Keterbatasan Selama Pandemi Membuat Pelatih Persela Merasa Naik Level

Kompas.com - 07/06/2020, 20:55 WIB
Salah satu anggota Asosiasi Pelatih Sepakbola Seluruh Indonesia (APSSI), Erick Ibrahim yang juga pelatih Persela Lamongan saat mengikuti virtual prescon menyikapi perkembangan sepakbola di tanah air, Kamis (04/06/2020) malam. KOMPAS.com/Suci RahayuSalah satu anggota Asosiasi Pelatih Sepakbola Seluruh Indonesia (APSSI), Erick Ibrahim yang juga pelatih Persela Lamongan saat mengikuti virtual prescon menyikapi perkembangan sepakbola di tanah air, Kamis (04/06/2020) malam.

BALI, KOMPAS.com - Pelatih Kiper Persela Lamongan, Erick Ibrahim, mengakui banyak hikmah yang bisa dipetik dari pandemi virus corona ini.

Selain lebih banyak waktu bersama keluarga, pandemi ini juga membuatnya mempelajari hal-hal baru, salah satunya virtual meeting atau pertemuan daring.

Sebagai pelatih, dia menyadari perkembangan teknolgi saat ini sangat pesat. Banyak teknologi-teknologi baru tercipta yang tidak pernah ditemui sebelumnya.

Namun, seperti generasinya pada umum, sang pelatih tidak begitu bergairah mengikuti perkembangan teknologi. Setidaknya, tidak up to date seperti generasi milenial.

Semenjak virus corona ditetapkan menjadi pandemi, seluruh rutinitas komunikasi jarak jauh seperti diskusi dan meeting dialihkan melalui virtual.

Baca juga: Fokus Bisnis, Kiper Persela Lamongan Mengundurkan Diri

Barulah Erick menyadari bahwa sekarang sudah ada metode alternatif yang bisa digunakan dalam berkomunikasi.

“Ini juga menjadi pengalaman dan pembelajaran baik buat saya. Sebelum pandemi, kami tidak tahu kalau bisa meeting, latihan, dan lain-lain dengan cara online,” kata mantan kiper Timnas Indonesia yang menjadi bagian tim juara SEA Games 1991 tersebut kepada Kompas.com.

“Ini sangat bagus sekali. Bakal bermanfaat untuk ke depannya,” imbuhnya.

Sejak itu Erick Ibrahim semakin semangat belajar lagi soal teknologi. Dia dan pelatih lain juga mulai memaksimalkan potensi teknolgi dalam kegiatan yang menunjang profesinya.

Sehingga dia dan rekan-rekan sekarang bisa bekerja lebih fleksibel dari pada sebelumnya.

Baca juga: Indra Sjafri Ungkap Dampak Positif jika Liga 1 dan Liga 2 Kembali Bergulir

Walaupun pada awalnya ia dan pelatih lain sempat mukanya memerah karena masih canggung berhadapan dengan sesuatu yang baru bagi mereka.

“Awal-awal pasti bingung ya, wong saya ini orang gaptek.”

“Banyak kejadian menggelitik yang terjadi. Ada yang tidak tau cara membuka microphone, lalu kadang situasi gaduh karena bicara bersamaan, ada pula yang lupa di mute sehingga dia ngomong apa saja di rumahnya terdengar sama semua yang hadir meeting,” tuturnya.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X