Mendengarkan Danurwindo, dari Birmingham-London Kembali ke Birmingham

Kompas.com - 20/05/2019, 05:50 WIB
Pemain Primavera-Baretti, Yeyen Tumena (paling kanan), sedang berbicang dengan Danurwindo sementara Gianluca Zambrotta tengah bersiap menghadapi para wartawan di Hotel JW Marriott, Jakarta, pada Jumat (20/5/2016). FERNANDO RANDY/JUARA.NETPemain Primavera-Baretti, Yeyen Tumena (paling kanan), sedang berbicang dengan Danurwindo sementara Gianluca Zambrotta tengah bersiap menghadapi para wartawan di Hotel JW Marriott, Jakarta, pada Jumat (20/5/2016).
|

Danurwindo memang datang dalam rangka memantau perkembangan para pemain Garuda Select.

PSSI Primavera

Dalam perjalanan, Danurwindo bercerita soal beberapa kisahnya di dunia sepak bola. Danurwindo memang bukan sosok sembarangan dalam persepakbolaan Tanah Air.

Anda yang mengenal mantan pesepak bola kenamaan Indonesia, seperti Kurniawan Dwi Yulianto, Bima Sakti, Kurnia Sandy, Yeyen Tumena, Anang Maruf, Supriyono, Aples Tecuari, dan lainnya, layak tahu sosok di belakangnya, ya, dia adalah Danurwindo.

Bersama Romano Matte, Danurwindo pernah melatih para pemain tersebut dalam program PSSI Primavera di Italia pada medio 1990-an, tepatnya pada 1993.

Bahkan, saat itu, beberapa nama, seperti Kurniawan, Bima Sakti, dan Kurnia Sandy, sempat memikat klub Liga Italia, Sampdoria.

Kini, Danurwindo tetap fokus dalam pengembangan sepak bola Indonesia. Menjabat sebagai Direktur Teknik PSSI, sosok yang kini berusia 68 tahun itu pun berperan penting dalam pembentukan kurikulum Filosofi Sepak Bola Indonesia atau kerap disingkat menjadi Filanesia.

Baca juga: PSSI Libatkan Pelatih Timnas untuk Sempurnakan Filanesia

"Saat itu, saya sempat menjadi sopir, menyopiri para pemain, untuk berangkat dari tempat tinggal menuju tempat latihan," kenang Danurwindo soal PSSI Primavera, dalam perjalanan menuju London.

"Kurniawan menarik perhatian, Ilham Romadhona (eks Primavera yang sekarang menjadi pelatih Barito Putera U-16 dan mengikuti program Garuda Select), badannya kecil, tetapi dia paling berani," ucap sosok yang pernah melatih timnas Indonesia, Arseto Solo, Persija Jakarta, dan Persebaya Surabaya itu.

Sekitar 3 hingga 4 jam kami lalui dalam perjalanan menuju London, tepatnya daerah Cobham, dari Birmingham. Kondisi lalu lintas tak sepenuhnya lancar, kadang ada macet, meski tak lama, mengingat hari itu adalah Jumat, menjelang akhir pekan.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X