Kutukan Juara Bertahan Belum Hilang - Kompas.com

Kutukan Juara Bertahan Belum Hilang

Kompas.com - 28/05/2009, 04:40 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Belum ada satu pun tim yang bisa menjuarai Liga Champions selama dua tahun berturut-turut. Juara bertahan seolah terkena kutukan tidak boleh mengulangi sukses pada tahun berikutnya. Itulah yang terjadi pada Manchester United, Kamis (28/5) dini hari WIB.

Kiranya tepat apa yang diprediksikan pelatih Inter Milan, Jose Mourinho, tentang juara Liga Champions musim ini. Sebelum semifinal lalu, Mourinho meramalkan bahwa MU akan lolos ke final, tapi juara kali ini adalah pemenang antara Chelsea dan Barcelona. Ternyata semua terbukti, Barcelona mengalahkan "The Blues", lalu menekuk MU dengan sempurna.

Ya, sempurna. Kata ini tepat diberikan kepada Carles Puyol dkk karena mereka menang dua gol tanpa balas. Kiper Victor Valdes bahkan tak banyak memeras keringat untuk menahan serangan "Setan Merah".

Barcelona sebetulnya tidak seagresif seperti ketika melawan Chelsea di semifinal. Unggul tipis dalam hal penguasaan bola, 53:47, "Blaugrana" tak buru-buru naik lapangan lawan demi mengantisipasi serangan balik MU.

Sulit menyebut permainan apa yang coba diterapkan pelatih MU, Sir Alex Ferguson. Boleh dibilang tak ada serangan balik mematikan dari "Setan Merah". Kecepatan Park Ji-Sung di sayap kanan meluntur karena penjagaan Slyvinho. Wayne Rooney pun mati kutu dalam penjagaan Puyol dan Yaya Toure. Anderson menjadi titik lemah di lapangan tengah karena beberapa kali umpannya gagal menuju kawan dan kurang sigap menutup area daerahnya.

Di lini depan, serangan Ferguson hanya bertumpu pada bidikan-bidikan jarak jauh Cristiano Ronaldo. Di menit-menit awal, senjata ini sempat mengancam gawang Valdes. Akan tetapi, pada akhirnya gerak Ronaldo pun mati oleh kedisiplinan Puyol. Puyol pula yang membuat emosi Ronaldo tak terkendali hingga berbuah kartu kuning bagi Pemain Terbaik tahun lalu itu.

Sang juara bertahan sama sekali tak bisa melakukan penetrasi ke kotak penalti Barca. Info grafik yang diperlihatkan situs ESPN memperlihatkan bahwa pemain MU lebih sering tertahan di sepertiga lapangan Barca. Masuknya Carlos Tevez dan Dimitar Berbatov di babak kedua pun tak banyak membantu tim. MU sudah telanjur kalah di lini tengah akibat kepiawaian Xavi Hernandez dan Andres Iniesta.

"Azulgrana" juga tak terlalu sering menduduki daerah kekuasaan Van der Sar. Namun, begitu masuk kotak, kegesitan Lionel Messi dkk menyita perhatian penonton di pertandingan itu. Dalam kawalan tiga pemain lawan, Messi sering lepas mendekati kotak terlarang. Van der Sar pun sampai geleng-geleng melihat  pemain Argentina itu dengan percaya diri menembus gerendel Nemanja Vidic dan Rio Ferdinand.

Vidic yang disebut-sebut memainkan peran bertahan paling baik musim ini tak kuasa mengawal pergerakan Samuel Eto'o usai mendapat umpan terobosan dari Iniesta. Akibatnya, lahirlah gol pertama di menit ke-10.

Setali tiga uang dengan Ferdinand. Mantan bek Leeds United itu gagal menghentikan aksi Thierry Henry di menit ke-49, tapi untung Van der Sar menjadi benteng kokoh. Ferdinand mengulangi lagi kesalahannya pada menit ke-70. Di atas kertas, pemain setinggi 189 cm itu semestinya bisa menang dalam duel udara versus Messi, yang punya postur hanya 170 cm. Masalahnya, Ferdinand berdiri terlalu jauh saat Messi mendapat umpan matang dari Xavi. Ferdinand yang sudah tahu bahwa Messi berdiri di belakangnya hanya bisa bengong melihat Messi menanduk bola dari Xavi meski posisi Messi kurang sempurna untuk menyundul.

Secara keseluruhan, Barcelona tampil lebih baik dibanding MU. Bagian sayap yang disebut-sebut menjadi kelemahan dari Barca ternyata lebih tangguh dari dugaan. Adapun MU masih belum bisa mengatasi gelandang-gelandang Barca, termasuk Messi yang sering bermain ke tengah. Sihir Messi, man of the match pada laga itu, telah mendatangkan kutukan bagi sang juara bertahan MU, sama seperti yang dialami Juventus pada 1997 atau AC Milan pada 1995.

Editor

Terkini Lainnya


Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM