Kompas.com - 01/04/2013, 07:34 WIB
EditorDaniel Sasongko

Oleh Yesayas Oktovianus

Ketika Djohar Arifin mengambil tongkat komando kepemimpinan PSSI dari Nurdin Halid, belum ada prestasi membanggakan yang ditorehkan sepak bola lewat prestasi tim senior. Kompetisi strata tertinggi juga karut-marut dengan penjadwalan pertandingan dan tunggakan utang. Organisasi PSSI amburadul sehingga tiga kali Djohar melakukan penggantian sekretaris jenderal. Terakhir, Djohar melakukan beberapa keputusan tidak populer menjelang dan selama Kongres Luar Biasa PSSI 17 Maret di Jakarta.

Harus diakui pula, selama hampir dua tahun, kepengurusan Djohar dirongrong oleh kelompok yang tidak puas dengan kepemimpinan PSSI. Klimaksnya terjadi di KLB dan secara tidak langsung kelompok ini telah ”mengudeta” kepengurusan Djohar dalam sebuah kongres yang bertajuk rekonsiliasi.

Pertanyaannya: mau sampai kapan mereka ini terus ribut?

Perlu diluruskan

Perlu disadari, PSSI bukanlah milik dua kubu yang terus tarik-menarik dan berebutan kepentingan. PSSI juga milik pemerintah, stakeholder, dan masyarakat. Untuk itu, pihak-pihak di luar PSSI ini perlu terus mengawal dan mengawasi proses dan perkembangan yang terjadi di PSSI. Pemerintah, dalam hal ini Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo, adalah pihak terdepan yang bisa menuntaskan konflik jika kembali muncul di tubuh PSSI, terutama menjelang kongres biasa tahun ini.

Sebagai pengawas keolahragaan nasional, pemerintah perlu menyadari benih yang subur bakal menimbulkan konflik menjelang kongres biasa. Benih-benih itu justru muncul dari hasil KLB. Misalnya, penetapan tempat dan tanggal kongres biasa, penyebutan nama empat anggota Komite Eksekutif PSSI tambahan, tindakan menskors enam anggota Komite Eksekutif, penolakan terhadap 18 pengurus provinsi yang dipilih lewat musyawarah daerah luar biasa dan tetap memakai voters Solo 2011 di kongres biasa.

Federasi Asosiasi Sepak Bola Internasional (FIFA) lewat Sekretaris Jenderal Jerome Valcke telah menyurati Wakil Ketua Umum PSSI Farid Rahman tertanggal 22 Maret 2013 dengan menyebut, badan tertinggi sepak bola dunia itu hanya mengakui tiga agenda dalam kongres, yaitu penyatuan dua liga, pengembalian empat anggota Komite Eksekutif, dan revisi statuta. Berarti, semua keputusan lain dikesampingkan.

Sebagai orang nomor satu dan paling bertanggung jawab di PSSI, Djohar harus meluruskan ini kepada jajarannya sehingga menghindari timbulnya konflik horizontal jelang kongres biasa.

Konflik lain yang rawan muncul sebelum kongres adalah dualisme tentang eksistensi Badan Tim Nasional (BTN). Ini imbas pemecatan pelatih timnas senior Luis Manuel Blanco (Argentina) jelang Indonesia melawan Arab Saudi di Pra-Piala Asia dan digantikan dengan Rahmad Darmawan. Untuk menyelesaikannya, PSSI akan mengadakan rapat Komite Eksekutif pekan ini. Kita perlu menyambut baik rapat yang akan diikuti sembilan anggota, Ketua Umum PSSI, dan Wakilnya ini.

Empat anggota Komite Eksekutif tambahan, sesuai revisi statuta, belum bisa ikut karena baru akan dipilih lewat kongres sesuai mekanisme pemilihan Komite Eksekutif. Empat anggota Komite Eksekutif tambahan itu juga belum punya surat keputusan dari Ketua Umum PSSI. Merujuk surat Jerome Valcke, 22 Maret lalu, FIFA masih tetap mengakui hanya sembilan anggota Komite Eksekutif ditambah Ketua Umum Djohar dan Wakil Ketua Umum Farid Rahman.

Tindakan menskors enam anggota Komite Eksekutif yang melakukan walk out karena merasa KLB sudah berakhir juga perlu ditinjau lagi. Sementara rencana PSSI pasca-KLB untuk membekukan kepengurusan 18 pengprov perlu disikapi secara hati-hati.

Djohar tegas mengatakan, ke-18 pengprov adalah pengurus yang sah saat ini. Hanya, mereka tidak diikutkan dalam KLB karena bukan voters Solo. ”Di kongres berikut, mereka sudah bisa ikut sebagai voters,” kata Djohar dalam pertemuan sejumlah anggota Komite Eksekutif dengan Menpora

Jika kongres biasa jadi dilaksanakan 6 Juni 2013, perlu dicermati betul para pesertanya ketika melakukan verifikasi. Yang rawan menimbulkan chaos adalah memverifikasi peserta dari kompetisi strata tertinggi (IPL dan ISL) serta Divisi Utama. Semoga rapat Komite Eksekutif pekan ini akan menelurkan keputusan lebih bijaksana. Harapan kita, utamakan kepentingan sepak bola, kesampingkan kepentingan kelompok, sudahilah keributan.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ulah Suporter Bikin Atalanta Didenda Rp 162 Juta dan AC Milan Rp 48 Juta

Ulah Suporter Bikin Atalanta Didenda Rp 162 Juta dan AC Milan Rp 48 Juta

Liga Italia
Klasemen Liga 1: Persib Tiga Besar, Bhayangkara Gusur Arema FC dari Puncak

Klasemen Liga 1: Persib Tiga Besar, Bhayangkara Gusur Arema FC dari Puncak

Liga Indonesia
Juventus Bidik Juara Liga Champions meski Kesulitan di Serie A

Juventus Bidik Juara Liga Champions meski Kesulitan di Serie A

Liga Italia
Hasil Liga 1: Persib 3 Poin, Bhayangkara FC Runtuhkan Tren Positif Persebaya

Hasil Liga 1: Persib 3 Poin, Bhayangkara FC Runtuhkan Tren Positif Persebaya

Liga Indonesia
Usai Taklukkan Borneo FC, Pelatih Persib Soroti Kekurangan Maung Bandung

Usai Taklukkan Borneo FC, Pelatih Persib Soroti Kekurangan Maung Bandung

Liga Indonesia
Tahu Kalah dari Lewandowski di FIFA Awards, Messi Tunjukkan Gestur Menyentuh Hati

Tahu Kalah dari Lewandowski di FIFA Awards, Messi Tunjukkan Gestur Menyentuh Hati

Liga Lain
Klub J-League Ini Ingin Buat Patung Iniesta

Klub J-League Ini Ingin Buat Patung Iniesta

Liga Lain
Hasil Bhayangkara FC Vs Persebaya 2-1: Catatkan Comeback, The Guardian ke Puncak Klasemen Liga 1!

Hasil Bhayangkara FC Vs Persebaya 2-1: Catatkan Comeback, The Guardian ke Puncak Klasemen Liga 1!

Liga Indonesia
Pelatih Borneo FC Akui Persib Tampil Lebih Baik dari Pesut Etam

Pelatih Borneo FC Akui Persib Tampil Lebih Baik dari Pesut Etam

Liga Indonesia
Pemilik Juventus Kecewa dengan Sikap Dybala, Inter Milan Siap Terima

Pemilik Juventus Kecewa dengan Sikap Dybala, Inter Milan Siap Terima

Liga Italia
Reaksi Haruna Soemitro Dengar Pendukung Timnas Mulai Turun ke Jalan

Reaksi Haruna Soemitro Dengar Pendukung Timnas Mulai Turun ke Jalan

Liga Indonesia
Merah Putih Diizinkan Berkibar Lagi, Komisi X DPR Apresiasi Menpora dan Tim Satgas

Merah Putih Diizinkan Berkibar Lagi, Komisi X DPR Apresiasi Menpora dan Tim Satgas

Sports
Babak Pertama Bhayangkara FC Vs Persebaya 0-1, Gol Solo Run Taisei Marukawa Jadi Pembeda

Babak Pertama Bhayangkara FC Vs Persebaya 0-1, Gol Solo Run Taisei Marukawa Jadi Pembeda

Liga Indonesia
PSSI Berharap Ipswich Town Izinkan Elkan Baggott Bergabung dengan Timnas

PSSI Berharap Ipswich Town Izinkan Elkan Baggott Bergabung dengan Timnas

Liga Indonesia
Brighton Vs Chelsea: Ketinggalan 13 Angka, Tuchel Tak Terima

Brighton Vs Chelsea: Ketinggalan 13 Angka, Tuchel Tak Terima

Liga Inggris
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.