Kompas.com - 12/11/2021, 09:00 WIB
Pemain Persib Bandung Frets Butuan berebut bola dengan dua pemain PS Sleman saat pertandingan pekan 8 Liga 1 2021-2022 yang berakhir dengan skor 4-2 di Stadion Manahan Solo, Jumat (22/10/2021) malam.
KOMPAS.com/Suci RahayuPemain Persib Bandung Frets Butuan berebut bola dengan dua pemain PS Sleman saat pertandingan pekan 8 Liga 1 2021-2022 yang berakhir dengan skor 4-2 di Stadion Manahan Solo, Jumat (22/10/2021) malam.

 

KOMPAS.com - Kehidupan manusia tidak bisa lepas dari teknologi. Bukan hanya untuk menunjang hidup manusia, 'serangan' teknologi juga merambah dunia sepak bola dalam beberapa tahun terakhir.

Berbagai teknologi pembantu diciptakan untuk meningkatkan kualitas sebuah kompetisi sepak bola.

Mulai dari alat komunikasi wasit, teknologi garis gawang, EPTS (pelacak performa dan statistik di dalam lapangan), hingga VAR.

Sepak bola Indonesia juga sudah membuka diri dengan teknologi. Dimulai dari pengadaan alat komunikasi wasit, kini muncul wacana pengadaan VAR atau video pembantu wasit.

Baca juga: Jadwal Persebaya Seri 3 Liga 1 2021, Aji Santoso Siap Rotasi Pemain

Akan tetapi, di tengah upaya memodernisasi, sepak bola Indonesia juga masih setia dengan  kearifan lokal.

Salah satu diantaranya adalah pawang hujan. Sebuah "teknologi" berbasis metafisika yang menembus batas-batas keilmuan dan teknologi modern.

Sebagai negara tropis, hujan ibarat "hadiah" tahunan warga Indonesia.

Namun, jika curah hujan yang turun terlalu tinggi, kondisi ini bisa menggangu jalannya pertandingan. Di situlah jasa pawang hujan terpakai.

Sesaji yang disiapkan pawang hujan diletakan di bawah tribun guna untuk mengurangi peluang turunnya hujan saat berlangsungnya pertandingan.  KOMPAS.com/Suci Rahayu Sesaji yang disiapkan pawang hujan diletakan di bawah tribun guna untuk mengurangi peluang turunnya hujan saat berlangsungnya pertandingan.

Secara sederhana, pawang hujan berguna untuk mengurangi peluang turunnya hujan saat pertandingan berlangsung.

Dalam penyelenggaraan agenda besar sepak bola nasional, pawang hujan ini selalu dicari.

Khususnya, pada saat musim penghujan seperti sekarang ini.

Boleh percaya atau tidak, BRI Liga 1 2021-2022 yang telah melewati 11 pekan juga menggunakan pawang hujan.

Baca juga: Tak Cuma Satu, Persib Dipimpin Lima Kapten di Liga 1 2021-2022

Hampir seluruh Stadion yang digunakan venue pertandingan memakai jasa mereka.

Salah satu buktinya adalah sisa-sisa benda ritual semacam sesajen berisi dupa yang dibakar, bunga-bungaan, cabai, bawang-bawangnya, hingga telor yang tertinggal di sudut-sudut stadion.

“Kalau di Stadion Madya kami menyerahkan seluruhnya kepada pengurus stadion, dalam artian kami terima beres dalam hal sewa dan lainnya. Di Stadion Madya setahu saya memang ada untuk pawang hujan,“ ujar Galih Purnanda Sakti, General Coordinator yang menangani laga di Stadion Madya (Jakarta), Stadion Moch. Soebroto (Magelang), dan Stadion Manahan (Solo) kepada Kompas.com.

Bawang merah dan cabe yang ditusukkan disapu lidi salah satu sesaji yang disiapkan pawang hujan guna untuk mengurangi peluang turunnya hujan saat berlangsungnya pertandingan.  KOMPAS.com/Suci Rahayu Bawang merah dan cabe yang ditusukkan disapu lidi salah satu sesaji yang disiapkan pawang hujan guna untuk mengurangi peluang turunnya hujan saat berlangsungnya pertandingan.

Menurut Galih, pihak pengurus stadion tidak menyewa pawang hujan sembarang. Mereka selektif dan memastikan kesaktian sang pawang hujan.

Bahkan, dia menyebut selalu ada anggaran khusus dari Panitia Pelaksana (Panpel) lokal untuk pawang hujan.

“Jujur di Stadion Madya itu curah hujannya tinggi dan kalau tidak ada pawang hujan lapangan bakalan rusak dengan volume pertandingan yang kita jalani. Itu yang saya dengar dari pengurus stadion,” imbuhnya.

Baca juga: Hasil Bhayangkara FC Vs PSM: Menang 2-0, The Guardian Kudeta Persib!

Sebagai generasi melek teknologi yang hidup berdampingan dengan adat istiadat, Galih Purnanda Sakti merasa praktik semacam ini bagian dari teknologi warisan leluhur.

Dia menganggap pengadaan pawang hujan sebagai bentuk usaha lebih untuk mewujudkan hasil  penyelenggaraan kompetisi terbaik.

“Kalau saya bilang ini penting karena untuk menjaga kualitas rumput sendiri. Selain itu, semua pihak di stadion pasti juga tidak ingin turun hujan saat hari pertandingan,“ ucap Galih Purnanda Sakti.

Sesaji pawang hujan yang diletakan di bawah tribun guna untuk mengurangi peluang turunnya hujan saat berlangsungnya pertandingan.  KOMPAS.com/Suci Rahayu Sesaji pawang hujan yang diletakan di bawah tribun guna untuk mengurangi peluang turunnya hujan saat berlangsungnya pertandingan.

Keberadaan "teknologi" metafisika seperti pawang hujan bukan menggantikan teknologi modern yang ada.

Namun, mereka menambah dan mengisi kekurangan yang tidak bisa dijangkau oleh teknologi modern.

Melakukan langkah antisipasi dengan pengetahun terkini seperti meningkatkan kualitas lapangan dan menciptakan drainase yang baik wajib dilakukan.

Menggunakan jasa pawang hujan bisa menjadi langkah tambahan untuk meningkatkan rasa nyaman.

Kembali lagi, boleh percaya atau tidak, ini adalah budaya kita, bagian dari 'teknologi' warisan leluhur yang harus kita hargai dan lestarikan agar BRI Liga 1 2021/2022 tetap berjalan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.