Kompas.com - 26/04/2019, 19:30 WIB
Gelandang Manchester United, Paul Pogba, usai menjalani laga leg pertama perempat final Liga Champions melawan Barcelona, di Stadion Old Trafford, Rabu (10/4/2019). AFP/OLI SCARFFGelandang Manchester United, Paul Pogba, usai menjalani laga leg pertama perempat final Liga Champions melawan Barcelona, di Stadion Old Trafford, Rabu (10/4/2019).

KOMPAS.com - Pertanyaan yang berada di benak suporter Mancheser United kini pasti tidak jauh dari apa yang harus dilakukan Manchester United, untuk membenahi Manchester United?

Banyak sekali yang salah dengan Manchester United musim ini sehingga beban untuk membenahinya bukan hanya di pundak pelatih Ole Gunnar Solskjaer atau potensi kedatangan direktur olahraga baru.

Seluruh klub harus membenahi diri dan mentalitas jika ingin mencari solusi dalam krisis yang telah menyebabkan mereka gagal meraih gelar Liga Inggris sejak 2013.

Bahkan, beban Setan Merah tidak hanya terletak di lapangan atau level manajemen.

Baca Juga: Jelang Derbi Manchester, Atap Old Trafford Bocor

Stadion megah Manchester United pun bermasalah. Atap stadion Old Trafford bocor saat hujan deras mengguyur kota Manchester beberapa jam sebelum Derbi Mancehster pada Kamis (25/4/2019) dini hari WIB.

Kejadian memalukan ini datang tak sampai sebulan setelah Tottenham membuka kepada dunia stadion baru kelas dunia mereka.

Singkat kata, Manchester United adalah raksasa penyakitan yang masuk ke era krisis dalam skala masif.

Di lapangan, para pandit seperti Gary Neville, Roy Keane, dan Nigel De Jong, mengkritik skuat Manchester United ini yang terlihat malas berlari dan absen seorang pemimpin.

Sorotan mengarah ke kapten-kapten Manchester United musim ini: Ashley Young, Paul Pogba, dan David De Gea.

Wasit Mike Dean mengusir bek Manchester United Ashley Young setelah dia mendapatkan kartu merah pada pertandingan Liga Inggris antara Wolverhampton Wanderers vs Manchester United pada Selasa (2/4/2019). PAUL ELLIS/AFP Wasit Mike Dean mengusir bek Manchester United Ashley Young setelah dia mendapatkan kartu merah pada pertandingan Liga Inggris antara Wolverhampton Wanderers vs Manchester United pada Selasa (2/4/2019).

Peran Paul Pogba tak terlihat dalam beberapa minggu terakhir, terutama di Derbi Manchester. Ashley Young dikatakan sudah habis dan David De Gea dihujani kritik deras karena gol-gol lawan kontra Everton dan Manchester City.

Young mungkin bisa digantikan pemain lebih muda di bursa transfer.

Akan tetapi, sifat kepemimpinan Pogba sebenarnya terpampang ketika ia memacu semangat rekan-rekannya di ruang ganti timnas Prancis sebelum final Piala Dunia 2018.

David De Gea empat kali terpilih menjadi pemain terbaik Manchester United.

Di atas kertas keduanya adalah pemain kelas dunia dengan pengalaman matang di level internasional. Man United akan rugi bandar apabila bertindak gegabah dan melepas mereka.

Baca Juga: Penampilan Malas Pemain Man United Bikin Dua Legenda Klub Bertengkar

Namun, Pogba dan De Gea tengah goyah. Tanggung jawab untuk menghadapi media setelah kekalahan kontra Manchester City jatuh ke Marcus Rashford, salah satu anggota termuda tim.

Mencari pemain dengan karakter tepat pada musim panas menjadi prioritas.

"Saya pikir kekuatan finansial Manchester United cukup untuk membenahi masalah mereka," ujar pelatih Liverpool, Juergen Klopp, ketika ditanya pendapatnya soal Manchester United. 

Terlihat mudah bagi klub kaya lain, tetapi tidak bagi Setan Merah.

Keluarga Glazer dianggap menyedot uang dari Manchester United tetapi dompet Setan Merah cukup tebal untuk belanja 100-150 juta pounds per musim.

Manchester United menghamburkan lebih dari 750 juta pounds di bursa transfer sejak Sir Alex Ferguson pensiun.

Hanya, mereka ibarat membakar uang dengan merekrut pemain-pemain seperti Memphis Depay, Angel Di Maria, Henrikh Mkhitaryan, dan Alexis Sanchez.

Sanchez, misalnya, baru dimainkan di laga Derbi Manchester pada menit ke-83 dan hanya menyentuh bola sekali selama 12 menit di lapangan.

Padahal Alexis Sanchez menerima 350 ribu pounds per pekan plus bonus 75 ribu pounds setiap kali merumput, jumlah setara 7,7 miliar rupiah.

Baca Juga: Alexis Sanchez Dibayar Rp 1 Miliar untuk Satu Kali Sentuh Bola

Executive vice chairman klub, Ed Woodward, merupakan sasaran marah suporter. Kegagalannya di bursa transfer menjadi salah satu faktor kenapa Setan Merah menginginkan seorang direktur olahraga.

Woodward memang tak akan pergi begitu saja, keuangan Manchester United meroket di bawah mantan bankir tersebut. Man United kini punya 72 partner komersil untuk menunjang pendapatan dari matchday dan hak siar.

Ia sangat perlu seseorang untuk mendampinginya menangani aspek di dalam lapangan.

Di atas kertas, Edwin van der Sar akan jadi kandidat ideal untuk posisi tersebut. Namun, sejauh ini Mike Phelan, mantan asisten manajer Sir Alex Ferguson, dan tangan kanan Ole Gunnar Solskjaer tampak bakal mengemban jabatan itu.

David De Gea dan Ole Gunnar Solskjaer tampak sedang bercanda seusai laga Tottenham Hotspur vs Manchester United di Stadion Wembley dalam lanjutan Liga Inggris, 13 Januari 2019. AFP/ADRIAN DENNIS David De Gea dan Ole Gunnar Solskjaer tampak sedang bercanda seusai laga Tottenham Hotspur vs Manchester United di Stadion Wembley dalam lanjutan Liga Inggris, 13 Januari 2019.

Ole butuh bantuan sebanyak mungkin dalam menavigasikan diri di bursa transfer mengingat sebelum ini pembelian termahalnya adalah Bruno Ecule Manga (6 juta pounds) dan Sean Morrison (3,5 juta pounds) saat di Cardiff City.

Alhasil, pembicaraan tentu akan kembali ke mencari pemain-pemain yang dianggap "sesuai dengan DNA Manchester United".

Para kandidat ini juga harus masuk dalam rencana jangka panjang klub agar menghindari pemborosan-pemborosan yang terjadi pada rezim-rezim sebelum Ole.

Menyusun proyek untuk 5-10 tahun ke depan dan bukan mengejar hasil instan (seperti yang Man United inginkan dari era Mourinho) merupakan solusi terbaik untuk tidak hanya menambal lubang Man United di kiri dan kanan tetapi membangun sesuatu yang benar-benar baru dan everlasting.

Suatu pemahaman filosofi bermain juga harus diturunkan dari Solskjaer ke seluruh klub. Ideologi Sir Alex Ferguson 2.0 harus dikembangkan agar pembelian klub terfokus.

Proyek lima tahun terlihat di Liverpool di mana Klopp berhasil menjadikan The Reds sebagai kekuatan sahih di level antarklub Eropa sejak pertama datang pada Oktober 2015.

Semua pemain Liverpool mengerti dan sejalan dengan apa yang ingin dilakukan pelatih asal Jerman tersebut.

Etos kerja anak asuh Juergen Klopp, terutama tanpa bola, merupakan salah satu yang terbaik di Inggris dan juga Eropa.

Jalan memang masih panjang bagi Ole Gunnar Solskjaer dan para fans Man United. Namun, setiap perjalanan seribu kilometer selalu dimulai dengan satu langkah kecil, bukan?



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X