Kompas.com - 11/07/2019, 21:30 WIB
Penyerang Argentina, Lionel Messi, menunduk setelah pemain Paraguay, Richard Sanchez, mencetak gol pada laga grup Copa America 2019 di Stadion Belo Horizonte, Brasil, 20 Juni 2019. Douglas Magno / AFPPenyerang Argentina, Lionel Messi, menunduk setelah pemain Paraguay, Richard Sanchez, mencetak gol pada laga grup Copa America 2019 di Stadion Belo Horizonte, Brasil, 20 Juni 2019.

KOMPAS.com - Tragedi Lionel Messi di Timnas Argentina adalah ia harus mengangkat skuad yang selalu punya defisiensi menonjol di beberapa sektor penting.

Kengototan Lionel Messi untuk tampil di Copa America 2019 juga dipertanyakan mengingat Argentina akan menjadi tuan rumah Copa America 2020 bersama Kolombia.

Dua poin tersebut diungkapkan oleh Tim Vickery, pandit sepak bola Amerika Latin di acara BBC Radio 5 Live.

Timnas Argentina kalah dari tuan rumah Brasil pada babak semifinal Copa America 2019. 

Hadiah hiburan menjadi tim peringkat ketiga setelah mengalahkan Chile pun tak bisa mengangkat kekecewaan.

Baca Juga: Empat Atlet Indonesia Selain Joe Taslim yang Terjun ke Dunia Hiburan

Vickery mengungkapkan bahwa kemandekan prestasi ini terjadi karena perkembangan sepak bola usia junior di Timnas Argentina yang tak lagi bisa seperti dulu.

"Timnas Argentina pernah menggondol lima dari tujuh gelar Piala Dunia U-20 antara 1995 dan 2007. Namun, sejak Piala Dunia 2006 mereka menderita dengan merosotnya prestasi tim junior," ujarnya.

"Alhasil, Argentina kesulitan menemukan pemain-pemain top."

Tim Vickery juga mengatakan bagaimana Piala Dunia 2006 menjadi saksi tim terkuat Argentina dalam dua dekade terakhir walau pasukan Jose Pekerman harus kalah adu penalti di perempat final kontra tuan rumah Jerman.

Baca Juga: Menjadi Sub-Zero, Joe Taslim Diharapkan Bertahan Hidup Lebih Lama dari Dua Versi Sebelumnya

Tim Argentina ketika itu diperkuat antara lain oleh Roberto Ayala (33 tahun), Esteban Cambiasso (25 tahun), Javier Mascherano (22), Hernan Crespo (30), Maxi Rodriguez (25), dan Lionel Messi (18) yang memainkan turnamen internasional pertamanya bersama Albiceleste.

"Ketika itu, Argentina seharusnya bisa menang kontra Jerman. Mereka hanya kurang beruntung dalam laga itu," ujar pria yang telah menjadi jurnalis sejak 1994 tersebut.

Selain apa yang dikatakan Vickery, sebenarnya ada satu lagi tim hebat Argentina di level junior, yakni skuad pemenang medali emas di Olimpiade Beijing 2008.

Lionel Messi, bersama pemain-pemain seperti Pablo Zabaleta, Angel Di Maria, Juan Roman Riquelme, Sergio Aguero, dan Ever Banega mengalahkan Nigeria di final.

Akan tetapi, tim hebat terakhir itu pun tak mampu menyumbang pemain mumpuni terutama di sektor kiper dan lini belakang, ke skuad senior.

Sang pandit mencontohkan dua momen kunci di mana keterbatasan pemain belakang Argentina terekspos di Copa America 2019 yakni ketika melawan Paraguay di fase grup dan saat menghadapi Brasil.

Baca Juga: Masih Trauma, Andy Murray Belum Mau Kembali Bermain di Sektor Tunggal

"Sebelum memberi assist, penyerang Paraguay, Miguel Almiron, berlari lebih cepat dengan menggiring bola ketimbang para bek Argentina yang lari tanpa bola," lanjutnya. "Pada laga semifinal lawan Brasil, Gabriel Jesus bisa menerobos melewati dua bek tengah Argentina dengan mudahnya."

Baginya, Timnas Argentina sangat membutuhkan dua bek tengah baru dan seorang kiper anyar. Menurut Vickery, di sini letak tragedi Lionel Messi bersama Timnas Argentina.

"Ekspektasi kepadanya besar untuk mengangkat tim yang selalu punya defisiensi di sektor-sektor tersebut," tutur pria yang sudah 20 tahun lebih tinggal di Brasil tersebut.

Ia pun lalu ditanya mengenai keuntungan apa yang akan dirasakan Timnas Argentina apabila Lionel Messi memutuskan pensiun suatu hari nanti.

Menurutnya, Lionel Messi adalah solusi dan bukan bagian dari masalah. Ia mencontohkan bahwa setelah Piala Dunia 2018, Albiceleste selalu kesulitan dan hanya bisa menang tipis apabila Messi absen.

Baca Juga: Galacticos Dunia Basket! Real Madrid Rekrut Pemain Terbaik Liga Spanyol

Ia mengatakan Timnas Argentina bisa jadi gagal lolos ke Piala Dunia 2018 apabila bukan karena magis Lionel Messi.

Hanya, ia mempertanyakan kenapa penyerang asal Barcelona itu harus turun pada Copa America 2019 dengan tim sedang dalam transisi dan dalam kendali Lionel Scaloni, pelatih interim.

Baginya, Lionel Messi lebih baik menghemat bensin di tangki untuk bersiap menghadapi Copa America 2020 saat Argentina akan menjadi tuan rumah bersama dengan Kolombia.

"Saya sempat berpikir kenapa ia harus turun di turnamen ini? Akan ada Copa America lagi 12 bulan dari sekarang, kenapa repot-repot sekarang?" tuturnya.

Menurut Vickery, jawabannya adalah karena Lionel Messi ingin menunjukkan diri sebagai pemimpin di skuad muda Timnas Argentina, terutama dengan sahabatnya, Javier Mascherano, pensiun.

Baca Juga: Barcelona Mandek dengan Neymar, Tim Basket Barca Berhasil Rekrut Eks Bintang Real Madrid

"Lionel Messi ingin step up sebagai pemimpin vokal dan komunikatif. Semua wartawan Argentina yang meliput di Copa America 2019 mengatakan kalau Lionel Messi menjadi lebih sering berdialog dengan rekan-rekannya di hotel," ujarnya.

"Di lapangan, ia selalu berkomunikasi dan menyanyi lagu kebangsaan dengan lantang. Ia berbicara panjang lebar dengan para wartawan di Mixed Zone. Ini Messi yang vokal dan baru."

Bahkan, saking vokalnya Lionel Messi kini terlibat masalah dengan menuding Conmebol korupsi.

Lionel Messi mengkritik Federasi Sepak Bola Amerika Selatan atau Conmebol usai Timnas Argentina kalah 0-2 melawan Timnas Brasil pada babak semifinal.

Messi menganggap Conmebol berkonspirasi untuk memenangkan Timnas Brasil pada Copa America 2019.

"Saya pikir turnamen ini memang diatur agar Brasil menjadi juara," ucap Messi di ESPN.

"Saya harap wasit dan petugas VAR tak kembali curang sehingga Peru bisa juara, meskipun saya pikir itu sulit," kata Messi menambahkan.

Baca Juga: Kehilangan 8.400 Poin, Hafiz/Gloria Harus Turun Ke Posisi Ke-8 Dunia

Messi saat ini harus siap mendapat hukuman berat setelah kritik pedas yang ia layangkan.

Dilansir dari Marca, Messi bisa mendapat hukuman larangan tampil lebih dari satu lagi karena ucapannya tersebut.

Messi saat ini dipastikan sudah akan mendapat hukuman larangan tampil dalam satu kali pertandingan setelah kartu merah yang ia dapatkan pada laga perebutan tempat ketiga melawan timnas Cile.

Sebelumnya, Messi pernah mendapat hukuman serupa pada 2017 saat mengkritik wasit Emerson Augusto do Carvalho.

Messi saat itu dijatuhi hukuman larangan tampil selama empat pertandingan, meski akhirnya dikurangi hingga menjadi satu kali saja.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.