Dekade 2010-2019, Penurunan Drastis Prestasi Sepak Bola Indonesia

Kompas.com - 03/01/2020, 09:00 WIB
Skuad timnas Indonesia jelang laga keempat kualifikasi Piala Dunia 2022 Zona Asia Grup G melawan Vietnam di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Giantar, Bali, Selasa (15/10/2019) malam. DOK. ALVINO HANAFISkuad timnas Indonesia jelang laga keempat kualifikasi Piala Dunia 2022 Zona Asia Grup G melawan Vietnam di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Giantar, Bali, Selasa (15/10/2019) malam.
Penulis Alsadad Rudi
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Tahun 2019 telah berlalu dan menjadi penanda berakhirnya dekade 2010-an.

Sepanjang satu dekade terakhir, prestasi sepak bola Indonesia bisa dibilang mengalami penurunan prestasi yang signifikan.

Kompas.com merangkum empat faktor yang bisa menjadi tolok ukur kemerosotan prestasi sepak bola Indonesia, baik tim nasional maupun kompetisi liga nasional.

Berikut faktor-faktor tersebut:

1. Peringkat FIFA

Indonesia menjadi negara yang mengalami penurunan peringkat FIFA paling signifikan di antara negara-negara Asia Tenggara lainnya dalam sedekade terakhir.

Awal 2010, Indonesia sempat memiliki ranking FIFA tertinggi kedua se-Asia Tenggara. Tim Merah Putih berada di posisi ke-127 ranking FIFA pada 2010.

Indonesia hanya berselisih enam strip dari Thailand sebagai pemilik peringkat tertinggi di antara wakil Asia Tenggara.

Namun, penampilan buruk timnas Indonesia pada tahun 2011 membuat tim Garuda harus terjun bebas ke posisi 142 ranking FIFA.

Bukannya membaik, peringkat Indonesia justru semakin merosot dari tahun ke tahun.

Pada 2015, Indonesia bahkan harus berada di bawah Timor Leste dan Laos. Tim Garuda menempati peringkat ke-179 ranking FIFA pada edisi 2015.

Baca juga: Ranking FIFA Negara ASEAN Satu Dekade Terakhir, Indonesia Merosot

Kehadiran pelatih asal Spanyol, Luis Milla, sempat memberi dampak positif pada sepak bola Indonesia pada 2017.

Satu setengah tahun menjabat, Luis Milla turut mengantarkan Indonesia naik ke posisi 159 peringkat FIFA.

Indonesia unggul enam tingkat dari negeri jiran, Malaysia. Akan tetapi, kontrak Luis Milla tak diperpanjang dan kursi kepelatihan dilanjutkan oleh Simon McMenemy pada 2019.

Pelatih Timnas Indonesia, Simon McMenemy memberi instruksi ke pemainnya.pssi.org Pelatih Timnas Indonesia, Simon McMenemy memberi instruksi ke pemainnya.

Di tangan Simon, Indonesia semakin terpuruk dengan menelan lima kekalahan di fase grup Kualifikasi Piala Dunia 2022 Zona Asia.

Akibatnya, timnas Indonesia menjadi juru kunci klasemen Grup G Kualifikasi Piala Dunia 2022 Zona Asia.

Hal tersebut kian membuat posisi Indonesia di ranking FIFA menurun drastis. Indonesia harus menerima kenyataan berada di posisi ke-173 ranking FIFA pada update terakhir 19 Desember 2019.

Baca juga: Semoga Shin Tae-yong Tak Menjadi Korban Tagar #Out Berikutnya...

Indonesia memiliki poin sama dengan Kamboja serta tertinggal jauh dari Malaysia dan Singapura.

Jika dihitung sejak 2010, Indonesia telah menurun sejauh 46 peringkat FIFA.

Indonesia tercatat sebagai negara ASEAN dengan catatan penurunan peringkat paling tajam.

Sementara itu, Vietnam menjadi tim dengan tingkat kemajuan paling baik di antara negara Asia Tenggara.

Vietnam saat ini naik ke posisi 94 dari sebelumnya menempati peringkat 173 FIFA pada 2010.

2. Prestasi di Piala AFF

Selain peringkat FIFA, tolok ukur prestasi timnas Indonesia juga bisa dilihat pada Piala AFF.

Ada lima turnamen Piala AFF yang digelar selama dekade 2010-2019.

Hasilnya, timnas Indonesia dua kali menjadi finalis (2010 dan 2016), tetapi tiga kali gagal lolos dari fase grup, tepatnya pada turnamen edisi 2012, 2014, dan 2018.

Padahal, pada dekade 2000-2009, timnas Indonesia tiga kali menjadi finalis (2000, 2002, 2004), satu kali menjadi semifinalis (2008), dan hanya satu kali gagal lolos dari fase grup (2006).

Baca juga: Jangan Sampai Piala Presiden Bikin Timnas Indonesia Babak Belur di Piala AFF 2020

3. Prestasi Piala Asia

Selama dekade 2010-2019, timnas Indonesia sudah tidak pernah lagi berlaga di turnamen sepak bola paling prestise di kawasan Asia, yakni Piala Asia.

Timnas Indonesia absen pada Piala Asia 2011, 2015, dan 2019.

Padahal, pada dekade 2000-2009, timnas Indonesia selalu tampil di Piala Asia, masing-masing pada edisi tahun 2000, 2004, dan saat menjadi tuan rumah bersama Thailand, Vietnam, dan Malaysia pada 2007.

Sepanjang keikutsertaan di Piala Asia, timnas Indonesia tidak pernah lolos dari fase grup.

Pesepak bola timnas Indonesia, Alberto Goncalves melakukan selebrasi usai mencetak gol ke gawang timnas Malaysia saat pertandingan Kualifikasi Piala Dunia 2022 Grup G Zona Asia di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Kamis (5/9/2019). Tim nasional Indonesia menelan kekalahan dari Malaysia dengan skor 2-3.KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Pesepak bola timnas Indonesia, Alberto Goncalves melakukan selebrasi usai mencetak gol ke gawang timnas Malaysia saat pertandingan Kualifikasi Piala Dunia 2022 Grup G Zona Asia di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Kamis (5/9/2019). Tim nasional Indonesia menelan kekalahan dari Malaysia dengan skor 2-3.

4. Level Liga

Penurunan level Liga Indonesia bisa terlihat dari koefisien AFC dan jumlah slot wakil klub di kompetisi klub paling bergengsi, yakni Liga Champions Asia.

Setelah 2011, tercatat tak ada lagi klub Indonesia yang pernah berlaga di fase grup Liga Champions Asia.

Arema tercatat menjadi klub Indonesia yang terakhir mewakili Indonesia di fase grup.

Pada tahun 2011, Arema bisa lolos langsung karena Indonesia masih mendapat satu slot di fase grup.

Pada 2012, Indonesia sudah kehilangan slot lolos langsung di fase grup. Pada tahun tersebut, Persipura Jayapura sempat tampil di babak play-off sebelum dikandaskan wakil Austria, Adelaide United.

Pada 2018 dan 2019, Indonesia hanya mendapat satu slot, itu pun di babak kualifikasi tahap satu.

Pemain, official dan manajemen Bali United merayakan juara Liga 1 2019 di Stadion Kapten I Wayan Dipta Gianyar, Bali, Minggu (22/12/2019) malam.KOMPAS.com/SUCI RAHAYU Pemain, official dan manajemen Bali United merayakan juara Liga 1 2019 di Stadion Kapten I Wayan Dipta Gianyar, Bali, Minggu (22/12/2019) malam.

Baca juga: Suporter Brutal, Jadwal Liga Berantakan, Timnas Babak Belur

Artinya, juara Indonesia harus melalui tiga tahap untuk mencapai fase grup, yang masing-masing tahap satu, tahap dua, dan play-off.

Padahal, pada dekade sebelumnya, Indonesia sempat rutin mendapat dua slot lolos langsung di fase grup, seperti pada edisi 2004, 2005, 2006, dan 2007.

Pada 2009 hingga 2011, Indonesia masih mendapat satu slot langsung di fase grup walaupun jumlahnya menjadi hanya tinggal satu klub.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X