Kongres PSSI, Akhiri Lingkaran Setan atau Bakal Sama Saja?

Kompas.com - 01/11/2019, 19:12 WIB
Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi (kiri) menyerahkan bendera organisasi sepak bola Indonesia kepada Wakil Ketua Umum PSSI Djoko Driyono seusai menyatakan pengunduran diri dalam pembukaan Kongres PSSI 2019 di Nusa Dua, Bali, Minggu (20/1/2019). ANTARA FOTO/NYOMAN BUDHIANAKetua Umum PSSI Edy Rahmayadi (kiri) menyerahkan bendera organisasi sepak bola Indonesia kepada Wakil Ketua Umum PSSI Djoko Driyono seusai menyatakan pengunduran diri dalam pembukaan Kongres PSSI 2019 di Nusa Dua, Bali, Minggu (20/1/2019).

Bernhard ingin membuat kawah candradimuka bagi para pemain lokal di Papua, sementara Benny ingin mewajibkan setiap klub memiliki akademi untuk mencetak pemain baru.

Para calon juga mencoba mencari solusi untuk mengatasi persoalan "menahun" sepak bola nasional, seperti skandal pengaturan skor, kerusuhan suporter, hingga jebloknya prestasi tim nasional.

"Soal pengaturan skor jangan dilihat puncaknya saja, lihat juga prosesnya. Pangkas dari akarnya sehingga bisa hilang," ucap Yesayas Oktavianus, dilansir harian Kompas, Kamis (31/10/2019).

Baca juga: Pengurus PSSI Diminta Tidak Punya Jabatan di Klub

Situasi Jelang KLB PSSI

Alih-alih berita positif yang muncul, pra-kondisi KLB PSSI justru dijejali kabar yang kurang mengenakkan.

Ada kubu yang menginginkan Kongres tetap dipercepat pada 2 November, ada pula kubu yang ingin KLB tetap berlangsung pada Januari 2020 sesuai ketetapan FIFA.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Polemik tersebut telah membuat La Nyalla Mahmud Mattalitti memutuskan untuk menarik diri.

"Pak La Nyalla sudah buat statement beliau menolak Kongres 2 November, menarik dirilah dari Kongres 2 November karena dianggap tidak sesuai dengan arahan FIFA yang menginginkan Januari (2020)," kata salah satu calon ketua umum lainnya, Vijaya Fitriyasa.

Vijaya menilai keputusan La Nyalla sudah tepat. Sebab, Kongres PSSI pada 2 November tidak legitimate.

"Saya pribadi takut beliau menggugat hasil ini, kalau ini terjadi saya khawatir penunjukan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 tahun 2021 itu bisa dicabut oleh FIFA kalau Kongres nanti kisruh," tutur Vijaya.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X