Kisah Ponaryo yang Sempat Canggung Latih Boaz Solossa

Kompas.com - 21/07/2020, 10:40 WIB
Ponaryo Astaman, General Manajer Asosiasi Pesepak Bola Profesional Indonesia (APPI) saat menjadi pembicara dalam webinar. KOMPAS.com/Suci RahayuPonaryo Astaman, General Manajer Asosiasi Pesepak Bola Profesional Indonesia (APPI) saat menjadi pembicara dalam webinar.

JAKARTA, KOMPAS.com - Apa yang terjadi dibenak seorang pelatih apabila melatih mantan rekan setimnya semasa aktif bermain?

Mungkin perasaan canggung akan terlintas di benak seorang pelatih tersebut. Hal demikian dirasakan oleh Ponaryo Astaman saat harus melatih rekan setimnya di Timnas Indonesia, Boaz Solossa.

Itu terjadi saat mantan pemain Sriwijaya FC menjadi asisten pelatih Borneo FC pada gelaran Piala Presiden 2015.

Baca juga: Pengubur Mimpi Timnas Indonesia di AFF 2010 Ini Menaruh Hormat pada Boaz Solossa

Meski sempat canggung karena harus memberi instruksi Ponaryo Astaman mengakui jika rasa canggung itu hanya terjadi diawal-awal saja. Selepas itu dia dapat berkomunikasi baik dengan Boaz.

Dia mengaku menjadi lebih paham keinginan Boas Salossa dan juga sebaliknya, Boaz menjadi mengerti apa yang diinginkannya.

“Justru apa ya, saya merasakannya lebih mudah karena pernah main bareng. Jadi mudah komunikasinya walaupun awalnya canggung. Dulu ngobrol sebagai sesama pemain dan waktu itu harus ngobrol sebagai pelatih dan pemain ya canggung juga,” kata pria yang memulai kariernya bersama Persiba Balikpapan saat live instagram bersama @Borneofc.id.

“Tapi itu diawal saja selanjutnya lebih gampang memahami maunya Boas seperti apa. Jadi lebih banyak tahu,” imbuhnya.

Ponaryo Astaman menyebutkan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh seorang pelatih. Hal tersebut menurutnya adalah kejujuran dan ketegasan.

Kedua hal itu penting dimiliki oleh seorang pelatih jika ingin membangun tim yang kompak dan solid.

“Jujur dan tegas, jujur dalam memberi tahu opini, strategi dan siapa saja pemain yang akan diturunkan di pertandingan dan pertimbangannya apa serta keperluannya apa," tutur mantan pemain PSM Makassar.

"Komunikasi juga harus bagus, tegas tapi bukan berarti otoriter. Tidak pilih-pilih pemain dan tidak menganakemaskan pemain tertentu,” pungkasnya.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X