Vincent Kompany Akan Jajal Tantangan Besar, Persiapan untuk Man City

Kompas.com - 20/05/2019, 20:21 WIB
Ekspresi Vincent Kompany seusai melanggar Mohamed Salah pada pertandingan Manchester City vs Liverpool di Stadion Etihad dalam lanjutan Liga Inggris, 3 Januari 2019. AFP/OLI SCARFFEkspresi Vincent Kompany seusai melanggar Mohamed Salah pada pertandingan Manchester City vs Liverpool di Stadion Etihad dalam lanjutan Liga Inggris, 3 Januari 2019.

KOMPAS.com - Kapten Manchester City, Vincent Kompany, secara resmi akan meninggalkan klub pada akhir musim untuk memulai petualangan sebagai player-manager di klub pertamanya, Anderlecht.

Di kubu Belgia tersebut, Kompany bakal menemui tantangan baru yang bisa menempanya sebagai pelatih. Anderlecht tengah dalam krisis.

Ya, Vincent Kompany tidak memakai hari-hari terakhir sebagai pemain untuk merumput di level kompetisi lebih rendah ke negara-negara yang bisa menjamin uang pensiunnya, seperti ke Timur Tengah atau China.

Sesuai karakter Vincent Kompany, ia pergi untuk mencari tantangan baru dalam hidupnya.

Bek tangguh berusia 33 tahun itu bakal menjadi pemain-pelatih di RSC Anderlecht, klub pertamanya, dengan durasi ikatan kerja selama tiga tahun.

Baca Juga: Guardiola Jadi Manajer Ketiga asal Spanyol yang Sukses Boyong Piala FA

Anderlecht baru saja finis di peringkat keenam Liga Belgia, posisi terburuk juara Belgia 34 kali itu setelah Perang Dunia Kedua.

Musim depan akan menjadi pertama kalinya dalam 56 tahun Anderlecht gagal ke kompetisi antarklub Eropa.

Kompany akan meneruskan pekerjaan Fred Rutten yang dipecat bulan lalu sementara nasib Frank Arnesen, sang direktur teknik yang baru didatangkan pada awal 2019, juga dikabarkan  mengambang. 

Arnesen adalah sosok yang tak asing bagi penggemar Liga Inggris. Ia pernah mengemban jabatan sebagai direktur olahraga Tottenham Hotspur (2004-2005) dan Chelsea (2009-2011).

Artinya, aktivitas dalam bursa transfer akan goyah seiring ketidakjelasan nasib Arnesen.

Menurut pandit sepak bola Belgia, Kristof Terreur, kehadiran Kompany setidaknya memberikan pemilik klub, Marc Coucke, ruang bernafas setelah ia menerima terpaan kritik dari para fans Anderlecht akibat penampilan buruk klub musim ini.

Baca Juga: Tinggalkan Manchester City, Vincent Kompany Jadi Pemain-Pelatih Anderlecht

Selain performa buruk di lapangan, bulan lalu kantor Anderlecht digerebek polisi sebagai bagian investigasi tindakan pencucian uang dan aktivitas ilegal lain.

Awal minggu ini mereka mendapat denda 200.000 franc Swiss atau atau sekitar Rp 3 miliar dari FIFA setelah melanggar peraturan badan tertinggi sepak bola dunia menyangkut transfer empat pemain U-18 tahun.

Anderlecht juga telah dihukum Pro League, penyelenggara Liga Belgia, setelah terjadi kerusuhan suporter dalam laga kontra Standard Liege pada medio April yang berujung pembubaran pertandingan setelah hanya setengah jam berlalu.

Vincent Kompany berkata bahwa ia akan mendapat dukungan penuh dari pemilik klub untuk menjalankan tugasnya dan membenahi situasi di dalam lapangan.

Baca juga: MotoGP, Rossi Ingin Belajar dari Quartararo

"Kami mengadakan beberapa pertemuan dan mereka menjelaskan banyak hal. Coucke menjanjikan saya dukungan penuh: Waktu, bujet, lingkungan bekerja kondusif, staff, dan pelatih," ujar Kompany seperti dikutip KOMPAS.com dari Footnews.be.

Ia akan menekel problem demi problem di Anderlecht dengan membawa beberapa staf pelatih dari Manchester City.

Media Belgia, Het Laatste Nieuw, melaporkan bahwa salah satu yang akan dibawa Kompany adalah Sam Erith, Head of Sports Science di City. Erith telah menjadi manajer performa di Man City selama 8 tahun terakhir.

Sebelum itu, ia memegang jabatan serupa di Tottenham Hotspur dan menjadi bagian staff teknis timnas Inggris pada Euro 2016.

Michael Verschueren, direktur olahraga Anderlecht, mengatakan bahwa klubnya "melakukan hal yang semua orang kira mustahil". Ia membanggakan diri bahwa Anderlecht berpikir di luar kotak dengan mendatangkan Kompany.

Namun, media lokal Belgia mengatakan bahwa Anderlecht harus was-was dengan perjudian Kompany. De Morgen mengutarakan tentang kebijakan menjadikan Kompany pemain sekaligus duduk di jajaran pelatih.

Vincent Kompany lebih cepat menyundul bola dibandingkan Jamie Vardy pada pertandingan Manchester City vs Leicester City dalam lanjutan Liga Inggris di Stadion Etihad, 6 Mei 2019. AFP/OLI SCARFF Vincent Kompany lebih cepat menyundul bola dibandingkan Jamie Vardy pada pertandingan Manchester City vs Leicester City dalam lanjutan Liga Inggris di Stadion Etihad, 6 Mei 2019.

"Pemain-pelatih adalah konsep dari masa lalu. Apakah ide ini bisa disandingkan dengan kebutuhan sepak bola modern?" tanya editorial di De Morgen.

"Kompany akan mencari tahu jawaban itu semua di Anderlecht, jauh dari klub yang tanpa intrik. Kekacauan menghampiri klub sejak Marc Coucke datang," lanjut mereka.

Baca Juga: Egy Maulana Vikri Tetap Dapat Medali meski Lechia Gdansk Tak Juarai Liga Polandia

De Morgen hanya mengkhawatirkan satu hal: Bahwa kegigihan Vincent Kompany akan membuatnya bekerja dan berusaha terlalu keras.

"Pekerjaan dia akan menyeluruh: Mengatur sesi latihan, menganalisis video, menyiapkan tim, menentukan taktik berdasarkan permainan tim, memantau lawan. Kompany juga akan memberi arahan ke klub dan memainkan gaya sepak bola yang ia inginkan," tuturnya.

"Jika dulu Kompany bisa bersantai setelah pertandingan, kali ini ia akan berada di kantornya menganalisis sesi latihan, pertandingan, dan lawan," lanjut mereka.

Alhasil, apa yang Vincent Kompany pelajari di klub masa kecilnya itu bisa menjadi modal berharga baginya untuk menerima tantangan di Manchester City kemudian hari, jika ia dibutuhkan klub.

Kata legenda sangat cocok untuk menggambarkan Vincent Kompany di Manchester City.

Kompany berada di pusat masa transisi City, ia adalah salah satu pemain pertama yang datang di bawah rezim Abu Dhabi.

Ia merayakan semua trofi yang dimenangkan Man City dalam satu dekade terakhir.

Jika semua lancar, Vincent Kompany akan mengakumulasi pengalaman melatih di klub yang secara reguler (seharusnya) menjadi langganan Liga Champions.

Setelah kontraknya berakhir tiga tahun dari sekarang, Kompany akan berusia 36 tahun. Ia hanya akan berusia setahun lebih muda dari ketika Pep Guardiola menukangi Barcelona pertama kali pada 2008.

Para fans Man City pun pasti akan berharap bahwa apabila hari itu datang, ia akan siap dan memberikan dampak sama besar ke Man City dengan ketika Guardiola melatih Barcelona.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X