Kamis, 23 Oktober 2014

Bola / Internasional

Pendukung Mubarak Dituduh Picu Tragedi Mesir

Jumat, 3 Februari 2012 | 01:31 WIB

KAIRO, KOMPAS.com - Sejumlah pendukung sepak bola dan politisi mengecam cara aparat keamanan yang mengawal pertandingan Liga Premier Mesir antara Al-Masry melawan Al-Ahly, Rabu (1/2/2012) waktu setempat. Tragedi berdarah yang menewaskan 74 orang di pertadingan itu dinilai tidak perlu terjadi, jika aparat keamanan di stadion tersebut sigap menghadang pendukung kedua tim untuk melakukan tindakan anarkis. Beberapa pihak menuduh kerusuhan ini sudah direncanakan dan diprovokasi pendukung presiden terguling, Hosni Mubarak.

Kerusuhan pecah setelah Al-Masry memenangkan pertadingan dengan skor 3-1. Ribuan pendukung Al-Masry kemudian menyerbu lapangan dan mengejar pemain dan staf Al-Ahly dan juga melakukan pembakaran di sekitar stadion.

Seperti dilansir Soccersport, korban tewas akibat kerusuhan ini mencapai 74 orang dan 1000 orang mengalami luka-luka. Versi lain menyebut korban tewas sebanyak 79 orang. Motif kerusuhan ini diduga karena adanya provokasi dari simpatisan mantan Presiden Mesir Hosni Mubarak.

Dalam tayangan video, terlihat jelas sejumlah aparat keamanan membiarkan para pendukung Al-Masry memasuki lapangan. Tidak ada upaya-upaya khusus dari aparat untuk mencegah bentrokan tersebut semakin meluas hingga ke luar stadion.

Salah satu pejabat Ahly, Zeini Hanan, menilai kerusuhan itu terjadi karena telah direncanakan sebelumnya. "Saya tidak percaya hal ini terjadi secara tiba-tiba. Saya rasa tidak, ini semua sudah diatur," katanya kepada BBC.

Begitu pula dengan kelompok Ikhwanul Muslimin (IM) di Mesir. Mereka menilai kerusuhan tersebut telah diatur oleh sejumlah orang yang ingin mengacaukan situasi politik pascarevolusi Mesir.

"Pasukan keamanan dalam hal ini telah membiarkan kerusuhan itu terjadi. Orang-orang pendukung Mubarak masih berkuasa. Meskipun rezimnya telah jatuh, tetapi semua anak buahnya masih dalam posisi mereka," katanya.

Pascakerusuhan itu, Federasi Sepak Bola Mesir (EFA) untuk sementara menghentikan jalannya liga sepak bola di negaranya. Selain itu, baik federasi maupun pemerintah Mesir juga telah menetapkan masa berkabung nasional selama tiga hari, terhitung sejak Rabu kemarin.

 


Editor : Hery Prasetyo