Freddie Ljungberg di Arsenal, Si Cerdas dan Anti Alkohol

Kompas.com - 29/11/2019, 20:20 WIB
Mantan pemain Arsenal, Fredrick Ljungberg, dalam sesi interaktif dengan para penggemar selama peluncuran perlengkapan klub sepak bola Arsenal di Bangalore pada 12 Agustus 2014. MANJUNATH KIRAN/AFPMantan pemain Arsenal, Fredrick Ljungberg, dalam sesi interaktif dengan para penggemar selama peluncuran perlengkapan klub sepak bola Arsenal di Bangalore pada 12 Agustus 2014.

KOMPAS.com - Freddie Ljungberg didaulat menjadi pelatih interim Arsenal setelah kubu London Utara memecat Unai Emery. Pria asal Swedia itu memainkan tahun-tahun terbaik kariernya bersama The Gunners.

Freddie Ljungberg merupakan salah satu pemain sayap paling eksplosif yang pernah dimiliki Arsenal pada era Arsene Wenger.

Menarik, apabila mengingat ia memukau perhatian para pemandu bakat Arsenal sebagai seorang gelandang serang tengah saat memperkuat Halmstad di Liga Swedia.

Namun, intuisi dan kepercayaan Wenger terbukti benar. Pemain yang kerap terlihat bengal itu rela belajar di bawah asuhan Arsene Wenger.

Baca Juga: Mike Tyson Anggap Keputusan Andy Ruiz Menguruskan Diri karena Faktor Narsis

"Saya berpikir dan mengubah sikap saya pada musim panas jelang musim kedua, dari mengeluh menjadi mencoba belajar. Sebagai pemain berusia 21 tahun, saya belajar untuk menjadi seorang pemain sayap," tulis pria yang kini berusia 42 tahun itu di buku Invincible.

Penampilan menggilanya pada musim 2001-2002 kala ia mencetak 12 gol dan membantu Arsenal keluar sebagai juara Premier League membuatnya dianugerahi gelar pemain terbaik Liga Inggris.

Secara total, Freddie Ljungberg mencetak 71 gol dan 36 assist dari 326 pertandingan di semua kompetisi selama 10 musim memperkuat The Gunners.

Di luar lapangan, Ljungberg menarik perhatian dengan menjadi model pakaian dalam.

Salah satu alasan kenapa Ljungberg begitu sukses bersama Arsenal adalah karena ia seorang yang menjauhi alkohol dan memiliki disiplin tinggi.

"Ia mungkin terlihat berjiwa bebas, tetapi di belakang layar ia adalah seseorang dengan rutinitas yang sangat ketat," tulis The Athletic mengenai dirinya.

"Ia selalu punya slot waktu dengan fisioterapis atau tukang pijat klub setiap malamnya - jika ia sampai telat 20 menit pun dari janjinya, Ljungberg akan kesal. Ia selalu menginterogasi staf medis mengenai kandungan dan tujuan setiap pil yang harus ia konsumsi," lanjut artikel tersebut.

Hal ini berlanjut ke kehidupan di luar lapangan latihan.

Ljungberg memiliki restoran Italia langganan di mana ia kerap makan malam. Ia bahkan sering makan di dapur dengan para koki agar tidak menarik perhatian dari para tamu restoran tersebut.

"Gambaran dia di luar lapangan mungkin membuat Anda berpikir bahwa ia sedikit gila dan flamboyan. Akan tetapi, Freddie jauh lebih intelektual dari itu," tutur mantan rekan setimnya, Lee Dixon.

Baca Juga: Arsenal Pecat Unai Emery, Freddie Ljungberg Jadi Pelatih Interim

"Anda tidak bisa berlari sebagus dia hanya dengan asal lari. Kecerdasan bermainnya akan membuat ia sebagai pelatih yang mumpuni," ujarnya.

Freddie Ljungberg memulai petualangan melatihnya di Arsenal sebagai pelatih di tim U-23 Gunners pada Juni 2018.

Atensi Ljungberg ke detail, sesuatu yang telah ia lakukan sepanjang hidupnya, merupakan kekuatan utama sang pria dalam melatih tim akademi Arsenal tersebut.

Ljungberg dilaporkan menghabiskan waktu lama demi mengasah skill individu para pemain U-15 dan U-16 di lapangan latihan.

Ia tertarik dengan perkembangan teknis di aspek taktis dan mengaplikasikan hal tersebut ke tim akademi Arsenal.

Cohen Bramall, mantan pemain akademi Arsenal yang kini telah dilepas The Gunners, mengatakan bahwa Ljungberg adalah pemain yang terobsesi dengan kesempurnaan.

"Ia selalu meluangkan waktu untuk mengajari saya soal postur di lapangan, sentuhan pertama, cara menendang, cara mengoper. Bagaimana melihat orang lain di lapangan. Selalu kritik yang konstruktif," tuturnya.

Baca juga: David Moyes dan Nuno Espirito Santo Dibidik Dua Klub London

"Dengan Freddie, semua harus sempurna. Operan kami harus tepat, kita harus bisa menemukan ruang kala berbelok, dan bermain tinggi, berotasi pada waktu tepat. Apabila para pemain bisa mengamalkan itu, kami tak bisa dihentikan," lanjut bek kiri yang kini bermain bagi Colchester United tersebut.

Pendekatan ini pun terbukti sukses.

Pada musim lalu, tim U-23 Arsenal asuhan Freddie Ljungberg finish peringkat kedua di Premier League 2 dan mencetak 17 gol lebih banyak ketimbang Everton sang juara.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X