KOMPAS.com - Pertandingan antara Kolombia dan Pantai Gading di Stadion Nasional, Brasilia, Kamis (19/6/2014), akan berlangsung menarik. Selain diisi pertemuan dua gaya sepak bola berbeda, pertandingan juga akan diwarnai duel dua bintang veteran. Serangan energik Pantai Gading yang dimotori Didier Drogba (36) akan dihadang ketat oleh Mario Yepes (38) di lini bawah Kolombia.

Pantai Gading diprediksi akan menampilkan pola permainan cepat dan bertenaga seperti saat menang atas Jepang, 2-1. Bedanya, sang jimat Drogba kemungkinan akan langsung diturunkan sejak wasit Howard Webb asal Inggris meniup peluit awal laga.

Kondisi itu akan menjadi problem Kolombia yang sudah mengenal kekuatan lawan. Pelatih Jose Pekerman diperkirakan menyusun skuad awal sama seperti melawan Yunani.

Menurut gelandang Kolombia, Freddy Guarin, timnya akan menguasai bola demi mengungguli kecepatan dan kekuatan Pantai Gading. Pemain Inter Milan itu menyatakan, timnya menerapkan pola seimbang antara menyerang dan bertahan yang didukung kemampuan individual rata-rata lebih baik.

”Fisik kuat dan tidak takut merebut bola di segala lini. Namun, kami akan menguasai pertandingan dengan umpan terarah untuk menang. Untuk memukul mereka, kami punya rencana dan sama sekali tidak akan ragu menjalankannya,” ujarnya.

Pantai Gading dan Kolombia sebenarnya belum mengenal gaya bermain lawan secara langsung. Keduanya belum pernah bertemu dalam duel tingkat senior, hanya di turnamen Toulon U-21 tahun 2010 dan 2011 dengan rekor saling mengalahkan.

Untuk tingkat regional, keduanya memiliki rekor setara. Kolombia menjadi juara Amerika Selatan 2001, sementara Pantai Gading juara Afrika 1992. Dalam rekor Piala Dunia, Kolombia lebih baik dibandingkan dengan Pantai Gading yang belum pernah lolos ke 16 besar.

Peluang lolos

Pelatih Pantai Gading Sabri Lamouchi makin yakin dengan kekuatan timnya. Saat melawan Jepang, Drogba dianggap target yang harus dijaga ketat sampai mengorbankan pertahanan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

”Kehadirannya (Drogba) membuat situasi berbeda. Dia harus dijaga dua-tiga pemain sehingga situasi kami menguntungkan,” kata Lamouchi.

Pelatih asal Perancis itu juga memuji Yaya Toure, yang tetap memberi yang terbaik meski masih berkutat dengan cedera hamstring. ”Dengan dua pemain itu, menjadi lebih mudah,” ujar Lamouchi, yang memperkirakan akan terjadi duel keras di antara para veteran.

Lamouchi yakin, dia akan membuat sejarah meloloskan timnya ke 16 besar untuk pertama kali sejak keikutsertaan Piala Dunia 2006 dan 2010. Pada Piala Dunia 2010, tim ”Gajah” berharap lolos ke babak sistem gugur setelah menahan Portugal 0-0 (pada partai pembuka), kalah dari Brasil 1-3, dan menang atas Korea Utara 0-3. Sayang, mereka harus puas di posisi ketiga karena Portugal menang 7-0 atas Korea Utara dan imbang 0-0 dengan Brasil.

Kini penampilan Pantai Gading lebih baik dibandingkan dengan penampilan di Piala Dunia 2006 dan 2010 karena menang dalam pertandingan perdana di Brasil. Peluang lolos semakin besar karena mereka tinggal lawan Kolombia dan Yunani, yang memiliki kemampuan setara. (AFP/Reuters/SAH)