Jumat, 31 Oktober 2014

Bola /

Menpora Kecewa Hasil Timnas

Sabtu, 2 Februari 2013 | 04:07 WIB

Jakarta, Kompas - Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo kecewa dengan kekalahan telak tim nasional Indonesia dari Jordania dalam laga uji coba jelang Pra-Piala Asia 2015. Kekalahan itu menjadi peringatan keras bagi PSSI dan KPSI karena gagal membentuk timnas berkualitas.

”Walau hanya uji coba, kekalahan ini mencoreng citra sepak bola Indonesia. Saya prihatin dengan kekalahan timnas. Ini terjadi akibat pemain tak konsentrasi. Ada pemain yang takut kena sanksi klubnya, ada pemain yang mau gabung timnas, tapi paspornya ditahan,” kata Roy, Jumat (1/2), di Kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga, Jakarta.

Pada Kamis (31/1), timnas Indonesia menjalani pertandingan uji coba melawan tuan rumah Jordania sebelum melawan Irak di Pra-Piala Asia, 6 Februari. Indonesia ditaklukkan Jordania dengan skor 0-5.

Roy mengungkapkan, pemerintah bersama FIFA dan AFC akan mengambil sikap tegas terhadap PSSI dan KPSI karena ketidakmampuan kedua organisasi itu menjaring pemain terbaik untuk bergabung dalam timnas. Roy menggambarkan kondisi saat ini adalah ”lampu kuning menuju lampu merah”.

Menurut Roy, pemerintah tak bisa membubarkan PSSI ataupun KPSI, tetapi bisa melarang kompetisi yang digelar di bawah bendera PSSI ataupun KPSI.

Kalau pemerintah membubarkan PSSI dan KPSI, artinya pemerintah telah melakukan intervensi. Karena itu, kata Roy, pemerintah akan berkonsultasi dengan FIFA dan AFC mengenai langkah yang harus diambil.

Mengenai target pertandingan melawan Irak pada Pra-Piala Asia di Dubai, Roy tidak berharap banyak kepada Handi Ramdan dan kawan-kawan mengingat hasil mengecewakan pada uji coba melawan Jordania.

”Apalagi itu pertandingan tandang. Tetapi, masyarakat akhirnya bisa menilai, skor akhir nanti merupakan dampak dari karut-marutnya sepak bola kita,” ujar Roy.

”Jadi, setelah pertandingan melawan Irak akan ada batas waktu yang akan disampaikan. Hal itu juga telah saya sampaikan kepada Pak Nirwan Bakrie dan Arifin Panigoro,” katanya.

Batas waktu yang dimaksud Roy adalah batas waktu penyelesaian konflik PSSI dan KPSI. Nama Nirwan disebut-sebut Roy karena menjadi tempat konsultasi La Nyalla Mattalitti (Ketua KPSI), sementara Arifin sebagai tempat konsultasi Djohar Arifin Husin (Ketua Umum PSSI). (Kompas, 31/1)

Mantan pemain nasional Anjas Asmara menilai, dengan persiapan yang singkat, tidak mungkin mengharapkan hasil maksimal dari timnas. Terlebih, timnas kali ini tidak diisi pemain- pemain terbaik. Anjas menyesalkan kondisi ini akibat adanya perpecahan pengurus.

Soal peluang Indonesia melawan Irak, Anjas menyebutkan, tipe permainan Irak tidak beda jauh dengan Jordania. Apalagi, ditunjang dengan postur fisik yang lebih baik.

Kelemahan timnas juga diakui Djohar. Karena itu, dia tetap berupaya mengundang pemain-pemain yang berlaga di ISL.

Pelatih timnas, Nil Maizar, yang dihubungi dari Jakarta menyatakan sudah mengevaluasi kelemahan tim dan kini langsung fokus pada pertandingan melawan Irak. Nil mengakui, sebagian pemainnya minim pengalaman. Namun, dia berusaha untuk memaksimalkan potensi yang ada.

”Saya berharap melawan Irak kita bisa memaksimalkan kemampuan. Memang masih ada pemain yang minim pengalaman, tetapi kita akan berusaha memaksimalkan lagi kemampuan mereka,” ujarnya.(WAD/K06/K07/OTW)


Editor :