Kompas.com - 14/11/2013, 12:06 WIB
Beberapa pemain timnas U-19, tampak asyik mengabadikan gambar peserta pawai Batu Flower Festival yang lenggak-lenggok di tengah jalan di depan Kantor Pemerintah Kota Batu, Sabtu (9/11/2013). Kompas.com / Yatimul AinunBeberapa pemain timnas U-19, tampak asyik mengabadikan gambar peserta pawai Batu Flower Festival yang lenggak-lenggok di tengah jalan di depan Kantor Pemerintah Kota Batu, Sabtu (9/11/2013).
|
EditorTjatur Wiharyo
JAKARTA, KOMPAS.com — Sejumlah pemain tim nasional Indonesia U-19 mendapat perhatian lebih besar dari masyarakat ketimbang beberapa pemain lainnya. Hal itu setidaknya tampak saat skuad timnas U-19 menghadiri Batu Festival Flora, beberapa waktu lalu.

Saat itu, banyak warga berebut minta berfoto dengan Evan Dimas. Ravi Murdianto, Muchlis Hadi Ning, dan Hansamu Yama sesekali juga tampak meladeni permintaan berfoto dari warga. Namun, ada juga pemain yang tak mendapat ajakan berfoto.

Pelatih mental, Guntur Cahyo Utomo, mengatakan, memang ada beberapa pemain yang mendapat perhatian lebih besar dari masyarakat. Namun, lanjut Guntur, hal itu tak berpotensi membahayakan keutuhan tim.

"Kami mengajarkan pemain bagaimana menangani media dan fans. Faktanya, Evan Dimas yang dominan. Tetapi, tidak ada kecemburaan satu sama lain. Semua sama. Kami menekankan itu," jelas Guntur saat berbincang dengan Kompas.com beberapa waktu lalu.

"Mereka sadar tidak bisa bermain tanpa rekan-rekannya. Itu yang penting sebenarnya. Dia tahu semua orang mengenalnya, tetapi tidak kemudian merasa dirinya jauh lebih hebat," tutur Guntur.

Guntur juga menjelaskan bahwa dirinya dan staf pelatih selalu menekankan kepada pemain bahwa tidak pemain yang lebih hebat daripada pemain lain di skuad Garuda Jaya. Menurutnya, tim pelatih sudah bersepakat untuk tidak bersikap toleran terhadap perilaku yang membahayakan soliditas tim.

"Kalau memang sudah di luar jalur, pemain sekelas Evan Dimas pun ya akan kami coret. Kami terbuka saja. Ini tim yang tidak akan maksimal jika bergantung kepada satu orang saja," beber Guntur.

Selain meredam ego individu, lanjut Guntur, ia juga berusaha menanamkan kepercayaan diri pemain. Menurutnya, kepercayaan diri merupakan hal penting, tetapi masih menjadi masalah ketika skuad bertanding.

"Rasa grogi karena ekspektasi berlebihan seperti banyaknya penonton yang hadir di stadion. Pemain bermain jelek karena berpikir seperti itu. Saya berusaha memvisualisasi mereka untuk membalikkan proses tidak realistis tersebut menjadi realistis. Pemain harus berpikir seratus persen bermain bola. Tidak berpikir yang lain," ulas Guntur.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.