Kisah 11 Tahun Dadang Hidayat bersama Persib, Lepas dari Bayang-bayang Degradasi

Kompas.com - 21/12/2020, 19:00 WIB
Mantan kapten Persib Bandung, Dadang Hidayat, saat tampil dalam laga persahabatan legenda Persib di Stadion Siliwangi, Kota Bandung, beberapa waktu lalu. KOMPAS.com/SEPTIAN NUGRAHAMantan kapten Persib Bandung, Dadang Hidayat, saat tampil dalam laga persahabatan legenda Persib di Stadion Siliwangi, Kota Bandung, beberapa waktu lalu.

Saat itu Persib menunjuk pelatih asal Polandia, Marek Andrzej Sledzianowski, untuk menukangi tim. Marek pun datang dengan membawa tiga pemain asal Polandia; Mariusz Mucharski, Maciej Dolega, dan Piotr Orlinski.

Alih-alih mampu meningkatkan prestasi tim, kehadiran gerbong Polandia justru membuat Persib semakin terpuruk. 

Baca juga: Agar Tak Ikut Tarkam, Pelatih Persib Perbolehkan Tim Latihan Bersama

Dahi mengenang kejadian tersebut sebagai momen yang tak pernah bisa dilupakan selama perjalanan kariernya bersama Persib. Diakui Dahi, saat itu dirinya merasa sangat tertekan. Bahkan untuk keluar rumah saja, Dahi tidak berani karena saking malunya.

"Jujur, musim itu menjadi musim paling berat yang pernah saya lalui bersama Persib. Selama satu musim itu saya benar-benar stres sampai malu untuk keluar rumah. Prestasi Persib saat itu sedang terpuruk, dari awal musim kita ada di peringkat paling bawah dan hampir degradasi," kata Dahi.

Dalam situasi tersebut, para pengurus Persib pun mengambil sikap dengan mendepak Marek plus para pemain Polandia bawaannya. Pada bursa transfer tengah musim, Persib pun menunjuk pelatih asal Cile Juan Antonio Paez untuk menggantikan posisi Marek.

Adapun Paez juga membawa tiga pemain asal Cile, seperti Alejandro Tobar, Claudio Lizama, dan Rodrigo Sanhueza. Setelah ditangani Paez, performa Persib mulai membaik. Perlahan namun pasti, Persib mulai merangkak meninggalkan posisi juru kunci. Sayangnya, Persib belum mampu keluar dari zona degradasi.

Pada akhir musim 2003, Persib duduk di posisi ke-16, yang merupakan zona play-off. Artinya, bila ingin bertahan di divisi utama pada musim depan, Persib harus berjuang di babak play-off. Akhirnya, Maung Bandung pun selamat dari zona degradasi setelah menunjukkan performa gemilang dalam babak play-off.

"Waktu ada play-off dan dengan perjuangan yang keras, kami bisa lolos dari degradasi. Kalau sampai degradasi, itu nama saya akan tercatat dalam sejarah, membawa Persib degradasi. Jadi bebannya memang berat sekali," kata Dahi.

Setelah melewati momen kelam tersebut, kiprah Dahi bersama Persib terus berlanjut hingga tahun 2005. Dahi mengakhiri pengabdian selama 11 tahunnya bersama Persib karena pada tahun tersebut dia memutuskan untuk pensiun.

Dahi bercerita, sejatinya dia mendapatkan banyak tawaran dari klub lain. Bahkan, ketika sudah pensiun, masih ada saja klub yang meminatinya. Namun, Dahi sudah bertekad untuk menjadikan Persib sebagai klub pertama dan terakhir dalam karier profesionalnya.

"Dulu bahkan sempat negosiasi dan cocok secara harga. Namun, saya memutuskan untuk tidak jadi mengambil tawaran itu. Sebab, saya kan cita-cita dari kecil ingin main di Persib," kata Dahi.

"Jadi, saya ingin hanya Persib satu-satunya klub yang saya bela dari awal sampai akhir karier saya. Main di Persib itu untuk saya adalah kebanggaan. Saya main di Persib tidak semata-mata karena uang," kata dia.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X