Kompas.com - 28/06/2019, 22:20 WIB
Suporter Brasil menyaksikan laga fase grup Piala Dunia 2018 antara Timnas Brasil dan Kosta Rika di Stadion Krestovsky, St Petersburg, Rusia, pada 22 Juni 2018. HERKA YANIS PANGARIBOWO/TABLOID BOLASuporter Brasil menyaksikan laga fase grup Piala Dunia 2018 antara Timnas Brasil dan Kosta Rika di Stadion Krestovsky, St Petersburg, Rusia, pada 22 Juni 2018.
Penulis Alsadad Rudi
|

KOMPAS.com - Konfederasi Sepak Bola Amerika Selatan (Conmebol) menjatuhkan denda mencapai 15.000 dolar AS (sekitar Rp 211 miliar) kepada Federasi Brasil, CBF.

Denda diberikan menyusul adanya nyanyian bernada homofobia di beberapa laga timnas Brasil di Copa America 2019.

Kejadian pertama dilaporkan terjadi di laga Brasil vs Bolivia, 15 Juni lalu.

Kiper Bolivia, Carlos Lampe mengaku mendengar nyanyian-nyanyian homofobia yang diarahkan kepadanya.

Pelecehan serupa kembali terdengar saat perempat final antara Brasil vs Paraguay pada Kamis (28/6/2019) atau Jumat pagi WIB.

Baca juga: Brasil Vs Paraguay, Pelatih Samba Keluhkan Stadion di Negara Sendiri

Di sepak bola Amerika Selatan, nyanyian homofobia sering terdengar ketika kiper berlari untuk mengambil tendangan gawang.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Homofobia termasuk kejadian yang marak terjadi di Brasil.

Belum lama ini, Mahkamah Agung Brasil menggelar pemungutan suara untuk kriminalisasi homofobia.

Sebanyak delapan dari 11 hakim Mahkamah Federal Agung memberikan suara untuk mendukung tindakan kriminalisasi homofobia.

Mereka mengklasifikasikan homofobia sebagai kejahatan yang sama dengan rasisme.

Baca juga: Presiden Brasil: Kriminalisasi Homofobia Justru Rugikan Kaum Gay

Hasil itu menjadi sebuah langkah penting bagi kelompok minoritas seksual di salah satu negara paling berbahaya bagi kaum LGBT itu.

Keputusan yang diambil Mahkamah Agung telah membawa Brasil menjadi negara yang semakin memperhatikan dan mendukung hak-hak LGBT.

"Segala bentuk prasangka adalah sebuah kekerasan. Semua diskriminasi adalah penyebab penderitaan," kata Hakim Carmin Luzia, yang memberikan suara mendukung tindakan itu.

"Namun, saya telah belajar bahwa beberapa prasangka dapat menyebabkan lebih banyak penderitaan daripada yang lain," katanya, dikutip dari AFP.

Menurut organisasi non-pemerintah, Grupo Gay de Bahia, yang telah melakukan pendataan statistik nasional selama empat dekate terakhir, mencatat adanya 387 kasus pembunuhan dan 58 kasus bunuh diri yang terkait homotransfobia selama 2017.

Baca juga: Homofobia Bisa Menandakan Adanya Gangguan Mental

Jumlah itu meningkat hingga 30 persen jika dibandingkan tahun 2016.

Angka tersebut juga menunjukkan bahwa ada satu kematian LGBT karena bunuh diri ataupun pembunuhan setiap 19 jam di Brasil.

Pengadilan tertinggi negara Brasil itu menganggap kekuasaan legislatif telah bertindak abai karena tidak melarang diskriminasi semacam itu.

Namun, tiga hakim mahkamah federal agung yang menentang menyebut bahwa tindakan mengkriminalkan sesuatu, termasuki homofobia, merupakan tugas dari kongres, bukan pengadilan.

"Hanya kongres yang dapat mengesahkan (definisi) kejahatan dan hukuman. Hanya kongres yang dapat mengeluarkan undang-undang tentang tindak pidana," ujar hakim Ricardo Lewandowski.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.