Kapan Mimpi (Juara) Itu Jadi Kenyataan?

Kompas.com - 27/05/2019, 06:30 WIB
Ekspresi  pebulu tangkis tunggal putra Indonesia Anthony Sinisuka Ginting ketika bertanding melawan pebulu tangkis Jepang Kento Momota pada laga final China Open 2018 di di Olympic Sports Center Xincheng Gymnasium, Changzhou, China, Minggu (23/9/2018). Anthony Sinisuka Ginting berhasil meraih juara China Open 2018 setelah mengalahkan Momota dengan skor akhir 23-21 dan 21-19.ANTARA FOTO/HO/HUMAS PP PBSI Ekspresi pebulu tangkis tunggal putra Indonesia Anthony Sinisuka Ginting ketika bertanding melawan pebulu tangkis Jepang Kento Momota pada laga final China Open 2018 di di Olympic Sports Center Xincheng Gymnasium, Changzhou, China, Minggu (23/9/2018). Anthony Sinisuka Ginting berhasil meraih juara China Open 2018 setelah mengalahkan Momota dengan skor akhir 23-21 dan 21-19.

KOMPAS.com - Tiga tahun lalu di Kunshan, Provinsi Jiangsu, China, tim Piala Thomas Indonesia tampil sangat mengejutkan karena berhasil mencapai final.

Bermaterikan sebagian besar pemain muda, pasukan Merah-Putih melibas sejumlah lawan tangguh sebelum takluk pada partai puncak.

Tim Thomas Indonesia kalah 2-3 dari Denmark, yang kala itu mengukir sejarah untuk kali pertama merengkuh supremasi tertinggi kejuaraan beregu putra paling bergengsi tersebut.

Hasil itu tentu saja mengecewakan karena tujuan akhir mengikuti sebuah kompetisi adalah juara!

Baca juga: Badminton Indonesia, Mau Sampai Kapan Andalkan Ganda Putra?

Terlepas dari hasil itu, ada secercah harapan bagi masa depan Indonesia untuk mengakhiri penantian menjadi juara nomor beregu, dalam hal ini Piala Thomas.

Nama Anthony Sinisuka Ginting dan Jonatan Christie mulai berkibar karena tampil sangat impresif.

Wartawan asal Malaysia pun kagum melihat kiprah para pemain muda Indonesia, termasuk Ihsan Maulana Mustofa, tunggal ketiga kala itu. Mereka membandingkan skuad negaranya, yang masih sangat mengandalkan Lee Chong Wei.

Baca Juga: Piala Sudirman 2019, Marcus/Kevin Ungkap Kunci Kemenangan

"Indonesia bisa menjadi ancaman serius karena tiga pemain muda ini punya potensi besar," demikian pernyataan sang wartawan yang duduk di samping saya saat menyaksikan aksi Anthony mengalahkan Lee Dong-keun pada laga semifinal (Indonesia menang 3-1). 

Bahkan Anthony lebih baik dari Iskandar (tunggal kedua Malaysia)," tuturnya melanjutkan.

Dari sektor putri pun ada kabar baik. Meski langkah tim Piala Uber Indonesia hanya sampai babak perempat final, tetapi sepak terjang pemain muda memberikan sinyal kebangkitan.

Gregoria Mariska Tunjung dan Fitriani memperlihatkan performa yang membuat kubu Indonesia optimistis bakal segera mengakhiri paceklik gelar.

Wajar bila Hendra Setiawan, yang kala itu didaulat menjadi kapten tim, sangat yakin dengan peluang Indonesia menjadi juara Piala Thomas 2018.

Dia memprediksi Anthony (saat itu 20 tahun) dan Jonatan (19 tahun) semakin matang dan siap jadi juara.

Halaman Berikutnya
Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X