Drama (William) Shakespeare di Leicester City - Kompas.com

Drama (William) Shakespeare di Leicester City

Jalu W. Wirajati
Kompas.com - 20/03/2017, 07:02 WIB
MIGUEL RIOPA/AFP Claudio Ranieri menjalani jumpa pers menjelang partai antara Porto dan Leicester City pada fase grup Liga Champions, 6 Desember 2016.

"The saddest thing about betrayal is that it never comes from your enemies."

KOMPAS.com - Pujangga Inggris, William Shakespeare, kerap memasukkan unsur pengkhianatan dalam karyanya. Salah satunya adalah Marcus Junius Brutus Caepio dalam kisah Julio Caesar.

Brutus pada awalnya adalah teman seperjuangan dan sahabat dekat Julius Caesar. Namun, Brutus termakan hasutan sejumlah senator lain yang tidak puas akan kepemimpinan Julius Caesar.

Dia pun berkomplot untuk menggulingkan sahabatnya itu. Pada sebuah momen ketika Sang Kaisar naik mimbar, Publius Servilius Casca menarik lengan dan menikam leher Caesar.

"Sic semper tyrannis!" teriak Brutus—yang bermakna "matilah bersama tiran"—saat pembunuhan Caesar, seperti dikisahkan beberapa literatur.

Brutus diceritakan menutup sebagian wajahnya dengan jubah pada saat kejadian itu. Namun, Caesar ternyata tetap mengenalinya.

"Et tu, Brute (Engkau juga, Brutus)!" kata Caesar seolah tak percaya bahwa sang sahabat karib telah mengkhianatinya dan berkomplot untuk membunuhnya secara sadis.

Seusai pembunuhan itu, Brutus mengklaim bahwa dia dan komplotannya telah membebaskan Roma.

"Saya memang mencintai Caesar, tetapi saya lebih cinta Roma. Kita tidak perlu takut dia lagi. Utang ambisi itu telah dibayar lunas," ucap Brutus seusai pembunuhan Caesar.

Brutus dan komplotannya memang mendapat amnesti. Hanya, Octavianus, keponakan Caesar yang naik jabatan, lantas melabeli Brutus dkk sebagai pembunuh dan musuh negara.

Pada akhirnya hayatnya, Brutus mati bunuh diri seusai kalah dalam peperangan melawan pasukan Marcus Antonius alias Mark Antony, salah satu jenderal perang Roma dan orang kepercayaan Caesar.

Terlepas dari statusnya sebagai pembunuh Caesar, Brutus mendapat perlakuan layak saat dimakamkan. Antony memakai jubah termahalnya untuk menyelimuti jasad Brutus.

Nama Brutus kemudian "diabadikan" menjadi cap bagi para pengkhianat, yang memang biasanya berasal dari lingkaran dalam seseorang.

King Lear

Dalam karya lainnya, Shakespeare menuliskan kisah pilu tentang Raja Leir. Dalam sandiwara "King Lear", Shakespeare menceritakan kisah pengkhianatan sejumlah orang terdekat Raja Leir.

Berdasarkan History of the Kings of Britain, Leir disebutkan sebagai pendiri Leicester City. Patung sang raja pendiri Kota Leicester itu kini bisa ditemui di Danau King Lear di Watermead Country Park.

Patung tersebut merupakan gambaran dari adegan akhir sandiwara "King Lear". Sang raja tampak bersedih ketika melihat putri kesayangannya, Cordelia, tak bernyawa. Dia pun mengutuk para pengkhianat, lalu memilih jalan kematiannya sendiri.

Beberapa abad setelah kematian Raja Leir dan putrinya, dugaan pengkhianatan juga terjadi di Leicester City, klub kebanggaan kota tersebut. Bedanya, Shakespeare di klub berjulukan The Foxes alias Si Rubah itu tidaklah menjadi pembuat cerita, melainkan lakon utamanya.

Adalah Craig Shakespeare yang menjadi subyek utama cerita. Dia adalah mantan asisten pelatih Claudio Ranieri sekaligus dicap sebagai "penikam" dalam proses pemecatannya.

Seperti halnya Julius Caesar, Ranieri merupakan anak asli Kota Roma. Sepanjang hidupnya, Caesar telah mewariskan sejumlah hal berharga dalam hal kesusastraan, politik, maupun budaya.

Demikian pula dengan Ranieri. Dia menjadi pelatih tersukses sepanjang 133 tahun sejarah Leicester City dengan mempersembahkan gelar juara Premier League, kasta teratas Liga Inggris.

Mantan pelatih tim nasional Yunani itu mengubah tim kandidat terdegradasi pada musim sebelumnya menjadi laiknya rubah yang pintar, gesit, dan pemberani.

Leicester meraih gelar juara Liga Inggris setelah tampil luar biasa lantaran hanya tiga kali tersentuh kekalahan. Melawan sejumlah klub besar, kecuali Liverpool dan Arsenal, pasukan Ranieri tampil sebagai hewan pemangsa.

Pada akhir musim 2015-2016, publik sepak bola dunia pun terkagum-kagum atas pencapaian Ranieri. Untuk kali pertama sepanjang kariernya, pelatih berjulukan Mr Runner-up itu bisa mempersembahkan trofi juara liga.

Raja baru pun lahir di Tanah Inggris, bukan dari klub-klub golongan "bangsawan" seperti Manchester City, Chelsea, Arsenal, Manchester United, bahkan Liverpool, melainkan dari kota yang didirikan oleh Raja Leir.

Richard III

Dua bulan sebelum Leicester sukses menjadi "Raja Premier League", BBC mengait-ngaitkan Ranieri dengan Richard III, Raja Inggris antara 1483 dan 1485—dikisahkan Shakespeare dalam karyanya dengan judul serupa. Dia meninggal dunia dalam Pertempuran Bosworth, lalu dimakamkan di Leicester.

"Richard III merupakan pemimpin yang menginspirasi," tulis Dr Phil Stone, sejarawan yang punya ketertarikan khusus terhadap kiprah Richard III.

"Dia menjadi sangat populer karena begitu perhatian. Bahkan, dia selalu menyediakan bantuan medis maupun spiritual bagi pasukannya," tuturnya mengisahkan.

Page:
EditorHeru Margianto
Komentar
Terkini Lainnya

Close Ads X