Bukan Teknik, Inilah Kekurangan Pemain Indonesia yang Sesungguhnya

Kompas.com - 17/12/2019, 11:00 WIB
Para pemain Garuda Select berfoto sebelum bertanding melawan Cheltenham Town pada Rabu (11/12/2019) sore atau malam WIB. Dalam laga yang berlangsung di Lapangan Birmingham FA, Inggris, Garuda Select menang dengan skor 3-1. Mola TVPara pemain Garuda Select berfoto sebelum bertanding melawan Cheltenham Town pada Rabu (11/12/2019) sore atau malam WIB. Dalam laga yang berlangsung di Lapangan Birmingham FA, Inggris, Garuda Select menang dengan skor 3-1.
Penulis Alsadad Rudi
|

KOMPAS.com - Belum lama ini, pelatih asal Jerman, Timo Scheunemann mengungkap berbagai kelemahan dasar para pemain Indonesia di dunia sepak bola.

Berbagai kekurangan itu didapat berdasarkan pengamatannya terhadap para pemain remaja Indonesia yang mengikuti program Garuda Select.

Program Garuda Select sudah berjalan dalam dua tahap. Program kerja sama antara PSSI dan Mola TV ini berada di bawah bimbingan dua mantan pemain timnas Inggris, Dennis Wise sebagai direktur teknik, dan Des Walker sebaga pelatih kepala.

Timo sendiri menjadi penerjemah teknis. Pasalnya, pria Jerman ini fasih berbahasa Indonesia karena sudah lama menetap di dalam negeri.

Dalam tulisannya yang diunggah di situs programgarudaselect.com, Timo menyebut ada beberapa kelemahan yang ditunjukkan para pemain Garuda Select yang juga menggambarkan kekurangan para pemain Indonesia secara umum, salah satunya cara berkomunikasi di atas lapangan.

Baca juga: Kelemahan Dasar Pemain Indonesia yang Terendus Para Pelatih di Inggris

Tantangan lain adalah pemahaman taktik. Menurut Timo, lawan-lawan Garuda Select di Inggris memiliki pemain dengan postur rata-rata tinggi dan kekar.

Artinya, pemain Garuda Select harus bermain sesuai kekuatan sendiri dan tidak asal main. Cara paling efektif mengakalinya adalah dengan mengandalkan kecepatan sekaligus menghindari duel-duel udara.

"Masalahnya, saat bola-bola mati (set piece) duel udara tidak terhindarkan. Alhasil, banyak gol lawan datang dari set piece," sebut Timo.

"Tentu saja tim pelatih tidak tinggal diam. Setiap minggu pasti ada satu latihan khusus untuk set piece," kata dia.

Menurut Timo, satu per satu kelemahan kini mulai diperbaiki. Contohnya, saat menghadapi set piece, kini ada pemain yang ditugaskan di zona tertentu dan ada yang ditugaskan sebagai marker (penjaga). Jadi, setiap pemain punya tugas khusus.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X