Kompas.com - 13/12/2015, 19:26 WIB
Bomber Leicester City, Jamie Vardy (kiri), melakukan selebrasi usai membobol gawang Manchester United pada laga lanjutan Premier League di Stadion Old Trafford, Sabtu (28/11/2015). OLI SCARFF / AFPBomber Leicester City, Jamie Vardy (kiri), melakukan selebrasi usai membobol gawang Manchester United pada laga lanjutan Premier League di Stadion Old Trafford, Sabtu (28/11/2015).
|
EditorJalu Wisnu Wirajati

Memasuki musim 2015 -2016, semua mata dan prediksi pandit bahkan mengecilkan klub yang diimpin oleh usahawan Thailand, Vichai Srivaddhanaprabha ini.  Pergantian Nigel Pearson – karena masalah internal akibat ulah sang anak ketika berlibur ke Thailand  – dengan The Tinker Man, Claudio Ranieri, dianggap sebagai sebuah kesalahan. 

Ranieri yang dikenal selalu gagal mengangkat klub yang punya nama diperkirakan akan mengalami hal lebih buruk lagi bersama The Foxes.

Akan tetapi, kakek yang menerima pinangan Leicester ketika sedang libur musim panas bersama anak dan cucunya di Sardinia, Italia ini, justru mengejawantahkan anggapan The Tinker Man dalam dirinya itu. 

Praktis dengan skuad yang tidak berubah, kecuali hengkangnya David Nugent ke Middlesbrough, Ranieri berbenah.  Dia membangun tim dengan bertumpu kepada playmaker asal Aljazair, Riyad Mahrez. Dia juga mendatangkan Shinji Okazaki, Christian Fuchs, dan N’Golo Kante serta memermanenkan Robert Huth dari Stoke City. 

 

Jadwal padat

Kombinasi lama – baru racikan Ranieri ini membuahkan hasil dengan gelontoran gol demi gol yang mengejutkan hingga minggu ke 15.  The Power of the King membawa Leicester untuk sementara berada di puncak klasemen.

Praktis, jika gabungan 24 laga terakhir di Premier League digabung, Leicester hanya kalah dari Chelsea dan Arsenal. Itu pun karena kepolosan permainan mereka yang selalu menyerang tanpa memikirkan pertahanan.           

Pertahanan juga menjadi kendala Ranieri sejauh ini.  Memang The Foxes jadi pencetak gol terbanyak dengan 32 gol.  Namun, kebobolan 21 gol dengan hanya 3 kali clean sheet jelas ada yang harus diperbaiki oleh kombinasi Robert Huth dan Wes Morgan d ibelakang, serta Daniel Drinkwater dan N’Golo Kante di depan kedua bek itu. 

Pratis bermain tanpa pengganti yang memadai juga akan menjadi kendala di paruh kedua musim kompetisi nanti bagi lini belakang Leicester City.

Seperti dikatakan Sir Alex Ferguson, Ranieri perlu membeli pemain di lini belakang dan tengah pada Januari demi rotasi  jika ingin menjadi juara atau setidaknya meraih satu tempat ke laga antarklub Eropa musim depan.           

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.