Goetze Merasa Kariernya Mati karena Gol di Final Piala Dunia 2014

Kompas.com - 07/08/2019, 10:30 WIB
Pemain Jerman Mario Goetze (kiri) berselebrasi dengan dengan rekan satu tim setelah mencetak gol ke gawang Argentina di laga final Piala Dunia di Maracana Stadium, Rio de Janeiro, 13 Juli 2014. AFP PHOTO / JUAN MABROMATAPemain Jerman Mario Goetze (kiri) berselebrasi dengan dengan rekan satu tim setelah mencetak gol ke gawang Argentina di laga final Piala Dunia di Maracana Stadium, Rio de Janeiro, 13 Juli 2014.
Penulis Alsadad Rudi
|

KOMPAS.com - Mario Goetze adalah pahlawan Jerman pada final Piala Dunia 2014.

Ia menjadi pemain yang mencetak satu-satunya gol dalam pertandingan melawan Argentina di Stadion Maracana, Rio de Janeiro, Brasil.

Namun, pasca-menjuarai Piala Dunia, Goetze mengalami penurunan karier.

Pada 2016, ia kembali klub lamanya, Borussia Dortmund, setelah kalah bersaing mendapatkan tempat di Bayern Muenchen.

Goetze bahkan tak masuk dalam skuad Jerman pada Piala Dunia 2018 lalu.

Goetze menilai gol di final Piala Dunia telah membuatnya berada dalam eksptektasi terlalu besar.

Baca juga: Mario Goetze Buka Peluang Reuni dengan Juergen Klopp di Liverpool

"Begitu saya berhenti bermain, mungkin (gol) itu akan menjadi pengalaman paling berharga, hal pertama yang terlintas dalam pikiran," kata Goetze kepada The Athletic.

"Tidak ada yang lebih luar biasa (daripada gol di final Piala dunia). Namun, untuk karier aktif saya, mungkin itu tidak terlalu bagus, mungkin," ujar Goetze.

Menurut Goetze, gol di final Piala Dunia membuat banyak orang menaruh harapan terlalu besar kepadanya.

"Menjadi terlintas di benak banyak orang bahwa saya adalah orang yang mencetak gol penentu dalam pertandingan yang menentukan sepanjang waktu. Itulah asumsi di luar sana," kata Goetze.

Goetze kini tercatat baru berusia 27 tahun. Kendati demikian, ia mengaku belum punya lagi ambisi untuk meraih tempat kembali di timnas Jerman.

"Prioritas saya adalah mencapai tujuan pribadi saya dengan Dortmund. Saya tidak bisa memengaruhi hal lain. Selalu ada unsur keberuntungan yang terlibat dalam pemanggilan (ke timnas)," ucap Goetze.

Lebih lanjut, Goetze merasa dirinya kini baik-baik saja di bawah pelatih Lucian Favre.

Hal terpenting yang ingin dilakukannya saat ini adalah menikmati bermain sepak bola.

"Dalam pekerjaan apa pun, penting bagi Anda merasa nyaman dan tubuh Anda bekerja, tetapi Anda juga dapat menemukan keseimbangan batin," ujar Goetze.

Baca juga: Mario Goetze Ungkap Sisi Negatif Guardiola Saat Latih Bayern

Pada 2016 silam, Goetze juga sempat jadi sorotan setelah penampilan mengecewakannya di Dortmund.

Saat itu, Goetze mengaku banyak pihak yang memintanya agar berupaya mengembalikan penampilan terbaiknya seperti di masa lalu.

"Apakah saya harus menjadi Mario Goetze ketika berusia 18 tahun?" kata Goetze.

Goetze kemudian menyatakan bahwa ia sudah memiliki 60 caps bersama timnas Jerman.

"Saya telah memenangi lima gelar Bundesliga. Begitu faktanya," kata Goetze.

"Setiap pemain berkembang. Saya tidak akan pernah menjadi Mario Goetze yang dulu," ucap dia.



Sumber GOAL
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X