Attack Mode Formula E 2019-2020 Ditingkatkan, Fans Jakarta Beruntung

Kompas.com - 12/11/2019, 23:00 WIB
Pebalap berlomba melewati tikungan dalam Formula E Racing Championship di Brooklyn, New York City, 13 Juli 2019. AFP/GETTY IMAGES/David Dee DelgadoPebalap berlomba melewati tikungan dalam Formula E Racing Championship di Brooklyn, New York City, 13 Juli 2019.

KOMPAS.com - "Attack Mode" pada musim baru Formula E 2019-2020 diharapkan bisa membuat balapan tambah seru dengan menyediakan lebih banyak tenaga bagi para pebalap untuk menyalip pesaing mereka di lintasan.

Formula E 2019-2020 sudah di depan mata dan bakal bergulir dengan balapan di Riyadh, Arab Saudi, pada 22 serta 23 November 2019.

DKI Jakarta akan menggelar seri ke-10 balapan tersebut pada 6 Juni 2020, setelah seri di Seoul ePrix dan sebelum Formula E kembali ke Eropa di Berlin ePrix.

Lintasan yang telah disetujui adalah di kisaran Monumen Nasional, Jakarta Pusat.

Baca juga: Temui Anies Baswedan, Eks Pebalap F1 Dukung Gelaran Formula E di Jakarta

Mulai musim depan, peraturan telah diubah dengan para pebalap akan menikmati tambahan tenaga 10kW menjadi 235 kW pada "Attack Mode" agar dapat menyerang rival mereka dengan lebih agresif.

Tadinya, peningkatan tenaga itu hanya 25 kW, dari normalnya 200 kW menjadi 225 kW.

"Attack Mode" merupakan konsep di balapan Formula E yang memberikan lapisan strategi dan pendekatan non-konservatif di setiap balapan Formula E.

Melalui "Attack Mode" tersebut, setiap mobil akan mendapatkan tambahan tenaga selama delapan menit untuk setiap balapan, baik dalam satu periode tunggal atau semburan-semburan berkala.

Penggunaan "Attack Mode" ini wajib bagi setiap pebalap dalam balapan yang berlangsung selama 45 menit.

Seperti di video game, "Attack Mode" ini hanya bisa diaktifkan apabila para pebalap mengaktifkan tombol ketika mobil mereka melewati sisi lintasan tertentu yang detailnya baru akan diberikan ke setiap tim satu jam sebelum setiap balapan dimulai.

Baca juga: Rio Haryanto Belum Terima Pinangan Formula E

Sebagai tambahan, mobil-mobil akan kehilangan sekian persen energi ketika balapan tengah berhenti saat bendera kuning atau safety car keluar.

Jadi, para pebalap harus bisa menghemat tenaga lebih banyak ketimbang musim lalu untuk mencapai target.

"Dinamika perlombaan akan berubah. Mereka akan menjadi jauh lebih energi efisien karena race director dapat mengurangi jumlah kW ketika safety car keluar," tutur Lucas di Grassi, pembalap Audi Sport ABT Schaffler seperti dikutip dari MotorSport.com.

"Para pilot tak akan bisa menggunakan semua tenaga mereka seperti sebelumnya."

"Sebuah safety car tak dapat lagi menyelamatkan Anda, jadi dinamika balapan akan berubah," lanjutnya.

"Menyalip akan lebih mudah, saya pikir terkadang kita akan melihat dinamika berbeda pada tiap balapannya walau secara umum tak akan ada perbedaan banyak antara mobil-mobil" ujarnya.

Baca juga: Jakpro Minta Dana Rp 767 Miliar untuk Formula E, tapi Target Pendapatan Hanya Rp 50 M

Tambahan tenaga ini juga diyakini oleh direktur tim Envision Virgin Racing, Sylvain Filippi, bakal membuat fans lebih menikmati balapan.

"Attack Mode dengan tambahan tenaga ekstra ini akan membuat perbedaan. Anda akan lebih mudah menyalip tergantung treknya. Hal ini akan membuat strategi jauh lebih penting, dan kami telah menyusunnya," tutur Filippi.

"Hal ini brilian bukan? Itulah yang ingin Anda lihat di olahraga motor," tuturnya.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X