Kompas.com - 04/02/2021, 08:29 WIB
Para pemain Persib Bandung saat beraksi di Divisi Utama PSSI pada 1994. DOK TABLOID BOLAPara pemain Persib Bandung saat beraksi di Divisi Utama PSSI pada 1994.

BANDUNG, KOMPAS.com - Persib Bandung adalah salah satu kesebelasan besar di Indonesia. Banyak catatan sejarah yang menggambarkan kebesaran dan keperkasaan klub berjulukan Maung Bandung itu dalam merajai panggung kompetisi sepak bola nasional.

Persib terbentuk pada 1933 ketika Indonesia masih dalam pengaruh kolonialisme Belanda. Pada masa awal kelahirannya, Persib merupakan salah satu alat perjuangan bangsa dalam menentang tindak-tanduk kolonialisme melalui sepak bola.

Persib juga memiliki peranan yang besar dalam pembentukan federasi sepak bola Indonesia, PSSI. Bersama enam kesebelasan lain seperti Persija Jakarta, PSIM Mataram Yogyakarta, Persebaya Surabaya, Persis Solo, PSM Madiun, hingga PPSM Magelang, Persib turut menginisiasi terbentuknya PSSI.

Selain itu, Maung Bandung juga tercatat sebagai salah satu klub paling berprestasi di Indonesia. Sejak terbentuk pada 1933, sebanyak tujuh gelar juara kompetisi nasional diraih Persib dengan rincian; lima gelar di kompetisi perserikatan dan dua gelar diraih pada era Liga Indonesia.

Baca juga: Memoar Masa Kelam Persib pada Liga Indonesia 2003

Melalui catatan tersebut, Persib pun berada di posisi ketiga tim Indonesia dengan koleksi trofi terbanyak di kompetisi. Persib hanya kalah dari Persija Jakarta yang berada di urutan pertama dengan 11 trofi juara, dan Persebaya Surabaya yang meraih delapan gelar juara kompetisi.

Selain prestasi dan gambaran nama besar tentang Persib, sejarah juga tidak luput mencatat sejumlah masa sulit yang pernah dilalui Maung Bandung dalam kiprahnya di kompetisi sepak bola Indonesia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pada era Liga Indonesia, klub berjulukan Maung Bandung itu pernah hampir dua kali terdegradasi divisi satu, yang merupakan kompetisi strata kedua kompetisi Indonesia karena performa inferior.

Kejadian memilukan tersebut terjadi pada Liga Indonesia musim 2003 dan 2005. Beruntung, nasib baik masih menaungi Persib.

Pada 2003 Maung Bandung lolos dari jerat degradasi setelah tampil apik dalam babak play-off degradasi. Adapun pada 2005, Persib lolos dari ancaman degradasi setelah PSSI memutuskan meniadakan degradasi lantaran terjadinya bencana gempa di Yogyakarta.

Baca juga: Kisah 11 Tahun Dadang Hidayat bersama Persib, Lepas dari Bayang-bayang Degradasi

Jauh sebelum itu, Persib pernah merasakan masa kelam yang lebih menyedihkan. Bahkan kabarnya, anjloknya performa membuat Persib sampai "terdegradasi". Nestapa tersebut dirasakan Persib pada 1978.

Era 1970-an, memang digambarkan sebagai masa suram Persib. Dalam buku "Lintasan Sejarah Persib" mantan pemain sekaligus pelatih Persib, Risnandar Soendoro, menyebutkan bahwa era 1970-an menjadi masa surut Persib. "Sebagai sebuah tim, prestasi Persib tidaklah menggembirakan."

Bukan pernyataan yang berlebihan. Pada kenyataannya, pada era-1970-an, prestasi Persib memang cenderung menurun. Bahkan, Persib mengalami puasa gelar dalam kurun waktu yang cukup panjang, hampir 25 tahun lamanya.

Pasalnya, setelah meraih gelar juara Perserikatan musim 1961, Persib baru bisa kembali mengulang prestasi tersebut pada 1986. Persib memastikan gelar juara setelah mengalahkan Perseman Manokwari di laga final, melalui gol tunggal Djadjang Nurdjaman.

Menyoal puasa gelar di kompetisi, sejatinya itu bukan kali pertama bagi Persib. Sebab, Maung Bandung juga pernah mengalami kesusahan meraih gelar juara dalam kurun waktu yang panjang.

Terhitung sejak tahun 1937, ketika mereka menjuarai kompetisi Perserikatan untuk kali pertama. Setelah itu, Persib baru bisa kembali meraih gelar juara pada 1961. Artinya selama 24 tahun Persib mengarungi kompetisi tanpa meraih gelar juara.

Baca juga: Yudi Guntara, Legenda Persib yang Pensiun pada Usia Matang karena Cedera Lutut

Hanya saja, dalam rentang waktu 1937 hingga 1961 performa Persib masih stabil sebagai tim papan atas sehingga Persib tidak pernah memulai kompetisi musim baru dari babak pertama, tetapi langsung bermain pada tingkat nasional.

Bahkan, sejak PSSI menerapkan sistem babak semifinal pada kompetisi Perserikatan 1964, Persib selalu bisa menembus babak empat besar atau semifinal. Pada kompetisi musim 1965-1966 dan 1966-1967, Persib mampu mengakhiri kompetisi dengan predikat runner-up.

"Terasing" dari jajaran elite

Akan tetapi, kemerosotan prestasi kemudian ditunjukkan Persib ketika memasuki era 1970-an. Persib kerap terlempar dari kelompok elite PSSI.

Hal tersebut, membuat Maung Bandung tak pernah diikutsertakan dalam turnamen Piala Soeharto, yang kerap mempertemukan tim empat besar kompetisi Perserikatan. Hal tersebut yang memunculkan kesan bahwa Persib "diasingkan" dari jajaran kesebelasan elite Indonesia saat itu.

Kendati mengalami penurunan prestasi di kompetisi, pada era tersebut, Persib cukup berjaya di turnamen tingkat nasional, seperti meraih gelar juara di Piala Jusuf 1976 dan 1978.

Sebelumnya, Maung Bandung juga sukses menjuarai turnamen Bank Bumi daya 1973, hingga Piala Surya 1978.

Para pemain dan ofisial Persib berpose setelah mengalahkan Perseman Manokwari untuk menjadi juara Perserikatan 1986 di Stadion Utama Senayan.DOK TABLOID BOLA/Zaenal Effendi Para pemain dan ofisial Persib berpose setelah mengalahkan Perseman Manokwari untuk menjadi juara Perserikatan 1986 di Stadion Utama Senayan.

Degradasi atau tidak?

Mengenai kiprah Persib pada era 1970-an, tentunya menarik untuk melihat perjalanan Maung Bandung di kompetisi 1978. Disebut-sebut, itu adalah perjalanan paling kelam yang dilalui Persib.

Kemerosotan prestasi, di kompetisi nasional mencapai nadir. Pada musim tersebut, Persib disebut-sebut terdegradasi.

Penyebabnya, karena Persib gagal masuk ke babak lima besar kompetisi Perserikatan. Dalam perebutan tiket lolos ke babak lima besar, Persib takluk 1-2 dari Persiraja Banda Aceh.

Peristiwa tersebut kemudian dikenal dengan sebutan "Jumat Kelabu di Stadion Utama Senayan". Pasalnya, kekalahan yang diderita Persib dari Persiraja terjadi pada hari Jumat, 27 Januari 1978, di Stadion Utama Senayan, Jakarta.

Akibat kekalahan dari Persiraja, Persib gagal melaju ke kompetisi Perserikatan tingkat nasional. Mau tidak mau, Persib harus memulai perjuangannya pada kompetisi musim berikutnya dari tingkat paling bawah.

Asumsi Persib mengalami degradasi pada kompetisi Perserikatan musim 1978-1979 disebabkan, pada saat itu, kabarnya PSSI sudah mulai membagi kompetisi dalam beberapa divisi, dengan divisi utama sebagai strata tertinggi. Melalui divisi-divisi tersebut, sistem promosi dan degradasi pun mulai diterapkan.

Kala itu PSSI memberlakukan aturan bahwa divisi utama Perserikatan hanya dihuni lima tim. Karena kalah dari Persiraja, Persib pun terlempar dari persaingan menuju lima besar atau divisi utama. Kala itu, tim yang lolos ke babak lima besar adalah Persiraja, Persija, Persebaya, PSM Ujungpandang, dan PSMS Medan.

Baca juga: Saat Persib Dibuat Panik oleh Sarung Tangan Kiper

Meski begitu, ada narasi menarik terkait kisah terdegradasinya Persib pada musim 1978 yang diungkapkan dalam buku Persib dan Kisah Kompetisi Perserikatan 1978.

Melalui penelusurannya, Novan Herfiyana, selaku penulis buku tersebut justru berasumsi bahwa sejatinya pada kompetisi musim 1978 Persib tidaklah mengalami degradasi atau turun divisi.

Sebab, tidak ada pemberitaan pada saat itu yang menyebut secara gamblang bahwa Persib turun divisi setelah kalah dari Persiraja. Selain itu, mengacu pada sistem kompetisi sebelumnya, Perserikatan 1975, Persib yang gagal menembus babak delapan besar pada kompetisi musim tersebut pun harus memulai perjuangannya di kompetisi musim 1978 dari tingkat bawah, tepatnya tingkat wilayah II.

Bermain dari tingkat bawah atau wilayah II juga dialami oleh Persija dan PSMS sebagai juara bertahan kompetisi 1975. Sebagaimana diketahui, pada Perserikatan 1975, Persija dan PSMS didapuk sebagai juara bersama.

"Hal itu menunjukkan bahwa dalam kompetisi-kompetisi periode sebelumnya, setiap tim termasuk juara bertahan, harus memulai perjuangannya dari tingkat bawah. Minimal tingkat wilayah," tulis Novan dalam bukunya Persib dan Kisah Kompetisi Perserikatan 1978.

Anggapan soal Persib mengalami turun divisi atau terdegradasi di kompetisi 1978 mungkin saja masih bisa diperdebatkan. Masih banyak fakta yang bisa diungkapkan.

Hanya yang pasti, pada era 1970-an, Persib memang tengah mengalami yang namanya surut prestasi.

Akan tetapi, Persib akhirnya mampu keluar dari masa sulit. Diawali dengan pembenahan sistem pembinaan pesepak bola, yang dilakukan oleh Marek Janota pada awal tahun 1980. Pelatih asal Polandia itu rela blusukan dari kampung ke kampung untuk mencari bibit pesepak bola potensial yang bisa menjadi tulang punggung klub Persib.

Hingga akhirnya, nama-nama seperti Adeng Hudaya, Iwan Sunarya, Bambang Sukowiyono, Dede Iskandar, Adjat Sudrajat, hingga Robby Darwis pun muncul ke permukaan. Kelak, para pemain didikan Janota inilah yang kemudian membawa Persib pada era keemasannya di periode 1980 hingga 1990-an awal.

Dalam kurun waktu tersebut, Persib berjaya dengan meraih empat gelar juara kompetisi nasional dengan rincian tiga gelar juara kompetisi Perserikatan musim 1986, 1989-1990, dan 1993-1994. Sementara satu gelar juara lainnya diraih dalam ajang Liga Indonesia I 1994-1995.

Selain itu, Persib juga sempat dua kali menjadi runner-up kompetisi Perserikatan 1983 dan 1985. Ambisi Persib meraih gelar juara saat itu dihadang oleh PSMS Medan. Dua kali masuk final, dua kali bertemu PSMS, dan dua kali pula pil pahit ditelan Maung Bandung di partai puncak.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.