Bepe Sebut Orang Indonesia Suka yang Instan, Termasuk Prestasi

Kompas.com - 19/12/2019, 21:00 WIB
Bambang Pamungkas merayakan golnya selama pertandingan sepakbola AFF Suzuki Cup melawan Kamboja di Jakarta Bambang Pamungkas merayakan golnya selama pertandingan sepakbola AFF Suzuki Cup melawan Kamboja di Jakarta
Penulis Alsadad Rudi
|

Terlepas dari apapun hasilnya, bagi Bepe, apa yang terjadi pada Alfred Riedl, Wim Rijsbergen, Nilmaizar, dan Manuel Blanco adalah cerminan betapa tidak menghargainya para pengurus PSSI dalam memperlakukan pelatih tim nasional.

Baca juga: Bambang Pamungkas dan soal Memfasilitasi Kebencian di Komentar Instagram

Menurut Bepe, para pengurus PSSI tidak pernah paham bahwa salah satu faktor yang membuat tim nasional Indonesia tidak pernah berhasil menjadi sebuah tim yang solid karena terlalu seringnya tim nasional bergonta-ganti pelatih.

Bepe menilai alangkah sangat bijaksananya jika para pelatih diberi waktu yang lebih panjang dalam menangani tim nasional.

Tujuannya agar mereka dapat menerapkan seluruh ilmunya dengan maksimal.

Ia kemudian mencontohkan Singapura yang sempat bertahan dengan Radjoko Avramovic.

Meski sempat gagal total di SEA Games Filipina 2005, kesabaran Federasi Sepak Bola Singapura membuahkan hasil dengan torehan tiga kali juara Piala AFF yang dipersembahkan Avramovic selama sembilan tahun menangani timnas Singapura.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Demikian juga Vetnam yang sempat mempercayai Alfred Ridel memimpin selama lebih dari lima tahun hingga akhirnya mampu membentuk sebuah tim nasional yang kuat.

Contoh lain adalah Peter Withe yang sempat dipercaya lima tahun memimpin timnas Thailand dengan torehah dua kali Piala AFF.

Baca juga: Bepe Pensiun, yang Tak Ingin Ada Bambang Pamungkas Selanjutnya...

"Dalam segala hal bangsa ini memang selalu ingin instan, tidak hanya mie atau buburnya saja, prestasi juga kalau bisa instan. Kita tidak pernah dapat menikmati, dan menghargai apa itu yang dinamakan proses," kata Bepe.

"Yang ingin saya kemukakan di sini adalah mengapa kita tidak belajar untuk memberikan jangka waktu yang lebih lama bagi seorang pelatih untuk menangani tim nasional, agar pelatih tersebut mempunyai waktu yang cukup untuk menanamkan filosofi serta sistem permainannya. Sehingga pada akhirnya tim nasional yang kuat itu akan terwujud," ucap dia.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X