Yang Menentukan dari Mahal atau Tidaknya Penerapan VAR

Kompas.com - 30/11/2019, 11:00 WIB
Para pemain Jerman dan Australia menunggu hasil diskusi wasit dengan tim panel VAR soal keabsahan gol Tom Juric pada laga Grup B Piala Konfederasi di Sochi, Senin (19/6/2017). AFP/FRANCK FIFEPara pemain Jerman dan Australia menunggu hasil diskusi wasit dengan tim panel VAR soal keabsahan gol Tom Juric pada laga Grup B Piala Konfederasi di Sochi, Senin (19/6/2017).
Penulis Alsadad Rudi
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Penerapan asisten wasit video atau VAR dalam pertandingan sepak bola banyak dinilai menyedot biaya yang besar.

Namun, sebenarnya ada beberapa faktor yang bisa menentukan mahal atau tidaknya penerapan VAR.

Direktur Teknik International Football Association Board ( IFAB) David Elleray mengatakan, mahal atau tidaknya VAR bergantung pada infrastruktur pendukung yang tersedia di wilayah tempat stadion berada.

Elleray kemudian mencontohkan keberadaan jaringan fiber optik yang sangat menentukan dalam penerapan VAR.

"Kalau memang infrastrukturnya sudah ada, biayanya jadi lebih murah. Namun, kalau jaringan fiber optik belum ada dan harus dipasang dulu, tentu biayanya jadi lebih mahal," kata Elleray saat kunjungannya ke Jakarta, Kamis (28/11/2019).

Selain infrastruktur, Elleray menyebut biaya lain yang harus dikeluarkan dalam persiapan penerapan VAR adalah pelatihan wasit.

"Biaya edukasi juga terkait jumlah wasit. Semakin banyak tentu semakin mahal, dan berapa banyak pelatihan yang diadakan. Namun, semakin banyak pelatihan tentu semakin meningkatkan kualitas ke depan," ujar Elleray.

Baca juga: Petinggi IFAB ke Indonesia untuk Bahas Penerapan VAR

Untuk peralatan yang digunakan, Elleray menyatakan alat yang dipakai harus berasal dari perusahaan penyedia yang sudah masuk dalam daftar rekomendasi IFAB maupun FIFA.

"Perusahaan penyedia harus yang ada dalam list FIFA dan IFAB. PSSI tidak bisa mengambil perusahaan lain dengan alasan murah karena itu bisa bikin berantakan," kata Elleray.

"Jadi seperti halnya dokter. Anda ketika sakit lebih memilih datang ke dokter yang berijazah atau ke mereka yang hanya mengaku-ngaku dokter sambil menjanjikan yang murah. Jadi, kami melindungi kompetisi dengan cara menggunakan perusahaan berlisensi," ucap Elleray.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X