Bawa Madrid Keluar dari Krisis Mini, Zidane Punya Banyak Nyawa

Kompas.com - 24/10/2019, 07:10 WIB
Pelatih Real Madrid Zinedine Zidane akan melakoni laga kontra Granada pada Hari Sabtu (5/10/2019) twitterPelatih Real Madrid Zinedine Zidane akan melakoni laga kontra Granada pada Hari Sabtu (5/10/2019)

KOMPAS.com - Kemenangan 1-0 Real Madrid atas Galatasaray di Stadion Ali Sami Yen pada Rabu (23/10/2019) dini hari WIB menunjukkan bahwa pelatih Zinedine Zidane punya kelihaian yang dapat membawanya keluar dari berbagai masalah.

Zinedine Zidane banyak mendapat kritik musim ini.

Kembalinya pria berkepala plontos tersebut untuk melatih Real Madrid tak berjalan selancar petualangan dua setengah tahun pertama Zidane bersama Los Blancos pada 2016-2018.

Betul, Zinedine Zidane akan kesulitan mengulang prestasi fenomenal selama periode tersebut, termasuk memenangi 3 gelar Liga Champions beruntun.

Akan tetapi, Zidane membawa timnya ke Istanbul setelah menderita kekalahan 0-1 kontra Real Mallorca yang membuat Si Putih terdepak dari singgasana sementara Liga Spanyol.

Baca juga: MotoGP Jepang, Terjatuh di Motegi, Valentino Rossi Kembali ke Masa Kegelapan

Ia juga tahu bahwa tiga poin adalah wajib menyusul penampilan menyedihkan pada dua laga terakhir. Pertama, saat Madrid tumbang 0-3 di Paris Saint-Germain lalu hanya bisa bermain 2-2 lawan Club Brugge dengan kiper Thibaut Courtois membuat dua blunder masif.

Para fans Madrid pun mulai menggemakan nama Jose Mourinho untuk kembali ke Santiago Bernabeu. Padahal, catatan Zidane pada era pertamanya hanya kalah dari Miguel Munoz dalam 117 tahun sejarahdi Real Madrid.

Di tengah krisis mini ini, Zidane menemukan resep tepat dan membawa Madrid pulang dengan tiga poin sempurna dari Galatasaray.

Banyak sisi positif dari laga tersebut, seperti penyelamatan-penyelamatan impresif Courtois, gol cantik Toni Kroos, kerja sama brilian Eden Hazard-Karim Benzema, sampai penampilan Rodrygo, debutan starter.

Setelah pertandingan, Kroos berkata bahwa semua di Madrid bersatu untuk membenahi penampilan klub bersejarah tersebut.

"Kami memulai musim dengan buruk dan Liga Champions bukan pengecualian. Kemenangan ini penting, kami semua bersama dengan sang manajer. Kami kalah dan menang bersama," tutur Kroos seperti dikutip dari AS.

"Kami tidak bermain untuk Zidane, kami tidak bermain untuk satu orang. Kami bermain bersama," lanjutnya.

Baca juga: Berbeda dengan Juventus, Patrice Evra Sebut di Man United Bak Liburan

Seperti yang diungkapkan oleh media sama, Zidane punya sejarah untuk keluar dari krisis mini kendati segala kondisi tampak melawan pria berkepala botak ini.

Zidane datang pada Januari 2016 untuk mengangkat moral tim yang terpuruk setelah dilatih Rafael Benitez.

Akan tetapi, keadaan tak langsung membaik dan Madrid bahkan sempat terseok dan terpaut 12 poin dari Barcelona di puncak klasemen setelah kekalahan kontra Atletico Madrid pada akhir Februari.

Krisis pada awal petualangannya sebagai pelatih Madrid itu langsung dihapus setelah Madrid memenangi ke-10 pertandingan terakhir Liga Spanyol mereka ketika itu.

Luar biasanya, Madrid bisa memangkas ketertinggalan dengan Barcelona menjadi hanya satu poin dalam waktu empat pekan.

Zidane menutup musim debutnya dengan mengalahkan rival sekota mereka, Atletico Madrid, di final Liga Champions untuk menjadi pria pertama setelah Munoz yang memenangi Liga Champions bersama Madrid sebagai pemain dan pelatih.

Pada 2016-2017, Zidane juga sempat mengalami gejolak kendati memenangkan Liga Spanyol dan Liga Champions.

Madrid sempat terpleset tak lama setelah memenangi Piala Super Eropa kontra Sevilla. Pasukan Zidane hanya mencatatkan empat seri beruntun, tiga di Liga Spanyol dan sekali di Liga Champions kontra Dortmund.

Baca juga: Siklus Andrea Dovizioso di Ducati Akan Segera Berakhir

Madrid sempat kehilangan takhta La Liga dan kata krisis sempat diutarakan. Namun, klub bisa balik ke jalur sebenarnya dan berjaya pada akhir musim dengan merengkuh gelar Liga Champions ke-12 klub.

Musim terberat Zidane tentu adalah 2017-2018. Real Madrid tertinggal 17 poin dari Barcelona pada Desember 2017 dan telah tersingkir di perempat final Copa Del Rey di tangan Leganes.

Ketika itu, terbesit keinginan bagi Zidane untuk meninggalkan klub setelah para pemain tampak tak lagi menyetel dengan filosofinya.

Alih-alih mengesampingkan pemain-pemain senior yang turut membantunya ke berbagai gelar musim sebelum-sebelumnya, Zidane merangkul para veteran tersebut.

Ia fokus ke Liga Champions dan kembali mempersembahkan trofi Si Kuping Besar setelah mengalahkan Liverpool di final.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X