3 Hal yang Bikin Stadion BMW Beda dari Stadion Indonesia pada Umumnya

Kompas.com - 16/02/2019, 18:20 WIB
Pemandangan terbaru di Stadion Luzhniki, Moskwa saat timnas Rusia melakoni latihan terbuka jelang laga melawan Arab Saudi di Piala Dunia 2018, 12 Juni 2018. Berbeda dari desain lama, stadion tersebut kini tak lagi memiliki lintasan atletik. BOLASPORT.com/FIRZIE IDRIS Pemandangan terbaru di Stadion Luzhniki, Moskwa saat timnas Rusia melakoni latihan terbuka jelang laga melawan Arab Saudi di Piala Dunia 2018, 12 Juni 2018. Berbeda dari desain lama, stadion tersebut kini tak lagi memiliki lintasan atletik.


Ketiga, tanpa lintasan atletik

Kebanyakan stadion-stadion di Indonesia merupakan stadion konvensional yang dilengkapi lintasan atletik.

Namun, tidak demikian dengan stadion di eks taman BMW. Berkapasitas 80.000 tempat duduk, stadion BMW akan menjadi stadion modern yang membuat jarak tribun dan lapangan lebih dekat, tanpa lintasan atletik tentunya.

Direktur Proyek PT Jakpro Iwan Takwin mengatakan, pembangunan stadion di eks taman BMW melibatkan perancang stadion untuk Piala Dunia 2022 di Qatar dan stadion klub-klub Liga Primer Inggris.

Baca juga: Sandi Ingin Desain Stadion BMW Diubah karena Tak Kekinian

"Tim desain yang kami libatkan bukan hanya lokal, melainkan juga menyediakan persiapan Piala Dunia 2022 di Qatar dan Liga Primer di UK," kata Iwan di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (15/2/2019).

Selain tanpa lintasan atletik, lapangan stadion juga rencananaya bisa digeser. Tujuannya agar kualitas rumput tidak rusak saat stadion dipakai untuk kegiata di luar sepak bola.

"Kemarin GBK untuk musik atau seni bermasalah dengan rumput. Nah kami antisipasi dengan konsep desainnya ada beberapa altenatif, apakah grass-nya bisa movable. Jadi, bisa dimasukkin basement, atapnya juga movable," kata Iwan.

Akses tiket dan penonton juga akan diatur sedemikian rupa sehingga tak akan ada penumpukan maupun calo.

Baca juga: Stadion Internasional di Taman BMW Akan Diluncurkan Saat HUT Jakarta Tahun 2022

"Jadi, kami punya aplikasi nantinya sistem analisis di perencanaan kami bisa menganalisis pergerakan suporter sehingga bisa termitigasi, mengantisipasi potensi bentrok saat high match," ujar Iwan.

Kondisi lahan proyek Stadion BMW di Sunter Agung, Jakarta Utara, Kamis (4/10/2018).KOMPAS.com/Ardito Ramadhan D Kondisi lahan proyek Stadion BMW di Sunter Agung, Jakarta Utara, Kamis (4/10/2018).

Stadion di eks taman BMW nantinya akan menjadi kandang tetap dari klub Persija Jakarta.

Belum diketahui pasti nama resmi yang akan disematkan di stadion tersebut. Namun, ada usulan agar stadion nantinya diberi nama MH Thamrin.

Selain dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah Jakarta, MH Thamrin juga disebut sebagai orang yang berperan dalam pendirian Persija, yang ketika didirikan tahun 1928 masih bernama Voetbalbond Indonesische Jacatra (VIJ).

Halaman:



Close Ads X