Kram Saat Lari Jangan Pakai Semprotan Pereda Nyeri atau Es Batu

Kompas.com - 15/05/2019, 05:40 WIB
Sejumlah pelari mengambil gelas berisi menuman pada Bank Jateng Borobudur Marathon (BJBM) 2017 di Taman Wisata Candi (TWC) Borobduur, Magelang, Jateng, Minggu (19/11). Sebanyak 8.754 peserta dari dalam dan luar negeri mengikuti BJBM yang meombakan tiga kategori Full Marathon (42 km), Half Marathon (21 km) dan 10 K (10 km) dengan total hadiah sebesar  Rp 2,3 miliar. ANTARA FOTO/Anis Efizudin/ama/17ANTARA FOTO/ANIS EFIZUDIN Sejumlah pelari mengambil gelas berisi menuman pada Bank Jateng Borobudur Marathon (BJBM) 2017 di Taman Wisata Candi (TWC) Borobduur, Magelang, Jateng, Minggu (19/11). Sebanyak 8.754 peserta dari dalam dan luar negeri mengikuti BJBM yang meombakan tiga kategori Full Marathon (42 km), Half Marathon (21 km) dan 10 K (10 km) dengan total hadiah sebesar Rp 2,3 miliar. ANTARA FOTO/Anis Efizudin/ama/17

KOMPAS.com - Berbagai diskusi terkait olahraga lari tersaji dalam acara Borobudur Marathon Radio Live Tour yang diselenggarakan di Tartine French Bistro, FX Sudirman, Jakarta, Selasa (15/5/2019).

Salah satu hal menarik yang dibahas dalam kegiatan tersebut yakni penanganan kram otot yang terjadi saat lari maraton.

Selama ini, banyak pelari yang menangani kram otot kaki memakai semprotan pereda rasa nyeri atau merendam kaki dengan es batu.

Baca juga: Cedera Lutut, Serena Mundur dari Italian Open

Namun, Riefa Istamar, seorang pegiat olahraga lari yang menjadi narasumber acara, menegaskan bahwa kedua cara itu tidak dibenarkan.

"Kram itu jangan disemprot pakai pereda nyeri atau berendam pakai air es batu. Cara yang benar itu cukup stretching (peregangan)," kata Riefa.

"Kalau perlu, seseorang yang kram otot kaki melakukan stretching dan mendiamkan kakinya selama 2-3 menit. Berhenti saja, tidak usah dipaksa lari sampai ototnya sudah siap untuk berlari lagi," tutur dia.

Selain soal kram otot, Borobudur Marathon Radio Live Tour juga membahas tentang asupan nutrisi yang benar setelah lari jarak jauh.

Topik itu dibahas secara detail oleh dr Andi Kurniawan. Ia menyatakan bahwa pelari membutuhkan karbohidrat dan protein untuk mengembalikan sel-sel yang rusak usai berlari.

Berbagai tips dan edukasi yang dibahas pada Borobudur Marathon Radio Live Tour diharapkan bisa bermanfaat untuk para penggemar olahraga lari, khususnya lari maraton.

Terlebih lagi, pada 17 November 2019 mendatang, ajang Borobudur Marathon akan kembali diselenggarakan.

Baca juga: PSG Siapkan Dana Besar Untuk Trio Madrid

Borobudur Marathon sendiri mulai dirintis sejak 2012 dan telah mendapatkan sejumlah penghargaan bergengsi di dunia lari nasional.

Ajang yang telah diikuti 10.000 peserta, termasuk 205 pelari dari 30 negara ini sudah menjadi bagian penting dalam pengembangan sektor pariwisata Magelang maupun Jawa Tengah.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X