Formula E Jakarta, F1 Hanoi, dan Jumlah Wisman Indonesia yang Kalah dari Singapura

Kompas.com - 09/11/2019, 15:40 WIB
Pebalap bersaing dalam lomba Formula E Racing Championship di Brooklyn, New York City, 13 Juli 2019. AFP/GETTY IMAGES/David Dee DelgadoPebalap bersaing dalam lomba Formula E Racing Championship di Brooklyn, New York City, 13 Juli 2019.
Penulis Alsadad Rudi
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Tahun 2020 mendatang, dua kota di Asia Tenggara, yakni Hanoi (Vietnam) dan Jakarta (Indonesia) akan sama-sama memulai debut menjadi tuan rumah ajang balap mobil dunia yang masuk kalander resmi Federasi Otomotif Internasional (FIA).

Hanoi akan menjadi tuan rumah ajang Formula 1 untuk tanggal 5 April, sedangkan Formula E Jakarta pada 6 Juni.

Khusus di Jakarta, rencana penyelenggaraan Formula E masih menuai polemik. Adalah Fraksi PSI di DPRD Jakarta yang meminta agar ajang balap mobil bertenaga listrik itu dibatalkan.

Mereka bahkan mengusulkan agar anggaran untuk Formula E dialihkan untuk program lain yang lebih prioritas dan dibutuhkan masyarakat.

Baca juga: Usai Ungkap Anggaran Janggal, Kali Ini PSI DKI Minta Formula E Dibatalkan

"Dengan uang Rp 1 triliun, itu bisa bangun banyak pipa air bersih, bisa bangun sekolah-sekolah yang saat ini rusak, bahkan masih banyak sekolah yang saya tahu tidak punya komputer yang memadai untuk ujian nasional," kata anggota Fraksi PSI, Anggara Wicitra Sastroamidjojo, di Gedung DPRD DKI Jakarta, Kamis (7/11/2019).

Tak dimungkiri, penyelenggaraan ajang olahraga tingkat dunia, tak terkecuali balap mobil, memang membutuhkan dana yang besar.

Untuk commitment fee saja, Pemprov DKI Jakarta harus menyetor dana 20 juta poundsterling untuk menjadi tuan rumah balap mobil listrik Formula E. Jumlah itu setara dengan Rp 345,9 miliar.

Jumlah tersebut belum termasuk biaya penyelenggaraan dan lain-lain yang diperkirakan bisa memakan dana mencapai Rp 1 triliun.

Baca juga: Tren Sirkuit Jalan Raya di Kota-kota Besar Dunia

Commitment fee Formula E hanya setengah dari F1. Dikutip dari Vietnam Investment Review, dana komitmen awal yang harus disetorkan untuk penyelenggaraan F1 di Hanoi tercatat mencapai 42,9 juta dollar AS, atau setara Rp 601,3 miliar.

Dengan demikian, kompetisi balap sekelas F1 dan Formula E memang terlihat mahal, tentunya jika kedua ajang tersebut hanya dilihat sebagai event olahraga motorsport semata.

Incar peningkatan wisatawan

Vietnam sebenarnya bukanlah negara yang punya sejarah panjang dalam dunia balap mobil seperti F1.

Seperti banyak negara di Asia Tenggara, Vietnam juga lebih dikenal sebagai negara sepeda motor.

Namun, Vietnam menyadari ajang balap mobil dunia sejatinya bukan sekadar penyelenggaraan event olahraga yang menghabiskan uang semata, tetapi juga bisa memberikan dampak di bidang lain.

Hal itulah yang dilontarkan Le Ngoc Chi, CEO of Vietnam Grand Prix Corporation (VGPC), saat ditemui tengah menyaksikan F1 GP Singapura, 25 September lalu.

Baca juga: Lewis Hamilton Diizinkan Jajal Mobil Formula E

"Apa yang sudah dilakukan Pemerintah Vietnam, Pemerintah Kota Hanoi, dan khususnya Mr Chung Nguyen, Wali Kota Hanoi, pencetus ide tersebut, sudah sangat jelas, ingin mendapatkan manfaat dan semua hal baik yang bisa Formula 1 bawa ke Vietnam," kata Chi dikutip dari racefans.net.

F1 GP di Hanoi di-back up oleh Vingroup, konglomerasi multibisnis terbesar di negara tersebut. Chi diketahui merupakan salah satu petinggi di VinGroup.

Ia menyatakan, pihaknya berkomitmen F1 di Hanoi tidak hanya akan memberikan keuntungan untuk Vingroup semata, tetapi juga negara dan rakyat Vietnam secara keseluruhan.

"Kami memahami bahwa Formula 1 bukan hanya perlombaan semata, tetapi juga hiburan dan sporting event yang membawa banyak peluang berbeda dalam hal peningkatan di sektor pariwisata, investasi, dan dalam banyak hal meningkatkan kerja sama dan kegiatan kerja sama timbal balik," ucap Chi.

Baca juga: F1 Vietnam, Gambar Sirkuit Jalan Raya Hanoi Dirilis

Jika berkaca ke Singapura, keinginan Vietnam yang ingin mendongrak sektor pariwisata lewat F1 sangat masuk akal.

Dikutip dari The Straits Time, Singapore Tourism Board (STB) mencatat F1 memiliki kontribusi kuat dalam mendongrak pariwisata di Singapura.

Dari 2008 hingga 2015, perlombaan malam F1 di Negeri Singa itu tercatat mampu menarik total 350.000 wisatawan mancanegara dan menghasilkan rata-rata penerimaan pariwisata tambahan 150 juta dollar AS atau sekitar Rp 2,1 triliun per tahun.

Sebagai informasi, Singapura adalah negara yang jumlah wisatawan mancanegaranya dalam beberapa tahun terakhir selalu mengungguli Indonesia.

Baca juga: Tak Capai Target, Jumlah Wisman ke Indonesia Tahun 2018 Sebanyak 15,81 Juta

Data Kementerian Pariwisata menyebutkan, jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia pada 2016 mencapai 12 juta orang. Jumlah tersebut lebih kecil dari jumlah wisman yang datang ke Singapura, yakni 16,4 juta orang.

Untuk regional Asia Tenggara, jumlah wisman Indonesia masih menempati peringkat keempat. Thailand berada di peringkat pertama dengan jumlah wisman mencapai 32,5 juta orang, disusul Malaysia dengan 26,7 juta orang.

Di posisi lima besar, Indonesia hanya unggul atas Vietnam yang mencatat jumlah 9,9 juta orang.

Sampai 2018 lalu, Indonesia masih tak kunjung bisa melewati Singapura dan bahkan sudah hampir disamai Vietnam.

Pada tahun 2018, jumlah wisman yang datang ke Indonesia hanya 15,8 juta. Indonesia masih menempati peringkat keempat, dibuntuti Vietnam dengan 15,4 juta.

Thailand masih menempati posisi pertama dengan 38,3 juta, disusul Malaysia dengan 25,8 juta, dan Singapura dengan 18,5 juta.

KOMPAS.com/Dhawam Pambudi Infografik: Mengenal Formula E
Bagaimana di Formula E?

Seperti halnya di F1, Formula E juga dimanfaatkan kota-kota penyelenggara untuk meningkatkan pendapatan di sektor pariwisata.

Dikutip dari Deutsche Welle, saat ini mulai banyak kota dunia yang berebut untuk jadi penyelenggaraa Formula E, seperti Muenchen, Wina, Shanghai, dan Marrakech.

Kota-kota tersebut bahkan siap membayar mahal demi bisa melihat mobil-mobil balap listrik saling adu cepat di jalanan kota mereka.

Nilai sponsorship Formula E memang masih kalah dari F1. Namun, ada peningkatan setiap tahun dari sejak pertama dihelat pada 2014 silam.

Masih menurut Deutsche Welle, ajang Formula E juga dapat menarik kalangan penggemar yang sebelumnya sama sekali tak punya minat untuk menyaksikan balapan.

Baca juga: Jadwal Terbaru Formula E 2019-2020, Jakarta Masuk, Hong Kong Dihapus

Tak cuma karena lokasi balapan yang digelar di pusat kota, tetapi juga karena tenaga listrik yang membuat balapan tidak tenggelam dalam bunyi mesin yang berisik.

Salah satu kota penyelenggara Formuala E yang sudah merasakan dampak peningkatan di sektor pariwisata adalah Hong Kong.

Saat berpidato menjalang seri Formula E 2018-2019 di Hong Kong pada 10 Maret lalu, Kepala Eksekutif, Carrie Lam, menyatakan senang karena Hong Kong sudah dipercaya untuk ketiga kalinya jadi tuan rumah Formula E

"Dengan latar belakang sebagai pelabuhan dan skyline yang kami yang miliki, reputasi Hong Kong sebagai salah satu kota yang wajib dilihat dan wajib dikunjungi di dunia pasti akan diperkuat," kata Lam dikutip dari laman pemerintah Hong Kong.

"Di atas perlombaan, E-Village telah didirikan di Harbourfront. Skala yang lebih besar daripada tahun-tahun sebelumnya, E-Village akan meningkatkan musik live dan hiburan, makanan lezat, minuman dan waktu yang baik untuk para pengunjung dan anggota masyarakat," ujar dia.

Sayangnya, situasi politik yang belum stabil membuat Hong Kong tak bisa menghelat seri Formula E untuk musim 2019-2020.

Sementara itu, sebuah penelitian terbaru dari The Australia Institute menunjukkan bahwa lebih dari setengah 51 persen warga Australia Selatan menginginkan Adelaide menjadi tuan rumah ajang Formula E, saat di sisi lain hanya 11 persen orang yang menentang gagasan itu.

Baca juga: Gelar Formula E, Jakarta Jadi Arena Persaingan 4 Pabrikan Besar Jerman

Adelaide telah berulang kali disarankan sebagai kota tuan rumah. Sebab, ajang F1 sudah digelar di Melbourne.

Dari 51 persen warga Australia Selatan yang mendukung penyelenggaraan Formula E di Adelaide, 50 persen yakin bahwa menyelenggarakan lomba akan mempromosikan Adelaide dan meningkatkan pariwisata; 42 persen yakin Formula E akan meningkatkan minat pada kendaraan listrik di Australia Selatan; dan 35 persen yakin hal itu bisa menarik investasi ke negara bagian tersebut.

"Adelaide adalah kota yang cerdas, modern, dan ambisius dalam hal merangkul teknologi baru. Membawa Formula E ke Australia Selatan akan menempatkan Adelaide di panggung global dan membantu menunjukkan seberapa banyak yang ditawarkan negara kami," kata Manajer Proyek SA Australia Institute, Noah Schultz-Byard.

"Melbourne dapat mempertahankan Formula 1. Di Adelaide, kami melihat ke masa depan dan siap menjadi tuan rumah Formula E yang sangat modern," ujar Schultz-Byard.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X