Kompas.com - 20/06/2014, 10:00 WIB
Penulis Ary Wibowo
|
EditorTjatur Wiharyo

Namun, jangan lupa, dalam sepak bola ada batas-batas tertentu yang harus diubah seiring memudarnya era emas para pemain. Begitulah yang terjadi dengan era el Xaviniesta. Xavi kini berusia 34 tahun dan Iniesta sudah memasuki usia kepala tiga. Di level klub dan timnas, kedua pemain itu juga mulai terpisahkan satu sama lain dalam beberapa bulan terakhir.

Di Barcelona, misalnya, Tata Martino lebih sering mencadangkan Xavi karena menilai performa dia sudah menurun. Keputusan itu membuat Iniesta seperti kehilangan sejolinya di lapangan tengah. Cecs Fabregas, atau pun Sergi Roberto dinilai belum bisa menyamai level milik Xavi.

Alhasil, Barcelona kini seakan kehilangan identitasnya. Aliran bola tiki-taka mereka macet jika diperagakan di lapangan. Lionel Messi mulai meredup karena tidak ada lagi sokongan bola dari kaki Xavi dan Iniesta. Era kejayaan emas Barcelona pun dianggap mulai runtuh karena pada musim lalu sama sekali gagal meraih gelar satu pun.

Contoh lain kuatnya pengaruh el Xaviniesta terhadap roh tiki-taka bisa dilihat dari permainan Bayern Muenchen di bawah asuhan Guardiola. Mereka memang mempunyai pemain sekelas Arjen Robben dan Franck Ribery. Namun, jika ingin menerapkan tiki-taka di skuad Die Rotten, Pep bisa jadi keliru, karena di lini tengah mereka tidak mempunyai maestro seperti Xavi dan Iniesta.

Alhasil, permainan Bayern ibarat sayur tanpa garam. Kecepatan Robben dan Ribery di sisi sayap lapangan tidak diimbangi dengan aliran bola dari lini tengah. Begitu bertemu dengan tim yang mengandalkan serangan balik dan sistem organisasi pertahanan yang rapat, organisasi permainan mereka justru menjadi berantakan.

Toh, beberapa tim yang kini telah mencampakkan kiblat penguasaan bola masih bisa menikmati sukses. Sebut saja klub seperti Atletico Madrid, Borussia Dortmund, Chelsea dan bahkan Real Madrid yang mulai terbiasa menerapkan doktrin pragmatis ala Jose Mourinho. Mereka mengutamakan barisan pertahan yang kuat dan menyerang melalui serangan balik.

Saat menghadapi Bayern di leg pertama semifinal Liga Champions 2013-14, Madrid hanya menguasai bola sebanyak 37 persen. Namun, hasil akhirnya justru Bayern-lah yang hancur setelah tersingkir dengan agregat 0-5. Hasil itu secara tidak langsung memberi pelajaran berharga bagi Pep Guardiola bahwa nilai satu-satunya dari sepak bola adalah gol.

Sebenarnya tanda-tanda keruntuhan tiki-taka sudah terlihat dari permainan Spanyol pada Piala Eropa 2012. Meski berhasil menjadi kampiun, Spanyol sangat minim dalam urusan mencetak gol dan lebih parah lagi mereka terkesan mandul. Belum lagi melihat tersingkirnya Barcelona dengan agregat 0-7 dari Bayern Muenchen di semifinal Liga Champions 2012-13.

Setelah itu, lihat pula saat Spanyol dikalahkan Brasil 0-3 di final Piala Konfederasi 2013. Pada Piala Dunia 2014 sendiri, dari dua laga Grup B, Spanyol hanya mencetak satu gol saat menghadapi Belanda. Itu pun lewat hadiah tendangan penalti.

Ketika melawan Cile, terlihat jelas tiki-taka Spanyol kembali macet di lapangan. Sepanjang 90 menit, para pemain Cile tanpa lelah melakukan pressing kepada para pemain Spanyol. Iniesta semakin kebingungan karena tandemnya Xavi berada di bangku cadangan. Bersama Pedro dan David Silva, Iniesta kesulitan membongkar rapatnya pertahanan Cile.

Alhasil, petaka kembali menghampiri skuad La Furia Roja. Melalui serangan balik, Cile berhasil membobol gawang Iker Casillas dua kali. Kedidayaan Spanyol pun benar-benar runtuh karena setelah wasit meniup peluit panjang skor 0-2 tetap terpampang di papan skor raksasa Stadion Maracana.

Dari kekalahan itu pula bisa dibilang merupakan akhir dari era orkes tiki-taka el Xaviniesta. Bagi Xavi, mungkin dia tidak akan pernah lagi bermain untuk Spanyol. Namun, Iniesta akan menjadi harapan untuk membimbing para gelandang muda Spanyol dalam dua atau tiga tahun ke depan agar lonceng kematian tiki-taka tidak cepat berbunyi.

"Tim yang lebih baik belum tentu menang. Ada yang lebih besar daripada hasil pertandingan, yang akan lebih abadi dan yang akan memberikan kenangan yang akan selalu diingat orang." - Xavi Hernandez

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Daftar Wakil Indonesia di Semifinal BWF World Tour Finals 2022

Daftar Wakil Indonesia di Semifinal BWF World Tour Finals 2022

Badminton
BWF World Tour Finals 2022: Fajar/Rian Enggan Pikirkan Lawan di Semifinal

BWF World Tour Finals 2022: Fajar/Rian Enggan Pikirkan Lawan di Semifinal

Badminton
Inggris Vs Perancis, Deschamps Khawatirkan Kecepatan Three Lions

Inggris Vs Perancis, Deschamps Khawatirkan Kecepatan Three Lions

Internasional
Prediksi Kroasia Vs Brasil - Meski Sulit, Modric dkk Bukan Tim Kemarin Sore

Prediksi Kroasia Vs Brasil - Meski Sulit, Modric dkk Bukan Tim Kemarin Sore

Internasional
Eksklusif Piala Dunia 2022: Melihat Penginapan Unik Caravan City

Eksklusif Piala Dunia 2022: Melihat Penginapan Unik Caravan City

Internasional
Hasil BWF World Tour Finals 2022: Ahsan/Hendra Kalah dan Tempati Runner-up

Hasil BWF World Tour Finals 2022: Ahsan/Hendra Kalah dan Tempati Runner-up

Sports
Belanda Vs Argentina: Tawa Louis Van Gaal Saat Ditanya soal Cara Hentikan Messi

Belanda Vs Argentina: Tawa Louis Van Gaal Saat Ditanya soal Cara Hentikan Messi

Internasional
Persib Vs Persebaya, Misi Bajul Ijo Patahkan Rekor Maung Bandung

Persib Vs Persebaya, Misi Bajul Ijo Patahkan Rekor Maung Bandung

Liga Indonesia
Hasil BWF World Tour Finals 2022: Debut Manis Rinov/Pitha Lolos ke Semifinal

Hasil BWF World Tour Finals 2022: Debut Manis Rinov/Pitha Lolos ke Semifinal

Sports
Anthony Ginting Sempurna: Ingin Berjuang Bersama Jonatan Christie

Anthony Ginting Sempurna: Ingin Berjuang Bersama Jonatan Christie

Sports
Piala Dunia 2022: Portugal Lebih Bermain Sebagai Tim Tanpa Cristiano Ronaldo

Piala Dunia 2022: Portugal Lebih Bermain Sebagai Tim Tanpa Cristiano Ronaldo

Internasional
Kroasia Vs Brasil, Vinicius Jr Minta Casemiro Redam Luka Modric

Kroasia Vs Brasil, Vinicius Jr Minta Casemiro Redam Luka Modric

Internasional
BWF World Tour Finals 2022: Kegigihan Gregoria, Tahan Sakit demi Tuntaskan Laga

BWF World Tour Finals 2022: Kegigihan Gregoria, Tahan Sakit demi Tuntaskan Laga

Badminton
Piala Dunia 2022: Turun Hujan, Akhirnya Merasakan Fenomena Langka

Piala Dunia 2022: Turun Hujan, Akhirnya Merasakan Fenomena Langka

Internasional
Studi: Kesehatan Otak Pesepak Bola Turun Mulai Usia 65 Tahun, Ada Faktor Sundulan Kepala Berulang

Studi: Kesehatan Otak Pesepak Bola Turun Mulai Usia 65 Tahun, Ada Faktor Sundulan Kepala Berulang

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.