Kompas.com - 18/12/2018, 10:06 WIB
Kapten Ajax Amsterdam, Matthijs de Ligt, merayakan gol yang dicetak ke gawang Standard Liege dalam laga kualifikasi Liga Champions di Johan Cruijff ArenA, Amsterdam, Belanda pada 14 Agustus 2018. AFP/ OLAF KRAAKKapten Ajax Amsterdam, Matthijs de Ligt, merayakan gol yang dicetak ke gawang Standard Liege dalam laga kualifikasi Liga Champions di Johan Cruijff ArenA, Amsterdam, Belanda pada 14 Agustus 2018.

KOMPAS.com - Bek dan kapten Ajax Amsterdam, Matthijs de Ligt, dinobatkan menjadi pemain muda terbaik Eropa atau Golden Boy Award 2018.

De Light mengalahkan Justin Kulivert (AS Roma), Trent Alexander-Arnold (Liverpool), Vinicius Junior (Real Madrid), dan Patrick Cutrone (AC Milan).

Kemenangan De Ligt ini menimbulkan banyak pertanyaan karena bintang Paris-Saint Germain, Kylian Mbappe, dianggap lebih pantas. Trofi Piala Dunia 2018 bersama timnas Perancis dan gelar pemain muda terbaik turnamen menjadi alasannya.

Namun, Tuttosport, media Italia yang menjadi penyelenggara Golden Boy Award memiliki argumentasi untuk menyanggah itu.

Baca juga: Kylian Mbappe Jadi Pemain Pertama yang Meraih Gelar Ballon d'Or U-21

Melalui Golden Boy Award, Tuttosport ingin memunculkan bibit-bibit muda baru setiap tahun untuk membuat ajang penghargaan ini selalu menarik. Seperti diketahui, Mbappe sudah memenangi Golden Boy Award 2017 lalu.

"Filosofinya adalah meluncurkan satu wajah baru setiap tahun. Ini dimulai dari Lionel Messi tahun 2005. Kami tidak mungkin memilih Messi setiap tahun meski usianya masih muda," kata Massimo Franchi, pengawas Golden Boy Award, dikutip dari situs web Bleacher.

"Mbappe sudah menjadi juara dunia dan termasuk dalam nomine Ballon d'Or. Sekarang dia tidak layak lagi memenangi Golden Boy Award. Hal serupa juga terjadi kepada Messi dan Wayne Rooney yang hanya sekali meraih Golden Boy Award," tutur Massimo Franchi.

De Ligt memenangi Golden Boy Award karena dianggap sudah menunjukkan kematangan bermain di usia muda. Hal ini bisa dilihat ketika De Ligt sudah menjadi kapten tim utama Ajax pada usia 19 tahun.

Baca juga: 2 Hal yang Membuat Barcelona Kepincut Matthijs de Ligt

Pada musim ini, De Ligt sukses membawa Ajax lolo ke babak 16 besar Liga Champions tanpa pernah kalah di fase grup. Selain prestasi di klub, De Ligt juga sudah menjadi bek utama timnas Belanda saat ini.

De Ligt turut andil dengan keberhasilan Belanda lolos ke babak semifinal UEFA Nations League. Belanda lolos sebagai pemuncak Liga A Grup 1 dengan menyingkirkan Perancis dan Jerman.

Kesuksesan itu membuat De Ligt menjadi komoditas panas pada bursa transfer tahun depan. Barcelona, Juventus, dan Manchester City dirumorkan menjadi tim yang paling serius memburu tanda tangan De Ligt.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by AFC Ajax (@afcajax) on Dec 17, 2018 at 1:10pm PST



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X