Kemenpora Minta Pemuda Aktif di Bidang Olahraga

Kompas.com - 11/05/2019, 18:59 WIB
Deputi Pengembangan Pemuda Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Asrorun Niam Sholeh mengatakan, jika dibandingkan dengan era kemerdekaan, hingga beberapa tahun lalu, partisipasi pemuda di dunia politik sangatlah besar. Deputi Pengembangan Pemuda Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Asrorun Niam Sholeh mengatakan, jika dibandingkan dengan era kemerdekaan, hingga beberapa tahun lalu, partisipasi pemuda di dunia politik sangatlah besar.


JAKARTA, Kompas.com - Ruang partisipasi pemuda dalam membangun bangsa sudah mulai bergeser, yakni dari ruang partisipasi politik ke ruang partisipasi lain yang lebih beragam, seperti ekonomi, budaya, teknologi, olahraga dan lain sebagainya.

Deputi Pengembangan Pemuda Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Asrorun Niam Sholeh mengatakan, jika dibandingkan dengan era kemerdekaan, hingga beberapa tahun lalu, partisipasi pemuda di dunia politik sangatlah besar. Namun katanya bukan berarti mereka tidak berkontribusi bagi bangsa.

"Pada satu sisi peranan pemuda cenderung lambat di dunia politik, tapi di sisi lain dunia inovasi, ekonomi, teknologi dan lain-lain anak muda justru yang menguasai," sebut Niam dalam diskusi bertajuk "Pemuda, Mana Suaramu?" di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu, 11/5/19.

Peranan pemuda itu sudah pasti mampu mengangkat ekonomi bangsa. Maka dari itu, Niam kurang setuju dengan anggapan yang mengatakan bahwa pemuda zaman sekarang lebih mementingkan dirinya sendiri ketimbang kepentingan bangsa. "Kita hanya melihat pergeseran partisipasi kaum muda," jelasnya.

Niam mengakui, peran politik kaum muda di ruang-ruang publik relatif rendah di banding awal kemerdekaan. "Kalau dulu Sudirman meminpin gerilya di usia 25 tahun, Soekarno mendirikan PNI di usia 26 tahun dan menjadi Presiden usia 44 tahun, Bung Tomo menggerakkan heroisme yang jadi tonggak hari pahlawan usia 25 tahun, juga Kyai Wahid Hasyim jadi Ketua MIAI umur 26 tahun. Aktor politik sekarang masih didominasi kaum tua. Kaum muda belum banyak yang menjadi elit. Karenanya relevan sekali komitmen Presiden untuk membuka ruang dan kesempatan kaum muda", tegas mantan aktifis mahasiswa 98 ini.

Lebih lanjut Niam menjelaskan, Pemerintah terus berikhtiar untuk melakukan penyesuaian dg tuntutan kebutuhan kaum muda milenial, termasuk percepatan pelibatan kaum muda dalam ruang publik. Kepemimpinan, kepeloporan, dan kemandirian kaum muda yang salah satunya melalui kewirausahaan kaum muda, adalah kunci dalam wujudkan bangsa Indonesia yg mandiri, unggul, dan berdaya saing.

"Organisasi kepemudaan perlu merespon perubahan tsb dg tetap menjaga komitmen kebangsaan, komitmen keberagaman, komitmen kebersamaan, komitmen persatuan, dan komitmen pada NKRI. Ini sebagauli mabda' ataylu batu pijak dalam kehidupan berbangsa", jelasnya.

Diskusi itu dihadiri oleh unsur pemuda dan media. Di samping Niam, narasumber lain dalam diskusi tersebut Roy Kusuma Jaya Ketua Umum PP GMNI, Saddam Jihad Ketua Umum PB HMI, Ahmad Rofiq politisi muda Sekretaris Jenderal Perindo serta Hasanudin Ali CEO Alvara Reseacrh Center.





Close Ads X