5 Transfer Aneh di Sepak Bola, Es Krim dan Daging Jadi Alat Tukar - Kompas.com

5 Transfer Aneh di Sepak Bola, Es Krim dan Daging Jadi Alat Tukar

Kompas.com - 02/06/2018, 10:09 WIB
Manajer Tottenham Hotspur, Mauricio Pochettino, kecewa timnya tak tampil maksimal saat menghadapi West Ham United di Stadion Boleyn Ground, Rabu (2/3/2016) waktu setempat.IAN KINGTON/AFP Manajer Tottenham Hotspur, Mauricio Pochettino, kecewa timnya tak tampil maksimal saat menghadapi West Ham United di Stadion Boleyn Ground, Rabu (2/3/2016) waktu setempat.

KOMPAS.com - Bursa transfer musim 2018-2019 telah resmi dibuka per tanggal Juni 2018. Meski tidak menggelar pertandingan, cerita pada bursa transfer masih menjadi daya tarik tersendiri bagi penggemar sepak bola.

Masa jual-beli pemain selalu memunculkan cerita seru dan dipastikan selalu meyedot perhatian.

Sebagai contoh, pada musim panas 2017, Paris Saint-Germain menggelontorkan 222 juta euro (Rp 3,5 triliun) untuk membeli Neymar dari FC Barcelona. Nominal tersebut memecahkan rekor transfer dunia.

Menilik sejarah bursa transfer ke belakang, banyak kejadian unik dibalik proses perpindahan pemain ke klub baru. Dikutip dari Bolasport.com, berikut adalah lima cerita unik dalam sejarah bursa transfer:

Baca Juga: Jadwal Lengkap Piala Dunia 2018, Awal dan Akhir di Moskwa

1. Negosiasi es krim

Pada 1928, Hugh McLenahan hanyalah seorang pemain berusia 18 tahun sekaligus pedagang es krim yang sedang mengalami masalah finansial. Momen tersebut dimanfaatkan oleh asisten manajer Manchester United, Louis Rocca, guna membujuk si pemain agar mendarat di Old Trafford.

Rocca menghadiahi McLenahan satu lemari pendingin yang dipenuhi es krim buat didagangkan. Setelah diberi lemari es beserta isinya, Hugh McLenahan akhirnya gabung dengan Setan Merah dan bertahan selama sembilan tahun.

2. Beli pemain dengan daging babi

Klub asal Rumania, Jiul Petrosani, menjual salah satu pemainnya ke Valcea pada bursa transfer Januari 1998. Namun, bukanlah uang yang mereka dapatkan dari penjualan tersebut, melainkan 500 kilogram daging babi. Daging-daging itu akhirnya dijual oleh Jiul Petrosani untuk membayar gaji pemain lain.

3.  Kaki mungil  Mauricio Pochettino

Manajer Tottenham Hotspur, Mauricio Pochettino, menyaksikan timnya bertanding melawan Bayer Leverkusen, pada ajang Liga Champions di Stadion Wembley, Rabu (2/11/2016) waktu setempat.ADRIAN DENNIS/AFP Manajer Tottenham Hotspur, Mauricio Pochettino, menyaksikan timnya bertanding melawan Bayer Leverkusen, pada ajang Liga Champions di Stadion Wembley, Rabu (2/11/2016) waktu setempat.

Pada tahun 1987, Mauricio Pochettino yang sedang berusia 14 tahun siminta oleh ayahnya untuk melakoni tes di Newell's Old Boys. Suatu hari, pada pukul 02.00 dini hari, rumah Pochettino disambangi oleh Marcelo Bielsa, yang kala itu menjabat sebagai pelatih tim muda Newell's Old Boys.

Bielsa pun melakukan hal yang tak biasa, yakni meneliti kaki pemain cilik yang didatanginya. Bielsa percaya bahwa seorang pemain hebat bisa dilihat hanya dari kaki.

"Dia mencari kaki seorang pesepak bola. Sebagai gantinya, dia menemukan kaki seorang bocah gemuk," kata Pochettino mengenang masa lalu.

Berawal dari Newell's Old Boys, Pochettino kemudian melanglang buana ke klub-klub top Eropa, salah satunya Paris Saint-Germain.

4. Pemain labil

Kisah transfer kali ini melibatkan cerita Lou Macari yang bergabung dengan Manchester United pada tahun 1973. Sebelum bergabung dengan Man United, Macari bertemu dengan Bill Shankly selaku pelatih Liverpool FC pada bursa transfer Januari.

Setelah pertemuan di Anfield itu, Macary secara lisan telah sepakat untuk bergabung dengan Liverpool. Namun, hanya beberapa jam setelah berjumpa Shanky, Lou Macari berubah pikiran.

Macari tiba-tiba memutuskan bergabung dengan Man United setelah dirayu oleh asisten manajer, Paddy Crerand. Mereka bertemu secara tak sengaja di tribune stadion ketika berlangsungnya laga Liverpool melawan Burnley.

5. Dibayar dengan minyak zaitun

Mohammed Sumaila (kiri)DOK INSTAGRAM Mohammed Sumaila (kiri)

Uang menjadi salah satu motivasi terbesar seorang pesepak bola untuk bermain di sebuah klub. Namun, hal tersebut tidak berlaku untuk Mohammed Sumaila.

Pada Agustus 2017, pemain asal Ghana itu rela membela klub amatir Turki, Yorukalispor, meski hanya dibayar dengan 10 liter minyak zaitun.

"Mereka tidak punya uang dan menawari saya minyak organik. Jadi, saya terima saja," kata Sumaila seperti dikutip BolaSport.com dari The Sun.


Komentar
Close Ads X