggal dunia akibat kekerasan kepolisian Amerika Serikat.

Pria berusia 46 tahun itu tewas setelah lehernya ditindih lutut polisi di Minneapolis, Minnesota, Amerika Serikat, pada 25 Mei lalu.

Kematian George Floyd kemudian memantik demonstrasi besar-besaran di Amerika Serikat dan diikuti negara-negara lain, termasuk di dunia olahraga.

Halaman:


Sumber BBC
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X