Kompas.com - 13/12/2015, 19:26 WIB
Bomber Leicester City, Jamie Vardy (kiri), melakukan selebrasi usai membobol gawang Manchester United pada laga lanjutan Premier League di Stadion Old Trafford, Sabtu (28/11/2015). OLI SCARFF / AFPBomber Leicester City, Jamie Vardy (kiri), melakukan selebrasi usai membobol gawang Manchester United pada laga lanjutan Premier League di Stadion Old Trafford, Sabtu (28/11/2015).
|
EditorJalu Wisnu Wirajati


Oleh: Gita Suwondo (beIN SPORTS Football Expert) 
  

KOMPAS.com - Ketika masih kecil, pada akhir 1970-an, saya tinggal di sebuah kota minyak bernama Pendopo, sekitar empat jam perjalanan darat dari Palembang, Sumatra Selatan.

Saat itu, saya menyukai cerita heroik tentang perjuangan seseorang atau sekelompok individu yang tidak diperhitungkan sama sekali tapi bisa mengejutkan karena kegigihan mereka mengatasi semua persoalan, sekaligus  mematahkan kemungkinan kalah sebelum pertandingan berakhir. 

Karena itulah, saya kemudian memilih jalur olahraga. Banyak cerita menarik di sini.  Jika mengatakan kepada diri sendiri bahwa Anda bisa, semua logika kehidupan bisa dipatahkan, tanpa mengarah kepada jemawa.     

Cerita tentang sukses Tunisia, Aljazair, Kamerun, hingga Senegal sampai Kosta Rika di Piala Dunia adalah contoh nyata bahwa semua mimpi bisa diperjuangkan.  Bahwa jika kita ngotot, semua odds bisa ditaklukkan. 

Ada raja di tubuh dan sanubari kita yang bisa membantu kita mendapatkan sukses itu, mengalahkan lawan yang lebih hebat.  The Power of the King within Us, biasanya manjur untuk membantah keraguan orang atau mayoritas masyarakat terhadap kemampuan kita.  

Musim ini, di Barclays Premier League yang hanya menyisakan empat minggu lagi untuk mengakhiri paruh musim 2015 -2016, The Power of the King itu secara kebetulan datang dari tuan rumah di King Power Stadium, Leicester City. 

Sangat menarik sekali sepak terjang klub yang sahamnya dimiliki oleh perusahan retail travel dari Thailand, King Power International Group ini sejak akhir musim lalu hingga 15 minggu pertama musim ini.          

Dalam 9 laga terakhir musim 2014 -2015, The Foxes yang saat itu ditangani oleh Nigel Pearson dianggap sebagai kandidat utama degradasi.  Bagaimana tidak, ketika memasuki minggu ke-29, mereka baru mengumpulkan 19 poin dan ada di dasar klasemen. 

Geliat sangat luar biasa ditunjukkan Wes Morgan dkk untuk melakukan The Greatest Escape dalam sejarah Premier League ketika mereka mencatat 7 kemenangan, 1 kali hasil imbang, dan hanya kalah dari sang juara Chelsea pada sisa kompetisi.  Lima laga di antaranya dilalui dengan clean sheet. Mereka pun menutup musim di urutan kep14 dengan 41 poin.

Memasuki musim 2015 -2016, semua mata dan prediksi pandit bahkan mengecilkan klub yang diimpin oleh usahawan Thailand, Vichai Srivaddhanaprabha ini.  Pergantian Nigel Pearson – karena masalah internal akibat ulah sang anak ketika berlibur ke Thailand  – dengan The Tinker Man, Claudio Ranieri, dianggap sebagai sebuah kesalahan. 

Ranieri yang dikenal selalu gagal mengangkat klub yang punya nama diperkirakan akan mengalami hal lebih buruk lagi bersama The Foxes.

Akan tetapi, kakek yang menerima pinangan Leicester ketika sedang libur musim panas bersama anak dan cucunya di Sardinia, Italia ini, justru mengejawantahkan anggapan The Tinker Man dalam dirinya itu. 

Praktis dengan skuad yang tidak berubah, kecuali hengkangnya David Nugent ke Middlesbrough, Ranieri berbenah.  Dia membangun tim dengan bertumpu kepada playmaker asal Aljazair, Riyad Mahrez. Dia juga mendatangkan Shinji Okazaki, Christian Fuchs, dan N’Golo Kante serta memermanenkan Robert Huth dari Stoke City. 

 

Jadwal padat

Kombinasi lama – baru racikan Ranieri ini membuahkan hasil dengan gelontoran gol demi gol yang mengejutkan hingga minggu ke 15.  The Power of the King membawa Leicester untuk sementara berada di puncak klasemen.

Praktis, jika gabungan 24 laga terakhir di Premier League digabung, Leicester hanya kalah dari Chelsea dan Arsenal. Itu pun karena kepolosan permainan mereka yang selalu menyerang tanpa memikirkan pertahanan.           

Pertahanan juga menjadi kendala Ranieri sejauh ini.  Memang The Foxes jadi pencetak gol terbanyak dengan 32 gol.  Namun, kebobolan 21 gol dengan hanya 3 kali clean sheet jelas ada yang harus diperbaiki oleh kombinasi Robert Huth dan Wes Morgan d ibelakang, serta Daniel Drinkwater dan N’Golo Kante di depan kedua bek itu. 

Pratis bermain tanpa pengganti yang memadai juga akan menjadi kendala di paruh kedua musim kompetisi nanti bagi lini belakang Leicester City.

Seperti dikatakan Sir Alex Ferguson, Ranieri perlu membeli pemain di lini belakang dan tengah pada Januari demi rotasi  jika ingin menjadi juara atau setidaknya meraih satu tempat ke laga antarklub Eropa musim depan.           

Tapi seperti disebut oleh bek kiri The Foxes, Christian Fuchs bulan lalu dan juga Riyad Mahrez jelang kedatangan Chelsea di minggu ke 16 ini, bahwa target utama pasukan The King Power Stadium ini tetap hanyalah 40 poin pada akhir musim. 

Artinya, mereka hanya dipatok target untuk bertahan di Premier League.  Empat laga penutup tahun 2015 ini akan sangat sulit bagi mereka.  Menjamu Chelsea, diikuti dua laga tandang ke Liverpool dan Evrton serta menjamu Manchester City. 

Harus diingat juga, bahwa kedigdayaan Jamie Vardy dkk dalam 24 laga terakhir, belum sekalipun diwarnai dengan kemenangan atas wakil Inggris di Eropa.  Kalah dari Chelsea musim lalu dan Arsenal musim ini,  serta ditahan imbang oleh Tottenham Hotspur dan Manchester United. Ini menjadi tantangan mereka dalam 4 laga ke depan.   

 

Target awal

Chelsea akan datang Senin (14/12/2015) atau Selasa dini hari pukul 02.45 WIB. Walaupun tengah berantakan di Premier League, The Blues baru saja sukes jadi pemuncak grup di Liga Champions.  Permainan pragmatis ala Jose Mourinho seperti yang ditunjukkannya ketika membungkan FC Porto bisa menjadi awal sandungan pasukan Ranieri.

Diperlukan The Power of the King yang luar biasa dari tuan rumah untuk mencegah hal ini terjadi. Jika bisa melakukannya, hal ini sekaligus membantah anggapan bahwa Leicester City hanya terdiri dari Jamie Vardy dan Riyad Mahrez.

Walaupu kedua pemain itu menciptakan 24 dari 32 gol The Foxes, aliran serangan bisa datang dari siapa saja.  Termasuk Christian Fuchs dengan assist luar biasanya saat menahan imbang Manchester United.  Jangan lupakan pula kemampuan assist dari Marc Albrighton, Daniel Drinkwater, dan N’Golo Kante dari lini tengah yang terbukti ampuh sejauh ini. 

Terlepas dari hasil 4 laga ke depan dan sisa musim kompetisi ini, kita masih bisa melihat The Power of the King dari King Power Stadium ini pada musimdepan. The Foxes hanya kurang 8 poin dari target awal mereka. Hal itu amat mudah dicapai dengan 23 laga tersisa.

PREDIKSI: LEICESTER CITY 50 – 50 CHELSEA

 

 

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kata Rudy Eka soal Cedera Kiper Timnas Putri Indonesia Fani Supriyanto

Kata Rudy Eka soal Cedera Kiper Timnas Putri Indonesia Fani Supriyanto

Liga Indonesia
Hasil 16 Besar Piala Afrika: Gambia Bikin Kejutan, Kamerun ke Perempat Final

Hasil 16 Besar Piala Afrika: Gambia Bikin Kejutan, Kamerun ke Perempat Final

Internasional
Pratama Arhan Cedera Jelang Lawan Timor Leste, Ini Penjelasan Asisten Pelatih Timnas Indonesia

Pratama Arhan Cedera Jelang Lawan Timor Leste, Ini Penjelasan Asisten Pelatih Timnas Indonesia

Liga Indonesia
Dikalahkan Thailand, Rudy Eka Soroti Permasalahan Besar Timnas Putri Indonesia

Dikalahkan Thailand, Rudy Eka Soroti Permasalahan Besar Timnas Putri Indonesia

Liga Indonesia
IBL 2022, Kata Gunawan soal Jalani Peran Kapten di Amartha Hangtuah

IBL 2022, Kata Gunawan soal Jalani Peran Kapten di Amartha Hangtuah

Sports
Hasil Lengkap Piala Asia Wanita: 4 Tim Tembus Perempat Final, Timnas Putri Indonesia Tumbang

Hasil Lengkap Piala Asia Wanita: 4 Tim Tembus Perempat Final, Timnas Putri Indonesia Tumbang

Liga Indonesia
ONE: Bad Blood - Menanti Comeback “The Terminator” Sunoto

ONE: Bad Blood - Menanti Comeback “The Terminator” Sunoto

Sports
Watford Pecat Claudio Ranieri dari Kursi Kepelatihan

Watford Pecat Claudio Ranieri dari Kursi Kepelatihan

Liga Inggris
Proliga 2022: Hasil dan Klasemen

Proliga 2022: Hasil dan Klasemen

Sports
Chafidz Yusuf Pamit dari PBSI, Greysia Polii dkk Kirim Pesan Menyentuh

Chafidz Yusuf Pamit dari PBSI, Greysia Polii dkk Kirim Pesan Menyentuh

Badminton
Klasemen Grup B Piala Asia Wanita: Australia ke Perempat Final, Indonesia Juru Kunci

Klasemen Grup B Piala Asia Wanita: Australia ke Perempat Final, Indonesia Juru Kunci

Liga Indonesia
Jadwal Timnas Indonesia di Partai Terakhir Piala Asia Wanita 2022

Jadwal Timnas Indonesia di Partai Terakhir Piala Asia Wanita 2022

Liga Indonesia
2 Peninggalan Bersejarah di Rute Perarakan Obor Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022

2 Peninggalan Bersejarah di Rute Perarakan Obor Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022

Sports
Obor Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022 Lalui Peninggalan Bersejarah Dunia

Obor Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022 Lalui Peninggalan Bersejarah Dunia

Sports
Timnas Sepak Bola Thailand: Dangda Bukan Hanya Teerasil

Timnas Sepak Bola Thailand: Dangda Bukan Hanya Teerasil

Sports
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.