Drama (William) Shakespeare di Leicester City - Kompas.com

Drama (William) Shakespeare di Leicester City

Jalu W. Wirajati
Kompas.com - 20/03/2017, 07:02 WIB
LINDSEY PARNABY/AFP Claudio Ranieri memberi instruksi kepada Jamie Vardy saat Leicester City bertandang ke markas Hull City, Sabtu (13/8/2016).

Tanpa Way, para pemain Leicester seolah hilang kendali. Kartu merah kepada Jamie Vardy atau protes keras saat wasit menghadiahkan penalti pada laga kontra Stoke City, Desember lalu, bisa jadi merupakan efek dari kehilangan Way. 

"To be thus is nothing. But to be safely thus. Our fears in Banquo. Stick deep; and in his royalty of nature. Reigns that which would be feared." - Macbeth 

Hal paling nyata dari perubahan Ranieri adalah putusannya dalam merotasi pemain. Padahal, saat menjadi juara, Leicester menjadi tim yang konsisten karena tak pernah melakukan banyak perubahan.

Situasi berbeda terjadi pada musim 2016-2017. Ranieri seolah kembali ke sifat aslinya. Label The Tinkerman sebagai orang yang suka bergonta-ganti taktik, seperti tertulis di kamus populer Inggris, muncul lagi saat Leicester berupaya mempertahankan gelar.

Formasi 4-4-2—yang bisa bertransformasi menjadi 4-4-1-1— menjadi andalan Ranieri saat Leicester menjadi juara Premier League.

Berdasar Transfermarkt, Ranieri memakai formasi tersebut dalam 37 dari total 38 pertandingan Premier League. Pengecualian terjadi pada laga pamungkas ketika dia menerapkan 4-5-1 dalam laga yang tak lagi menentukan di kandang Chelsea.

Bandingkan dengan musim ini. Dari sumber yang sama, terlihat Ranieri mencoba formasi 4-4-2, 4-2-3-1, 4-3-1-2, 4-1-4-1, bahkan 3-5-2. The Foxes juga terlihat tak lagi bermain menunggu, tetapi selalu mencoba terlebih dahulu mengambil inisiatif serangan.

Hal itu mungkin saja dicoba Ranieri untuk memfasilitasi sejumlah pemain baru yang dibeli dengan total dana belanja 80 juta poundsterling, rekor pengeluaran klub. Namun, putusan-putusan tak populer itu telah menghasilkan nada miring dari internal tim.

Salah satu contohnya adalah ketika memaksa Ahmed Musa bermain di posisi sayap kanan dan menggeser Riyad Mahrez ke gelandang serang saat menghadapi Sevilla pada pertandingan pertama babak 16 besar Liga Champions, Rabu (22/2/2017). Leicester kalah 1-2 pada laga ini.

"Bukan sebuah kejutan karena beberapa kali dia telah membuat putusan gila musim ini," sebut sumber internal Leicester kepada The Telegraph.

Pada awal 2017, para pemain Leicester sebenarnya sudah meminta kepada Ranieri untuk kembali ke formasi andalan seperti pada musim lalu. Akan tetapi, Ranieri menepis semua usulan itu dan seolah menegaskan bahwa hanya boleh ada satu suara di klub, yaitu dari dia!

Sikap otoriter laiknya Julius Caesar itu akhirnya membuat Ranieri kena getahnya. Mosi tidak percaya muncul. Dia pun dianggap sebagai dalang dari performa buruk Leicester musim ini.

Memang, Ranieri tak sepenuhnya bisa disalahkan dalam penurunan performa Leicester. Kehilangan sejumlah pemain kunci dan "star syndrome" yang menjangkit para pemain—terutama ketika menaiki mobil mewah saat diperkenalkan pada awal musim—menjadi penyebab lain penurunan performa tim.

Belum lagi campur tangan Chairman Vichai Srivaddhanaprabh. Pemilik klub asal Thailand itu dianggap telah mengganggu independensi Ranieri sebagai manajer dengan menempatkan Jon Rudkin, orang dekatnya, sebagai direktur teknis tim.

Hanya, sebagai seorang manajer, Ranieri memang menjadi sosok yang paling bertanggung jawab terkait performa tim. Kamis (23/2/2017) atau sehari setelah pertandingan kontra Sevilla, di Hotel Radisson Blu dekat Bandara East Midlands, dia harus menerima putusan pemecatan.

"Semua mimpi saya berakhir kemarin," kata Ranieri sehari setelah dirinya dipecat.

Kisah Shakespeare

Craig Shakespeare yang awalnya berstatus asisten pelatih naik jabatan menjadi manajer sementara. Promosinya Shakespeare berbanding lurus dengan peningkatan performa Leicester.

Dalam tiga pertandingan selepas Ranieri pergi, Vardy dkk meraih tiga kemenangan beruntun, salah satunya melawan tim papan atas, Liverpool. Terbaru, mereka menang 3-2 atas West Ham United, Sabtu (18/3/2017)—kemenangan tandang pertama Leicester di liga sejak 11 bulan lalu.

Page:
EditorHeru Margianto
Komentar
Terkini Lainnya
AS Roma Rekrut Penemu Bakat Dani Alves dan Ivan Rakitic
AS Roma Rekrut Penemu Bakat Dani Alves dan Ivan Rakitic
Liga Spanyol
Inter Milan Tolak Surat Pengunduran Diri Pioli
Inter Milan Tolak Surat Pengunduran Diri Pioli
Liga Italia
Toure: Lebih Baik Derbi Manchester Tanpa Wasit jika...
Toure: Lebih Baik Derbi Manchester Tanpa Wasit jika...
Liga Inggris
Betapa Signifikan Kontribusi Lilipaly untuk SC Cambuur
Betapa Signifikan Kontribusi Lilipaly untuk SC Cambuur
Liga Indonesia
Pujian dan Saran Mourinho untuk Martial
Pujian dan Saran Mourinho untuk Martial
Liga Inggris
Klub Austria Juarai UEFA Youth League
Klub Austria Juarai UEFA Youth League
Liga Champions
Berita Populer Bola, dari Hasil El Clasico hingga Gol Perdana Essien
Berita Populer Bola, dari Hasil El Clasico hingga Gol Perdana Essien
Corner
Peraih Penghargaan PFA 2017, dari Dele Alli hingga David Beckham
Peraih Penghargaan PFA 2017, dari Dele Alli hingga David Beckham
Liga Inggris
Rafael Benitez Kembalikan Newcastle United ke Premier League
Rafael Benitez Kembalikan Newcastle United ke Premier League
Liga Inggris
Hasil Lengkap Pekan Ke-33 Liga Spanyol, Barcelona ke Puncak Klasemen
Hasil Lengkap Pekan Ke-33 Liga Spanyol, Barcelona ke Puncak Klasemen
Liga Spanyol
Hasil Liga Italia, AS Roma Jauhi Napoli
Hasil Liga Italia, AS Roma Jauhi Napoli
Liga Italia
Semen Padang Resmi Gaet Kompatriot Drogba
Semen Padang Resmi Gaet Kompatriot Drogba
Liga Indonesia
Hasil Liga 1, Debut Minor Mohamed Sissoko bersama Mitra Kukar
Hasil Liga 1, Debut Minor Mohamed Sissoko bersama Mitra Kukar
Liga Indonesia
Wenger Kasih Petunjuk soal Masa Depan Sanchez
Wenger Kasih Petunjuk soal Masa Depan Sanchez
Liga Inggris
N'Golo Kante Jadi yang Terbaik Pilihan Asosiasi Pemain
N'Golo Kante Jadi yang Terbaik Pilihan Asosiasi Pemain
Liga Inggris

Close Ads X