5 Pelajaran dari Laga Timnas Indonesia Vs Malaysia dan Thailand

Kompas.com - 11/09/2019, 19:00 WIB
Suporter Indonesia meninggalkan Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) dengan tertib pada Selasa (10/9/2019) malam KOMPAS.com/BONFILIO MAHENDRA WAHANAPUTRA LADJARSuporter Indonesia meninggalkan Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) dengan tertib pada Selasa (10/9/2019) malam

Pada laga kedua, keamanan berlapis dari pihak berwajib dan hubungan baik suporter timnas dengan rekan-rekan mereka dari Thailand mencegah hal tak mengenakkan kembali terjadi.

Akan tetapi, sebagian suporter masih sempat membuat riuh suasana dengan mencemooh tim nasional sendiri sekitar 10 menit jelang pertandingan berakhir.

Pemain yang paling banyak mendapat kritik adalah kiper dan kapten Andritany Ardhyasa.

Tentu, pemandangan ini sangat disesali dan menambah garam di luka para pemain Timnas Indonesia. Apalagi, PSSI masih menunggu hukuman FIFA terkait insiden yang terjadi pada laga kontra Malaysia.

5. Pengamanan dan Stewarding Stadion yang Masih Jauh dari Ideal

Di luar lapangan, aspek terbesar  yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi panitia pertandingan di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) adalah pengamanan stadion serta manajemen massa.

Ribuan suporter bisa masuk ke SUGBK menjelang kick-off laga kontra Malaysia, tanpa melalui body check dan pemeriksaan tiket memadai.

Sebagai imbasnya, para suporter duduk di sektor yang tidak seharusnya dan membawa masuk cerawat serta berbagai benda terlarang lain. 

Suporter Timnas Indonesia di Tribune Selatan SUGBK bisa mengibarkan Tifo raksasa bertuliskan "F*** You UM (Ultras Malaysia)" pada laga kontra Malaysia. Hal ini mengundang pertanyaan, kenapa koreografi sebesar dan sekompleks itu bisa lewat dari penjagaan para stewards?

Jelang laga kontra Thailand, beberapa suporter tanpa tiket bisa masuk ke ring dalam stadion walau kehadiran pihak keamanan jauh lebih besar dari laga pertama.

Pengamanan juga tak berimbang dengan pihak keamanan yang hadir tampak berlebihan dengan jumlah 11.000 penonton yang menyaksikan laga kontra Thailand.

Hal ini tampak kebalikan dari laga kontra Malaysia ketika pihak keamanan terlihat tidak bisa mengantisipasi suporter yang beringas sehingga laga sampai berhenti.

Jumlah minim serta sulitnya menemukan para stewards di tribune-tribune juga tidak ideal bagi ajang internasional seperti ini.

Sayangnya, beberapa oknum pihak keamanan juga terlihat masih lebih sibuk menikmati pertandingan kendati mengawasi para suporter.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X