“Sports Betting” dan Fenomena Industri Olahraga

Kompas.com - 12/08/2019, 18:23 WIB
IlustrasiShutterstock Ilustrasi

LIGA Inggris sudah kembali bergulir pada hari Sabtu (10/8/2019) dini hari, di mana Liverpool dan Norwich bertemu pada laga pembuka.

Selama libur musim panas yang berlangsung kurang lebih tiga bulan lamanya, ada banyak transaksi yang terjadi, baik untuk pelatih, pemain, dan juga sponsor.

Ternyata, industri sports betting atau ‘pertaruhan olahraga’ menjadi satu-satunya industri, yang saat ini mendominasi kemitraan klub-klub Liga Inggris. Hanya ada tiga klub saja, yang tidak memiliki kemitraan dengan lembaga perjudian.

Sementara, dari jumlah klub-klub tersebut, separuh dari sisanya akan menampilkan logo perusahaan sports betting itu di jersey utama mereka.

Baca juga: Di Hadapan Atlet NU, Menpora Kembali Bantah Halalkan Judi Bola

 

Tentu saja, hal ini menimbulkan banyak perdebatan mengenai dampak industri perjudian dan terhadap industri olahraga secara global, baik dari sisi komersial maupun dari sisi moral.


Satu kesatuan

Sadar atau tidak, olahraga dan perjudian memang sudah menjadi satu kesatuan. Kultur tersebut sudah dimulai sejak ribuan tahun yang lalu, baik oleh bangsa Yunani sebagai pelopor Olimpiade, maupun oleh orang-orang Romawi.

Pada Abad ke-18, popularitas taruhan ini mulai berkembang seiring dengan banyaknya acara pacuan kuda. Dengan cepat tren perjudian ini menular ke cabang olahraga lain.

Namun, karena dinilai banyak memberi dampak negatif bagi mereka yang berpartisipasi, baru pada pertengahan Abad ke-20, perjudian olahraga tersebut bisa menjadi legal di Las Vegas, AS. Alasannya sederhana, agar lebih banyak pengunjung yang bisa ditarik untuk datang ke Las Vegas.


Teknologi online

Halaman:
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
komentar di artikel lainnya
Close Ads X