Klub Indonesia Berpeluang Tampil di Liga Australia

Kompas.com - 14/07/2019, 18:00 WIB
Pemain Perth Glory, Ruben Zadkovich (biru) saat menjegal lawannya dari klub Wellington Phoenix dalam salah satu laga Liga Australia. Akibat tekel keras ini, Ruben langsung mendapat kartu merah hanya 17 detik setelah masuk ke dalam lapangan.IST Pemain Perth Glory, Ruben Zadkovich (biru) saat menjegal lawannya dari klub Wellington Phoenix dalam salah satu laga Liga Australia. Akibat tekel keras ini, Ruben langsung mendapat kartu merah hanya 17 detik setelah masuk ke dalam lapangan.

KOMPAS.com - A-League -kompetisi kasta tertinggi Liga Australia- mempunyai rencana untuk mengajak sejumlah klub di Asia Tenggara.

Upaya tersebut dilakukan demi mendongkrak pemasukan dari hak siar televisi.

Pemilik Perth Glory, Tony Sage, membenarkan kabar tersebut.

“Jika kami punya satu tim di Jakarta, satu lagi di Manila, satu di Kuala Lumpur, dan satu di Singapura, itu akan meningkatkan potensi jumlah penonton yang bisa mencapai 400 juta orang," ujar Sage, dilansir BolaSport.

Baca juga: Klasemen Liga 1, Tira Persikabo Gusur Bali United di Puncak Klasemen

“Itu akan menaikkan pemasukan dari televisi, dan mungkin kami bisa melihat angka 1 miliar dolar Australia dibandingkan 400 juta dolar."

"Ini akan berjalan baik bila dilihat dari zona waktu. Rivalitas di antara kota itu juga sudah ada," sambungnya.

Sage berencana menambah peserta A-League menjadi 14 klub. Saat ini, A-League hanya diikuti 11 klub.

Klub asal Melbourne, Western United, akan mengikuti A-League pada musim mendatang. Kemudian, disusul oleh Macarthur FC pada tahun berikutnya.

Sementara itu, beberapa klub di Canberra dan Tasmania kabarnya juga sudah mengajukan permintaan mengikuti A-League.

Namun, kata Sage, dibandingkan klub di Australia, A-League akan jauh lebih bergairah dan menguntungkan jika diikuti klub di negara tetangga.

“Saya tidak melihat memperluas cakupan A-League di beberapa kota Australia [akan memberikan keuntungan], karena kami saat ini berada di 'titik jenuh'," tutu dia.

Baca juga: Reaksi PT LIB soal Kantor Liga Indonesia yang Disegel Satgas Antimafia

Lebih lanjut, Sage berujar bahwa visi tersebut tidak akan diwujudkan dalam waktu dekat, melainkan bisa saja terjadi dalam 10 tahun ke depan.

Ia tidak memungkiri sejak muncul A-League pada 2005, kasta tertinggi sepak bola Liga Australia itu telah gagal membangun merk yang sama untuk jenis olahraga tradisional seperti Major League Soccer di Amerika Serikat.

Rata-rata penonton yang hadir di stadion pada musim 2018-2019 hanya 10.411 penonton.

Sementara itu, jumlah rata-rata kehadiran tertinggi adalah pada musim 2008 yaitu sejumlah 14.610 penonton.

Sepak bola memang belum menjadi pilihan utama masyarakat Australia saat ini.

Pertandingan rugby atau kriket lebih diminati oleh masyarakat negara asal binatang Kangguru tersebut. (Bagas Reza Murti)

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X