Mantan CEO PSS Sleman dan Calon Exco PSSI Berbagi Cerita Tentang Timnas Indonesia

Kompas.com - 23/10/2019, 19:40 WIB
Mantan CEO PSS Sleman, Viola Kurniawati. KOMPAS.com/SUCI RAHAYUMantan CEO PSS Sleman, Viola Kurniawati.

SURABAYA, KOMPAS.com – Viola Kurniawati, eks CEO PSS Sleman buka suara dalam diskusi #PSSIHARUSBAIK2 yang berlangsung di Graha Pena, Surabaya.

Ia menyebutkan kondisi dilema yang harus dialami oleh setiap klub untuk berkompetisi musim ini. Mengutamakan kepentingan klub atau timnas?

“Bicara jadwal tim nasional itu sangat menarik. Buat saya pribadi, seperti menjawab pertanyaan, duluan mana ayam atau telur? Ada yang bilang ayam dulu karena telur keluar dari ayam. Ada yang bilang telur dulu, karena ayam keluar dari telur,” ujar Viola.

Dari pengalaannya ketika memegang kebijakan di PSS Sleman, dia mengalami sendiri bagaimana klub dan pemainnya dilanda kebingungan dengan kebijakan dari PSSI.

Sebab, klub secara moral memiliki kewajiban moral untuk menyumbang pemain. Namun, pemain juga memiliki asas profesionalitas. Ketika tim membutuhkan dia, maka pemain tersebut harus bekerja di klub yang menggajinya.

“Ada profesional yang jadi korban. Ada case, dengan jarak 24 jam, pemain dari timnas, langsung kembali bermain bagi tim. Kami saat itu di dalam klub mempertanyakan, kenapa klub yang harus berkorban? Sedangkan kalau enggak melepas pemain disalahkan,” ungkap dia.

Baca juga: Daftar Calon Tetap Ketua Umum PSSI Periode 2019-2023

Viola menuturkan, paling penting untuk mengatasi keringnya prestasi dan sering berubahnya jadwal pertandingan adalah ketegasan dan konsistensi federasi.

“Untuk membuat jadwal, harus tegas dan konsisten. Klub itu backbone dari segala aktivitas sepak bola di Indonesia. Dalam hal ini ada 18 klub Liga 1 yang didaulat sebagai klub profesional, harus melibatkan mereka juga sejak awal,” terang dia.

Viola memahami jadwal yang dibuat untuk Liga 1 ini, yang membuat klub pun harus melewati proses taktis dalam hal pengambilan kebijakan.

Pasalnya, kompetisi harus mundur atau tertunda dengan situasi politik.

“Kami sebagai peserta Liga 1 dan member PSSI harus tunduk pada statute dan PSSI sebagai orang tua sendiri. Lalu memang jadwal Liga harus selesai Desember. Balik lagi karena kontrak pemain (sebagian besar kontrak berakhir Desember) dan penentuan juara akan didaftarkan ke AFC Cup,” jelasnya.

“Untuk itu, jika PSSI memiliki rencana jangka panjang, memang akan mempermudah klub sebagai peserta,” tambah Viola.

Bahkan, bila perlu jadwal tersebut sampai ke tingkat bawah, seperti Asprov. “Jadwal Liga sudah disesuaikan, karena untuk program jangka pendek, FIFA Matchday itu (jadwal) bisa didownload,” imbuhnya.

“Tetapi sebenarnya bentrok itu adalah pada kebijakan PSSI dengan head coach ( Timnas Indonesia) yang sudah ditunjuk PSSI. Waktu itu, Simon (McMenemy) sempat meminta TC jangka panjang sehingga klub harus melepas lebih awal. Padahal itu memberatkan dari sisi klub,” tuturnya. 

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X