Kompas.com - 07/09/2019, 11:40 WIB
Penulis Alsadad Rudi
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Kericuhan pecah saat berlangsungnya laga Indonesia vs Malaysia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis (5/9/2019).

Kericuhan dalam laga Indonesia vs Malaysia terjadi saat pertengahan babak kedua yang membuat pertandingan terhenti.

Kericuhan terjadi dipicu ulah oknum suporter Indonesia yang menempati tribune sisi selatan.

Satu per satu dari mereka turun ke pinggir lapangan dan berlari ke arah suporter Malaysia yang menempati tribune sisi barat daya.

Pantauan di lokasi, ada beberapa oknum suporter yang bahkan sudah sampai ke tribune suporter Malaysia, meski langsung dihalau oleh aparat sebelum mereka melakukan kekerasan.

Tak terbayangkan apa yang akan terjadi jika jumlah suporter yang turun ke pinggir lapangan semakin banyak dan aparat tak sanggup menanganinya?

Kejadian seperti Tragedi Heysel yang terjadi di Eropa tahun 1986 mungkin saja terjadi.

Untungnya, aparat yang berjaga di pinggir lapangan masih sigap menghalau massa dan mencegah terjadinya bentrokan.

Baca juga: Syed Saddiq: Malaysia dan Indonesia Akan Tetap Bersama

Pagar Pembatas di SUGBK

Kejadian kericuhan di laga Indonesia vs Malaysia ini mengingatkan kembali mengenai betapa mudahnya pagar tribune SUGBK yang sekarang dipanjat dan bahkan dirobohkan oleh suporter.

Pascadirenovasi untuk Asian Games 2018, wajah SUGBK memang lebih modern, tak terkecuali pagar pembatas tribune.

Pagar tribune SUGBK yang sekarang menggunakan sekat kaca yang membuat penonton masih nyaman menyaksikan pertandingan.

"Kalau pagar yang lama kan penonton harus mengintip di sela-sela kawat. Kalau yang sekarang mereka tetap bisa menyaksikan pertandingan dari balik kaca," kata Kepala Pengelola GBK, Winarto kepada Kompas.com, Sabtu (7/9/2019).

Meski lebih modern, pagar tribune SUGBK yang sekarang lebih mudah roboh.

Sejak diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada awal Januari 2018, pengelola SUGBK mencatat sudah ada tiga kasus robohnya pagar tribune SUGBK akibat ulah suporter.

Baca juga: Menpora Malaysia soal Rusuh Suporter Indonesia: Kita Pastikan Keadilan Itu Ada...

Pendukung Timnas Indonesia memberikan dukungan saat pertandingan Kualifikasi Piala Dunia 2022 Grup G Zona Asia di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Kamis (5/9/2019). Tim nasional Indonesia menelan kekalahan dari Malaysia dengan skor 2-3.KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Pendukung Timnas Indonesia memberikan dukungan saat pertandingan Kualifikasi Piala Dunia 2022 Grup G Zona Asia di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Kamis (5/9/2019). Tim nasional Indonesia menelan kekalahan dari Malaysia dengan skor 2-3.

Pertama, saat final Piala Presiden 2018 antara Persija Jakarta vs Bali United pada 17 Februari 2018.

Ketika itu, suporter Persija beramai-ramai masuk ke lapangan dan menjebol pagar tribune seusai pertandingan.

Sebelum laga Indonesia vs Malaysia, pagar tribune SUGBK juga sempat roboh saat laga Persija vs Persib Bandung, 10 Juli.

Kondisi tersebut berbeda dengan tribune SUGBK di masa lalu yang memiliki pagar yang lebih tinggi.

"Pagar tribune yang lama memang lebih tinggi sekitar 25 centimeter," ujar Winarto.

Sebelum direnovasi, tribune SUGBK dibatasi pagar besi yang bentuknya bisa dibilang menyerupai terali kandang hewan buas di kebun binatang.

Meski terkesan kurang nyaman untuk penonton, pagar besi di tribune SUGBK yang lama relatif lebih kokoh dan sulit dipanjat.

Baca juga: Pasca-rusuh Suporter Indonesia, Imam Nahrawi Temui Menpora Malaysia dan Minta Maaf

Pascakericuhan dalam laga Indonesia vs Malaysia, Kompas.com sempat berupaya meminta pendapat pelatih timnas kita, Simon McMenemy mengenai sudah layakkah tribune tanpa pagar di Indonesia.

Sayangnya, McMenemy tak mau berkomentar banyak mengenai hal tersebut.

Menurutnya, suporter Indonesia adalah salah satu suporter terbaik di dunia, namun juga bisa jadi suporter yang terburuk.

"Saya di sini tamu. Saya sudah bangga jadi perwakilan dapat kesempatan jadi pelatih timnas Indonesia," kata McMenemy.

"Namun, buat menjawab apakah sudah layak atau tidak, atau budaya Indonesia seperti apa saya tidak bisa menjawab," ucap pria asal Skotlandia itu.

Pagar pembatas tribune di Stadion Utama Gelora Bung Karno sebelum dibingkar dan direnovasi untuk Asian Games 2018.Bola.com Pagar pembatas tribune di Stadion Utama Gelora Bung Karno sebelum dibingkar dan direnovasi untuk Asian Games 2018.

Berkaca ke Inggris

Pagar pembatas tribune sebenarnya merupakan sesuatu yang sudah lama ditinggalkan di Inggris.

Pascatragedi Hillsborough tahun 1989, FA melakukan standarisasi stadion, yang di dalamnya meniadakan pagar pembatas tribune.

Apa yang telah dilakukan di Inggris tersebut kini justru banyak diikuti negara-negara Eropa lainnya.

Dalam perkembangannya, tak adanya pagar pembatas memang menjadi celah bagi suporter-suporter tak bertanggung jawab.

Saat Derbi Manchester tahun 2012, bek Man United, Rio Ferdinand dilaporkan sempat terluka akibat lemparan koin oleh penonton.

Baca juga: Langgar Kode FIFA Saat Vs Malaysia, Ini Ancaman Sanksi yang Bayangi Indonesia

Sontak, usulan agar peraturan pembatas tribune diberlakukan kembali mengemuka, walaupun dengan material yang lebih ringan.

Usulan bahkan datang dari Asosiasi Pesepak Bola Profesional (PFA).

Walau demikian, usulan tersebut tak pernah direalisasikan.

Pasalnya, usulan tersebut juga mendapat penolakan dari pemain, tak terkecuali dari kapten Man City ketika itu, Vincent Kompany.

Para suporter yang tergencet di pagar pembatas tribune saat semifinal Piala FA antara Liverpool vs Nottingham Forest di Stadion Hillsborough, 15 April 1989.rarehistoricalphotos.com Para suporter yang tergencet di pagar pembatas tribune saat semifinal Piala FA antara Liverpool vs Nottingham Forest di Stadion Hillsborough, 15 April 1989.

Ada ucapan menarik yang dilontarkan Kompany yang sepertinya bisa menjadi bahan renungan bagi suporter Indonesia yang melakukan kericuhan pada Kamis kemarin.

Ketika itu, Kompany menilai suporter adalah manusia yang tidak perlu diperlakukan seperti binatang.

"Fakta bahwa kami dapat menaruh orang-orang di luar kurungan adalah sesuatu yang membuat sepak bola Inggris begitu istimewa," ucap pemain asal Belgia itu.

"Saya tentu saja mengatakan kami memerlukan tindakan pencegahan, namun tetap memperlakukan para penggemar sebagai manusia dan bukan hewan yang harus berada di balik kandang," kata Kompany.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Hasil FP3 MotoGP Italia 2022: Bagnaia Tercepat, Marquez Tak Otomatis ke Q2

Hasil FP3 MotoGP Italia 2022: Bagnaia Tercepat, Marquez Tak Otomatis ke Q2

Motogp
Liverpool Vs Madrid: Kala Klopp Berlagak Lupa Nama Ancelotti demi Ungkit Keajaiban Istanbul…

Liverpool Vs Madrid: Kala Klopp Berlagak Lupa Nama Ancelotti demi Ungkit Keajaiban Istanbul…

Liga Champions
Hasil Drawing Piala AFF Wanita 2022: Indonesia Segrup dengan Malaysia-Australia

Hasil Drawing Piala AFF Wanita 2022: Indonesia Segrup dengan Malaysia-Australia

Liga Indonesia
Pesona Apriyani Rahayu Dapat Pengakuan dari Media Asing Ternama Forbes

Pesona Apriyani Rahayu Dapat Pengakuan dari Media Asing Ternama Forbes

Badminton
Marquez di MotoGP Italia: Jauh dari Dominasi, Akui Sulit Maksimal di Mugello

Marquez di MotoGP Italia: Jauh dari Dominasi, Akui Sulit Maksimal di Mugello

Motogp
Liverpool Vs Real Madrid, Siapa Favorit Juara Liga Champions Versi Juergen Klopp?

Liverpool Vs Real Madrid, Siapa Favorit Juara Liga Champions Versi Juergen Klopp?

Liga Champions
Liverpool Vs Madrid: Trio BBC Raih La Decima, Formula ABC untuk Misi La Decimocuarta

Liverpool Vs Madrid: Trio BBC Raih La Decima, Formula ABC untuk Misi La Decimocuarta

Liga Champions
Liverpool Vs Real Madrid: Hati-hati The Reds, Los Blancos Selalu Menang di Final

Liverpool Vs Real Madrid: Hati-hati The Reds, Los Blancos Selalu Menang di Final

Liga Champions
Link Live Streaming Final Liga Champions Liverpool Vs Madrid Dini Hari Nanti

Link Live Streaming Final Liga Champions Liverpool Vs Madrid Dini Hari Nanti

Liga Champions
Arema FC Totalitas Bangun Training Center Mewah, di Tengah Riuh soal Lapangan Timnas

Arema FC Totalitas Bangun Training Center Mewah, di Tengah Riuh soal Lapangan Timnas

Liga Indonesia
Liverpool Vs Real Madrid, Pasukan Juergen Klopp Sudah Belajar untuk Menang

Liverpool Vs Real Madrid, Pasukan Juergen Klopp Sudah Belajar untuk Menang

Liga Champions
EKSKLUSIF Stefano Pioli: Sepak Bola Progresif AC Milan Siap Picu Aturan Baru

EKSKLUSIF Stefano Pioli: Sepak Bola Progresif AC Milan Siap Picu Aturan Baru

Liga Italia
Gandeng Fakultas Arsitektur ITN Malang, J99 Corp dan Arema FC Gelar Sayembara Desain Training dan Sport Center

Gandeng Fakultas Arsitektur ITN Malang, J99 Corp dan Arema FC Gelar Sayembara Desain Training dan Sport Center

Liga Indonesia
Final Liga Champions Liverpool Vs Madrid, Courtois Siap Mainkan Peran Ganda

Final Liga Champions Liverpool Vs Madrid, Courtois Siap Mainkan Peran Ganda

Liga Champions
Ketika Shin Tae-yong Puji Olah Bola Sandy Walsh dan Jordi Amat...

Ketika Shin Tae-yong Puji Olah Bola Sandy Walsh dan Jordi Amat...

Liga Indonesia
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.