Si Cantik di Bangku Cadangan Stadion Kanjuruhan

Kompas.com - 02/12/2015, 08:40 WIB
Adinda Pricilla saat menghampiri pemain Persipasi Bandung Raya (PBR) di laga menghadapi Sriwijaya FC di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (28/11/2015). SUCI RAHAYU/JUARA.netAdinda Pricilla saat menghampiri pemain Persipasi Bandung Raya (PBR) di laga menghadapi Sriwijaya FC di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (28/11/2015).
|
EditorAnju Christian

MALANG, KOMPAS.com - Aba-aba dari wasit membuatnya berlari dengan gesit ke dalam lapangan. Rambutnya yang panjang dan dikuncir tampak bergerak-gerak mengikuti ayunan kaki. Dia dengan cekatan memberikan perawatan kepada pemain yang cedera.

Sosok tersebut adalah Adinda Pricilla atau yang akrab disapa Cia, fisioterapis tim Persipasi Bandung Raya (PBR). Cia muncul sebagai pembeda di tengah dominasi pria di lingkungan sepak bola.

Cia kerap menerima sorakan dari suporter di Stadion Kanjuruhan. Bahkan, ada guyonan. Selain saat terjadinya gol, suporter juga bersorak saat Cia berlari menangani pemain PBR yang membutuhkan perawatan karena cedera.

Akan tetapi, Cia tak merasa canggung dan melihat sikap suporter sebagai sesuatu yang lumrah.

“Tidak perlu canggung karena saat awal sekolah juga sudah tahu pasiennya bakal ada laki-laki dan perempuan,” ucap lulusan Fisioterapi Universitas Kristen Indonesia (UKI) ini.

Tugas Cia di PBR bukan cuma di lapangan. Dia juga harus memantau kondisi pemain yang terkena cedera. Contohnya saat Gaston Castano cedera. Cia menyiapkan serangkaian program dan latihan agar striker PBR itu cepat pulih dari cedera.

“Saya juga menyusun program latihan apa saja yang diperlukan, tentu sesuai dengan kebutuhan pemain yang tengah cedera,” ujarnya.

Terjun ke dunia sepak bola sebagai fisioterapis tidak pernah dibayangkan Cia. Selepas SMA, dia lebih memilih untuk tidak melanjutkan sekolah formal karena bercita-cita menjadi model. Namun, berdasarkan saran sang ibu, dia memilih masuk jurusan Fisioterapi.

Nasihat sang ibu terbukti tepat. Lama-lama, Cia menikmati perannya sebagai fisioterapi.

“Saya kemudian menganggap fisioterapi ini sebagai hobi,” ujarnya.

Cia menuturkan bahwa kiprahnya sebagai fisioterapis di tim sepak bola bukan karena uang, tetapi lantaran kecintaan terhadap olahraga terpopuler ini.

“Sejujurnya, pemasukan utama saya tidak datang dari sepak bola. Saya punya pekerjaan lain, masih ada klinik yang harus saya urusi,” ucap Cia. (Suci Rahayu)

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut


Sumber Juara.net
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X