Kisah di Balik Keputusan Pensiun Mesut Oezil dari Timnas Jerman

Kompas.com - 25/07/2018, 10:19 WIB
Mesut Oezil dan Marco Reus tampak kecewa seusai peluang Jerman gagal menjebol gawang Korea Selatan pada pertandingan di Kazan Arena, 27 Juni 2018. AFP/LUIS ACOSTAMesut Oezil dan Marco Reus tampak kecewa seusai peluang Jerman gagal menjebol gawang Korea Selatan pada pertandingan di Kazan Arena, 27 Juni 2018.

KOMPAS.comMesut Oezil, gelandang Arsenal, tengah menjadi perhatian karena keputusannya untuk pensiun dari tim nasional Jerman.

Surat terbuka yang ia posting di media sosial Twitter miliknya, Sabtu, 22 Juli lalu, menyatakan kekecewaannya kepada media Jerman, fans, dan Presiden Asosiasi Sepak Bola Jerman (DFB), Reinhard Grindel.

"Saya tidak akan bermain untuk Jerman di tingkat internasional salama saya mendapatkan perlakuan rasialis dan tidak hormat," demikian pernyataan Oezil.

Surat tersebut diakhiri dengan pernyataan pensiunnya Oezil dari timnas Jerman.

Sebelumnya, pesepak bola berusia 29 tahun tersebut menuai kritik karena fotonya bersama dengan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, pada bulan Mei 2018 lalu.

Baca juga: Dapat Perlakuan Rasialis, Mesut Oezil Pensiun dari Timnas Jerman

Media dan fans Jerman menganggap foto Oezil dan Ilkay Guendogan, gelandang Man City asal Jerman, berpose bersama Erdogan sebagai sebuah dukungan politik, ditambah lagi Guendongan memberikan jersey Manchester Citynya bertuliskan "Untuk Presidenku".

Oezil dan Guendogan yang keduanya memiliki darah Turki dianggap telah mengkhianati nilai-nilai masyarakat Jerman.

"Berpose dengan sang otokrat Erdogan tidaklah sopan kepada mereka yang dikekang di Turki atau yang sedang terpaksa duduk di penjara," Ujar Cem Ozdemir, seorang anggota parlemen Jerman berdarah Turki, dikutip dari The Telegraph.

Dinilai membantu kampanye Erdogan

Foto yang keluar beberapa hari sebelum pemilihan umum di Turki itu juga dinilai membantu Presiden Turki tersebut menggalang suara di Jerman.

"DFB tentunya menghargai situasi spesial bagi pemain kami yang memiliki latar belakang imigran, tetapi sepak bola dan DFB berpijak pada nilai-nilai yang Erdogan tidak cukup hargai," kata Presiden DFB, Reinhard Grindel.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X