BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Toyota Astra Motor

Potret Inspiratif Ni Nengah Widiasih, Peraih Medali Perak di Ajang Paralimpiade Tokyo 2020

Kompas.com - 16/09/2021, 14:31 WIB
Ni Nengah Widiasih menerima apresiasi dari Toyota Astra Motor atas prestasinya di Paralimpiade Tokyo 2020. Dok. Toyota Astra MotorNi Nengah Widiasih menerima apresiasi dari Toyota Astra Motor atas prestasinya di Paralimpiade Tokyo 2020.
|

JAKARTA, KOMPAS.com – Keterbatasan bukan jadi penghalang bagi Ni Nengah Widiasih untuk meraih kemenangan. Dengan tekad, kerja keras, dan dukungan kuat, dara asal Bali ini mampu membuktikan bahwa difabel juga bisa berprestasi.

Widi, panggilan akrab Ni Nengah Widiasih, kembali jadi sorotan di berbagai media usai berlaga di Paralimpiade Tokyo 2020. Di ajang olahraga bergengsi tersebut, atlet paralifting ini sukses menyabet medali perak dari pertandingan angkat beban kelas 41 kilogram (kg) putri.

Perolehan tersebut sekaligus menjadikan Widi sebagai peraih medali pertama untuk Indonesia pada Paralimpiade Tokyo 2020.

Saat bertanding, Widi berhasil mencapai angkatan terbaik 98 kg. Angka ini terpaut 10 kg dari atlet paralifting asal China Lingling Guo. Sementara, posisi ketiga dihuni atlet Venezuela dengan angkatan 97 kg.

Capaian Widi pada Paralimpiade Tokyo 2020 semakin menambah daftar panjang prestasinya. Sepanjang kariernya sebagai atlet, puluhan medali sudah ia kumpulkan.

Adapun medali pertama yang diraih di kancah internasional adalah perunggu dari ajang Asean Para Games Thailand 2008. Sejak saat itu, prestasi Widi terus meningkat. Ia berhasil memenangi emas pada World Cup Hungaria 2019 dan Powerlifting World Cup Thailand 2021.

Untuk sampai di posisi sekarang, Widi harus menempuh proses panjang Dok. Toyota Indonesia Untuk sampai di posisi sekarang, Widi harus menempuh proses panjang

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Proses panjang

Semua prestasi yang Widi peroleh bukan tanpa kerja keras dan tidak ditempuh dalam waktu yang sebentar. Ia berkisah, kecintaannya pada olahraga angkat beban dimulai sejak masih duduk di bangku kelas enam sekolah dasar (SD).

Itu pun, ia hanya ikut-ikutan sang kakak, I Gede Suantaka, yang juga berprofesi sebagai atlet angkat berat.

“Saat itu, saya sering mengikuti kakak latihan. Jadi, saya pun tertarik,” kata Widi kepada Kompas.com, Jumat (10/9/2021).

Meski saat itu Widi tak bisa lagi berjalan normal dan harus duduk di kursi roda, ia tetap optimistis menekuni olahraga angkat beban. Ia pun mengaku beruntung karena dikelilingi orang-orang yang suportif.

Hingga akhirnya, Widi menemukan pelatih yang betul-betul pengertian dan sabar. Tiga bulan menjalani latihan intens, ia ditantang untuk mengikuti kejuaraan nasional (kejurnas) angkat beban di Bali.

Tak disangka, Widi menang dalam kompetisi yang digelar pada 2006 tersebut. Performa menjanjikan itu membuatnya diganjar tiket masuk ke pemusatan latihan nasional (pelatnas) angkat beban di Surakarta, Jawa Tengah. Di sana, ia ditempa agar menjadi atlet profesional.

Sejak masuk pelatnas, Widi aktif membela skuad angkat beban Merah Putih di berbagai kompetisi dunia. Baginya, kemenangan ibarat candu. Karena itu, ia bertekad untuk selalu bisa mendapatkan medali dari setiap kompetisi yang diikuti.

Namun, tak jarang kekalahan juga dialami Widi. Pada kondisi itu, ia mengaku tak mau terpuruk dan terlalu lama-lama meratapi ketidakmujuran. Sebaliknya, kegagalan ia jadikan sebagai momen untuk evaluasi diri.

“Paling saya sedih satu sampai dua hari. Setelah itu saya jadikan motivasi untuk bisa lebih baik,” ujarnya.

Ni Nengah Widiasih berpose bersama medali perak yang ia raih. Facebook/Toyota ID Ni Nengah Widiasih berpose bersama medali perak yang ia raih.

Berkat dukungan banyak pihak

Widi menyebutkan bahwa keberhasilannya saat ini tak terlepas dari kontribusi berbagai pihak, khususnya keluarga dan pelatih. Keduanya berhasil menumbuhkan rasa percaya diri Widi selama berkarier sebagai atlet.

“Saya hampir tidak pernah merasakan minder dengan kondisi saya karena dari kecil banyak orang support saya,” ucapnya.

Sejauh ini, menurut Widi, dukungan terhadap atlet disabilitas sudah sangat baik, terutama dari pemerintah. Atlet nondisabilitas dan disabilitas kini sudah disetarakan. Ia pun berharap, kondisi tersebut bisa terus berlanjut.

Selain pemerintah, Widi juga mengaku mendapat dukungan penuh dari Toyota Astra Motor (TAM) melalui program Hero Project.

Hero Project sendiri merupakan bagian dari kampanye Start Your Impossible yang menjadi inisiasi Toyota secara global. Adapun program yang diluncurkan pada 2018 ini bertujuan menginspirasi masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak gampang menyerah dalam menghadapi rintangan. Bersama pebulu tangkis Marcus Fernaldi Gideon, Widi menularkan semangat tersebut.

Terkait keterlibatan di program Hero Project, Widi mengaku sempat bingung. Meski demikian, ia juga merasa senang dan bangga pada saat bersamaan.

“Saya didatangi oleh pihak Toyota. Mereka menawarkan untuk jadi brand ambassador. Beruntung, Toyota memahami kesibukan saya sebagai atlet pelatnas sehingga segala urusan disesuaikan dengan jadwal latihan. Saya akhirnya menyetujui dan sekarang terlibat dalam berbagai program dukungan atlet,” tuturnya.

Soal dukungan, Widi juga mengungkapkan bahwa perhatian yang diberikan Toyota amat luar biasa, baik berbentuk materi maupun nonmateri. Bahkan, perusahaan tersebut mengapresiasi Widi dengan emas batangan seberat 100 gram atas prestasi di Paralimpiade Tokyo 2020.

“Mereka memotivasi saya untuk lebih maju dan giat dalam berlatih sehingga bisa berprestasi lebih baik lagi. Saya tidak mau mengecewakan pihak-pihak yang mendukung,” katanya.

Setahun berselang, program Hero Project bertransformasi menjadi program Satukan Bakat Negeri Kita (Satria) sebagai bentuk perhatian yang lebih inklusif terhadap dunia olahraga Tanah Air. Melalui, program itu, Toyota tidak hanya mendukung atlet profesional, tapi juga atlet-atlet muda potensial.

Sinyo, sapaan akrab Marcus, dan Widi terlibat sebagai motivational inspirator pada motivational workshops program Satria. Selain berbagi pengalaman, keterlibatan mereka berdua diharapkan dapat menginspirasi atlet muda.

Terkait program Satria, Widi berharap, proyek ini dapat memberikan kontribusi positif terhadap olahraga nasional dan mendukung atlet-atlet, baik nondisabilitas maupun disabilitas. Dengan begitu, mereka bisa berprestasi dan mengharumkan nama Indonesia di masa depan.


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.