Brasil adalah negara bola. Sampai ada pepatah, begitu dilahirkan ibunya, seorang anak Brasil sudah menggiring bola di kakinya. Brasil sendiri telah membuktikan apa artinya menjadi negara sepak bola. Mereka lima kali menjadi juara dunia. Lebih daripada sekadar juara, mereka juga dikenal sebagai pelaku sepak bola indah yang dikagumi dunia.

Karena hanya kemenangan yang dihitung, buat Brasil, kekalahan adalah tragedi. Itulah mengapa kekalahan mereka dari Uruguay, 1-2, dalam final Piala Dunia 1950 di Stadion Maracana, Rio de Janeiro, tetap hidup sebagai kenangan pahit yang tak terlupakan sampai sekarang.

Tutur Zico, ”Waktu itu saya belum lahir. Tetapi, ayah saya termasuk 200.000 penonton yang ada di Maracana. Itulah pesta luar biasa setelah Perang Dunia. Brasil adalah tuan rumahnya, tetapi kami ternyata kalah. Bagi kami, itulah tragedi, yang tragisnya mungkin sama dengan tragisnya tragedi Perang Dunia, yang dialami negara-negara lain. Setelah 16 Juli 1950, ayah saya tak mau menjejakkan kakinya lagi di Stadion Maracana. Saya sering main di Maracana. Toh, ayah tetap tak mau ke sana.”

Di Piala Dunia 1950, Brasil tinggal sejengkal dari status juara. Saat itu, tidak ada fase sistem gugur. Yang ada grup final, terdiri atas para juara dari keempat grup penyisihan.

Brasil sudah memimpin, di depan Uruguay, Swedia, dan Spanyol. Dalam partai pamungkas di Maracana tersebut, Brasil sesungguhnya hanya perlu hasil seri melawan Uruguay.

Zico juga pernah mengalami sendiri betapa pahit sebuah kekalahan bagi orang Brasil. Ia dan kawan-kawannya gagal di Piala Dunia 1982. Waktu itu, kecuali Falcao dan Dirceu, semua pemain Brasil bermain dalam liga domestik. Artinya, setiap minggu, orang langsung menonton mereka di stadion-stadion setempat. ”Di jalan-jalan saya melihat, betapa kekecewaan terpantul dalam wajah-wajah mereka,” kenang Zico.

Zico memuji, di bawah Scolari, Brasil dalam Piala Dunia 2014 adalah tim kolektif yang kuat. Mereka langsung bisa menekan lawan. Mereka ingin menjebol gawang lawan sedini mungkin dan tak tergoda untuk mengandalkan serangan balik.

Toh, Zico khawatir juga. Soalnya, menurut Zico, tiga perempat pemain Brasil adalah debutan di Piala Dunia dan dua pertiga dari mereka tidak pernah bermain dalam kualifikasi Piala Dunia. Ada pemain Brasil yang berpengalaman dalam Liga Champions di Eropa. Namun, itu kiranya belumlah modal yang cukup untuk ikut berlaga di tingkat Piala Dunia.