Jangan Pernah Takut Memelihara Mimpi - Kompas.com

Jangan Pernah Takut Memelihara Mimpi

Jalu W. Wirajati
Kompas.com - 17/05/2016, 18:31 WIB
JALU WISNU WIRAJATI/KOMPAS.com Komunitas suporter Liverpool dari Indonesia, BigReds, menyambangi Stadion Anfield pada Sabtu (7/5/2016) waktu setempat.

Perhaps it is not true that “a man becomes what he dreams”; but if he does not dream, what kind of a man is he? - Fausto Cercignani

Suatu malam di Terminal Lebak Bulus sekitar tahun 2001 atau 2002. Ketika itu, saya akan naik bus menuju kota kelahiran saya, Bandung.

Tergopoh-gopoh, saya memasuki terminal lantaran waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 malam. Khawatir tak kebagian bus, sampai-sampai saya selip lidah saat bertanya bus menuju Bandung dan Kampung Rambutan kepada penjaga peron.

Syahdan, akhirnya saya duduk di bangku depan kiri. Di sebelah saya, ada seorang pria keturunan yang tampak bawel bertanya kepada kondektur apakah bus akan jalan atau tidak.

Karena jumlah penumpang minimal sudah terpenuhi, bus pun keluar dari terminal dan menuju Bandung. Ketika itu, belum ada Tol Cipularang sehingga bus akan melewati Tol Cikampek lalu lewat jalan biasa melalui Purwakarta.

Dalam perjalanan, saya yang biasanya tertidur ketika kondektur sudah menagih tiket, terpaksa menahan mata. Pria di sebelah saya - yang sampai saat ini masih lupa namanya - terus mengajak saya mengobrol.

Dia bercerita tentang pekerjaan dirinya. Awalnya, dia seorang pekerja kantoran dan menempati posisi bergengsi di jajaran manajerial.

Ketika itu, saudara kandungnya - yang saya juga lupa namanya karena tak bisa googling lewat ponsel berbasis symbian - bahkan duduk di jajaran eksekutif bank besar nasional.

Akan tetapi, teman seperjalanan saya itu mengaku telah mundur dari perusahaannya. Dia tengah merintis usaha sendiri, sebuah usaha yang saya mendengarnya saja masih asing di telinga.

Bagi seorang mahasiswa ekonomi seperti saya, pernyataan dia saat itu mengejutkan. Bagaimanapun, dia sudah bisa nyaman mendapatkan beragam fasilitas tetapi memilih mundur sehingga untuk ke Bandung saja harus pakai kendaraan umum.

"Saya punya mimpi untuk bisa bekerja sendiri, tidak bekerja untuk orang lain tetapi bisa memberi nafkah bagi orang lain," ucap dia saat itu. "Ingat Jalu, if you never dream it, you never reach it," kata dia menegaskan.

Ucapan itu melekat bagi saya. Karena selain mengena, dia juga mentraktir saya mie instan ketika bus beristirahat di wilayah Sadang, hitung-hitung penghematan bagi mahasiswa. Kapan lagi dapat makan dan ilmu gratis berbarengan?

Saya memang tidak atau belum bisa menjadi pengusaha seperti dia. Akan tetapi, ucapan dia untuk terus menjaga mimpi selalu diingat.

Saat kecil, mimpi saya adalah bisa meliput Piala Dunia. Hal ini dipengaruhi kegemaran saya melahap segala berita seputar Piala Dunia 1990.

Mimpi itu selalu saya jaga. Akhirnya, walaupun berstatus lulusan Fakultas Ekonomi, saya memilih mengikuti mimpi saya untuk menjadi wartawan olahraga pada 2004.

Dua tahun berselang, saya pun mewujudkan mimpi masa kecil saya ketika ditugaskan meliput Piala Dunia 2006 di Jerman.

Kebetulan? "There are no coincidences in this world," ujar Master Oogway di film "Kung Fu Panda" pertama.

Wujudkan mimpi

Sepuluh tahun berlalu sejak Piala Dunia 2006. Saya kembali menjalani perjalanan panjang menggunakan pesawat terbang ke Benua Biru. Kali ini, saya terbang bersama sejumlah fans Liverpool asal Bekasi, Jakarta, Jember, dan Surabaya.

Dalam perjalanan antara Jakarta dan Istanbul - tempat transit sebelum melanjutkan perjalanan ke Inggris, beberapa dari kami membunuh waktu dengan menonton film yang tersedia, jika tidak tidur tentu saja.

Di kursi depan kiri saya, ada Hendra Erdiansyah asal Jember. Saya tertarik ketika dia memilih film kartun untuk ditonton. Tak terlihat jelas judulnya karena mata saya silindris, tetapi film tersebut berkisah tentang Tom dan Jerry, kucing dan tikus yang merupakan teman sekaligus musuh.

Saya pun mencari film tersebut dari kursi saya dan mendapatkannya. "Tom and Jerry's Giant Adventure", begitu judul film tersebut.

Film animasi itu bercerita tentang anak yatim bernama Jack. Ibu Jack tengah terlilit utang. Rumah dan tempat hiburan milik mereka yang dibangun sang ayah terancam diambil rentenir.

Untuk bisa membayar utang, Jack mencoba menjual sapi, satu-satunya barang berharga yang valuable. Ibunya sudah patah arang karena tak mungkin bisa menutupi utang dengan hanya menjual sapi.

"Dreams come true if you believe. Ingat ucapan almarhum ayah itu, Bu," ujar Jack menenangkan ibunya. Sang ibu pun merasa reugreug lega.

Saat hendak menjualnya, sapi Jack ditawar oleh seorang petani. Namun, sapi itu coba dibeli dengan hanya segenggam kacang.

Jack kesal, tetapi petani lantas mengucapkan kata yang sama seperti ucapan almarhum ayahnya. Dia pun berbalik dan mau menukar sapinya.

Kacang itu ternyata kacang ajaib. Jadilah petualangan Tom, Jerry, dan Jack mirip cerita "Jack and Beanstalk". Mereka menuju ke awan, melawan raksasa, dan mendapatkan telur emas. Dia dan ibunya pun bisa membayar utang. Taman hiburan yang dibangun ayah Jack juga kembali beroperasi.

"Mimpi hanya akan terwujud apabila kamu memercayainya," ucap ayah Jack. Kepercayaan itu pun dimiliki tujuh orang yang berangkat ke Liverpool bersama saya.

Sebagai suporter Liverpool, mereka tentu mengidamkan untuk bisa menonton langsung tim kesayangannya di Stadion Anfield. Orang lain mungkin menilai mimpi mereka itu hanyalah angan-angan. Meski demikian, Hendra dkk tidak pernah mengubur mimpinya itu.

Seperti kata Raja Tua di novel "Sang Alkemis" karya Paulo Coelho, "Ketika seseorang keinginan kuat, seluruh semesta akan berusaha untuk mewujudkannya," ucap dia.

Mimpi tujuh suporter Liverpool itu pun terwujud. Perjuangan mereka melalui futsal akhirnya berbuah hal yang diimpi-impikan. Mereka bisa menyaksikan langsung The Reds di tribune Stadion Anfield dan bertemu sejumlah legenda klub.

"Ini pengalaman luar biasa bagi saya. Kali pertama naik pesawat dan terbang ke luar negeri, bisa langsung menyaksikan Liverpool bertanding," ujar Achmad Fachri. salah satu anggota tim asal Jakarta.

"When you have dream, go and get with the power of prayer. Alhamdulillah i'm in here, in the place that always there in my dreams," tulis Setio Pramono, peserta asal Bekasi di akun Instagram pribadinya, saat mengunggah foto memegang tulisan "This is Anfield" di lorong menuju lapangan.

Perasaan mereka itu sama seperti yang saya rasakan...

Bermula dari kegagalan

Ketika ditanya kapan pertama kali menyukai Liverpool, saya akan menjawab sejak Sabtu, 14 Mei 1988.

Pada tanggal itu, saya pertama kali peduli dengan Liverpool. Namun, bukan karena The Reds pada tanggal tersebut meraih kejayaan. Justru sebaliknya, saat itu, Liverpool kalah 0-1 dari Wimbledon pada final Piala FA di Stadion Wembley.

Saya menyaksikan pertandingan tersebut melalui TVRI. Satu momen yang paling saya diingat adalah ketika Dave Beasant, kiper Wimbledon, menggagalkan penalti John Aldridge, striker Liverpool.

Kecekatan Beasant membuat saya kagum. Namun, kegagalan Aldridge itu memunculkan rasa empati saya kepada dia dan klub berseragam merah yang dibelanya. Sikap enggak tegaan - yang mungkin diwariskan oleh ibu - itu menjadi dasar saya menyukai sebuah tim.

Seperti halnya saat Persib Bandung kalah dari PSMS Medan pada final Perserikatan 1985 dan Jerman (Barat) dikalahkan Argentina di final Piala Dunia 1986, saya suka Liverpool lantaran kegagalan penalti Aldridge di final Piala FA 1988.

Siapa sangka, 28 tahun berselang, saya bisa bertemu dia tepat sebelum Liverpool bertanding melawan Watford di Anfield, Minggu (8/5/2016).

JALU WISNU WIRAJATI/KOMPAS.com Legenda Liverpool, John Aldridge, berfoto dengan dua fans asal Indonesia.

"Kamulah orang yang membuat saya suka terhadap klub ini," ucap saya. Kalimat yang sudah saya impikan untuk dibicarakan langsung kepada Aldridge.

Dia terlihat terkejut tetapi juga gembira dengan ucapan saya itu. Saya pun lalu menceritakan rasa empati saya kepada dia saat menyaksikannya lewat layar kaca.

"Jangankan Anda, saya pun sedih dan suka menangis jika melihat kegagalan penalti itu," ujar Aldridge kepada saya.

Hal apa lagi yang lebih baik selain bisa mewujudkan mimpi dengan bertemu langsung sang causa prima dari awal kecintaan saya terhadap Liverpool, menyaksikan langsung The Reds bertanding di Anfield, dan bernyanyi "You'll Never Walk Alone" sebelum pertandingan?

Seperti halnya arti harfiah dari lagu kebangsaan Liverpool itu, kita tak bakal sendirian ketika ingin mewujudkan mimpi. Jadi, jangan takut untuk bermimpi. Seperti kata sang Raja Tua, seluruh semesta akan membantumu untuk mewujudkannya.

#YNWA

EditorWisnubrata
Komentar
Terkini Lainnya
Pizzi Punya Pengalaman Unik soal Pelatih Cile
Pizzi Punya Pengalaman Unik soal Pelatih Cile
Internasional
Renato Sanches Tuntut Bermain Lebih Banyak di Bayern
Renato Sanches Tuntut Bermain Lebih Banyak di Bayern
Liga Jerman
Kolarov Ingin Kembali ke 'Mantan'
Kolarov Ingin Kembali ke "Mantan"
Liga Inggris
Chelsea Lepas Penyerang Muda ke Lyon
Chelsea Lepas Penyerang Muda ke Lyon
Liga Inggris
Man United Ingin Rampungkan Transfer Matic Sebelum Berangkat ke Amerika
Man United Ingin Rampungkan Transfer Matic Sebelum Berangkat ke Amerika
Liga Inggris
De Boer Minta Restu Van Gaal Sebelum Latih Crystal Palace
De Boer Minta Restu Van Gaal Sebelum Latih Crystal Palace
Liga Inggris
Bela Marseille, Valere Germain Ikuti Jejak Sang Ayah
Bela Marseille, Valere Germain Ikuti Jejak Sang Ayah
Liga Lain
James Rodriguez Dilarang Gegabah
James Rodriguez Dilarang Gegabah
Liga Spanyol
Saat Semua Pemain Man United Ingin Tendang Ronaldinho
Saat Semua Pemain Man United Ingin Tendang Ronaldinho
Liga Inggris
Spesialis Tendangan Bebas Menuju AC Milan
Spesialis Tendangan Bebas Menuju AC Milan
Liga Italia
Penyerang Buruan Arsenal Bernilai Rp 745 Miliar
Penyerang Buruan Arsenal Bernilai Rp 745 Miliar
Liga Inggris
Jose Mourinho Ditinggal Sang Ayah
Jose Mourinho Ditinggal Sang Ayah
Liga Inggris
Victor Wanyama Hanya Dapat Penghormatan Satu Hari di Tanzania
Victor Wanyama Hanya Dapat Penghormatan Satu Hari di Tanzania
Internasional
Arturo Vidal Mengaku Kelabakan Melawan Australia
Arturo Vidal Mengaku Kelabakan Melawan Australia
Internasional
Resmi, De Boer Menjadi Manajer Crystal Palace
Resmi, De Boer Menjadi Manajer Crystal Palace
Liga Inggris

Close Ads X