APPI Ungkap Ada Pemain yang Gajinya di Bawah UMR karena Pandemi Covid-19

Kompas.com - 10/06/2020, 13:00 WIB
General Manager APPI, Ponaryo Astaman, saat berkunjung ke Redaksi BolaSport.com pada Februari 2019. KOMPAS.com/Firzie A. IdrisGeneral Manager APPI, Ponaryo Astaman, saat berkunjung ke Redaksi BolaSport.com pada Februari 2019.

KOMPAS.com - General Manager Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia ( APPI), Ponaryo Astaman, mengungkapkan bahwa ada anggota mereka yang menerima gaji di bawah UMR (Upah Minimum Regional) setelah kompetisi dihentikan karena pandemi Covid-19.

Ponaryo Astaman mengutarakan hal tersebut sebagai imbas dihentikannya untuk sementara kompetisi sepak bola profesional di Indonesia, terlebih lewat Surat Keputusan PSSI tertanggal 27 Maret 2020 yang memperbolehkan klub membayar gaji maksimal 25 persen dari kewajiban di dalam kontak kerja.

Periode pembayaran gaji maksimal 25 persen tersebut mencakup bulan Maret, April, Mei, dan Juni 2020 dan diterbitkan setelah laga-laga terakhir sepak bola Indonesia yang berlangsung pada akhir pekan 15-16 Maret.

Baca juga: Asosiasi Pesepak Bola Indonesia Ingin Solusi Win-win di Tengah Pandemi

Seperti disampaikan oleh gelandang PSM Makassar, Bayu Gatra, keputusan ini memberatkan para pemain, apalagi karena tak ada diskusi ke arah itu sebelumnya.

"Saya kaget ketika itu, saya lagi ada di Makassar. Tiba-tiba kompetisi distop dan kita dapat pemberitahuan dari kapten dan di grup bahwa gaji kita sudah dipangkas menjadi 25 persen," tutur pemain kelahiran Jember tersebut di dialog Live Bincang Bola Tribun Timur dengan tema "Nasib Pemain Liga Indonesia" pada Selasa (9/6/2020).

"Di grup itu sempat diskusi panjang dengan pemain-pemain kenapa tidak dilibatkan, kenapa kita harus dipotong 25 persen."

"Soalnya kan ada pemain anak muda dapatnya kecil sekali, ia mengeluh ke saya, sering menelepon saya, 'orang tua tidak ada, bapak-ibu tidak ada'," tutur sang pemain lagi.

Menanggapi keluhan Bayu Gatra tersebut, Ponaryo Astaman mengatakan bahwa ini merupakan reaksi umum di kalangan pemain.

Baca juga: Tanggapan Tim Dokter Persebaya soal Rancangan Protokol Kesehatan PSSI

"Bukan hanya Bayu atau PSM saja tetapi mayoritas pemain dari klub mengeluhkan kondisi dan keadaan sama dari terbitnya SK PSSI yang pertama, tentu karena prosesnya yang tidak melibatkan pesepak bola untuk berbicara atau rundingan untuk mencari solusinya, cara tebraik dari solusi ini," ujar Ponaryo.

"Kontrak melibatkan dua pihak, klub dan pemain. Dua pihak ini lebih berkepentingan untuk bernegosiasi dan mencari jalan ideal keluar dari solusi ini."

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X