Hamid Awaludin

Mantan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia dan Duta Besar Indonesia untuk Rusia dan Belarusia.

Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan yang Selalu Memberi

Kompas.com - 28/08/2019, 14:17 WIB
Ganda putra Indonesia Hendra Setiawan (kiri) dan Mohammad Ahsan berswafoto dengan menunjukan medali emas saat prosesi penyerahan medali pada Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2019 di St Jakobshalle, Basel, Swiss, Minggu (25/8/2019). Ahsan/Hendra menjadi juara dunia ganda putra usai menang atas ganda putra Jepang Takuro Hoki dan Yugo Kobayashi dengan skor 25-23, 9-21, 21-15. ANTARA FOTO/HAFIDZ MUBARAK AGanda putra Indonesia Hendra Setiawan (kiri) dan Mohammad Ahsan berswafoto dengan menunjukan medali emas saat prosesi penyerahan medali pada Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2019 di St Jakobshalle, Basel, Swiss, Minggu (25/8/2019). Ahsan/Hendra menjadi juara dunia ganda putra usai menang atas ganda putra Jepang Takuro Hoki dan Yugo Kobayashi dengan skor 25-23, 9-21, 21-15.

Keduanya adalah pemain yang sangat disiplin dalam menjalankan latihan. Tidak pernah merepotkan pelatih ataupun asisten pelatih.

Baca juga: Ketika Ahsan/Hendra dkk Diundang Makan Malam oleh Duta Besar

Mereka selalu tunduk dengan aturan main dan pola latihan yang disiapkan. Mereka bukan tipe pemain yang tiba masa hilang akal.

Semuanya dilalui dengan kelapangan dada. Tak pernah beriak. Tak pernah mogok, apalagi mengancam.

Sebagai pemain dengan rentang pengalaman yang begitu panjang, teknik permainan Hendra/Ahsan, tak perlu lagi diragukan.

Teknik menghentikan laju bola secara dadakan, Hendra adalah "dewa".

Pers dunia menjulukinya sebagai "The Silent Killer". Sementara gelegar smes Ahsan dari belakang hingga kini masih terbilang the best and the hardest one.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Di atas segalanya, kedigdayaan Ahsan/Hendra dalam dunia tepuk bulu adalah kompas bagi para atlet lainnya. Mereka tidak pernah menyerah walau tergerogoti usia.

Saya pun teringat film termasyhur di Tanah Air, Laskar Pelangi.Tatkala SD Muhammadiyah Gantong sudah lapuk dimakan usia, murid tinggal 10 orang.

Baca juga: Harapan Ahsan/Hendra dan Susy Susanti soal Pemindahan Ibu Kota

Pak Arfan (Ikranegara), sang kepala sekolah yang sedang memperbaiki kursi-kursi muridnya yang telah patah dan reot, didatangi oleh donatur alakadarnya, Pak Zulkarnaen (Slamet Raharjo). 

"Sudahlah Arfan, sekolahmu ini tutup saja. Sudah tua dan orang tidak berminat lagi," kata Pak Zul.

"Sekolah ini harus dijaga terus, bukan ditutup, meski sudah tua. Sekolah ini selalu memberi, bukan selalu menerima," kata Pak Irfan.

Dalam usia yang tak muda lagi, Hendra/Ahsan masih saja selalu memberi. Mereka memberi arti dan harga diri buat bangsa ini.

Selamat dan terima kasih, The Daddies...

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.